KulKulBali.co

[#JBK2014] Mengatasnamakan Persatuan Demi Kepentingan Pribadi yang Berujung Kerusuhan

dalam Kabar > Denpasar

👤3585 read komentar 🕔09 May 2014
[#JBK2014] Mengatasnamakan Persatuan Demi Kepentingan Pribadi yang Berujung Kerusuhan   - kulkulbali.co

Tulisan berani ini karya Komang Manik, finalis Jegeg Bagus Klungkung 2014. Ia menyuarakan apa yang orang lain hanya gumamkan dalam hati: tentang ormas-ormas yang marak spanduknya seantero Bali. Apa saya sudah bilang kalau penulisnya wanita?

kulkulbali  

 

Organisasi massa, pernah mendengar? Yup, organisasi massa atau yang biasa disingkat ormas ini merupakan perkumpulan dari beberapa orang yang memiliki kesamaan tujuan maupun pandangan hidup baik dari segi sosial, agama, politik, pendidikan, maupun ekonomi. Kehadiran ormas di setiap daerah bak jamur di musim hujan, sangat cepat laju pertumbuhan dan perkembangannya. Tak terkecuali pulau yang selalu diserbu tiap tahunnya sebagai destinasi wisata favorit, yaitu Pulau Bali.

Kemunculan ormas di Pulau Bali dimulai pada tahun 1943 dengan nama Seinendan atau Perkumpulan Pemuda. Organisasi ini masih berada di bawah kendali jawatan propaganda Jepang, Sendenbu. Seinandan merekrut pria berusia antara 12-30 tahun yang nantinya akan difungsikan untuk melindungi desa dan sebagai pasukan keamanan lokal. Munculnya ormas pertama di Bali tersebut diiringi dengan kemunculan ormas-ormas baru yang mengatasnamakan perkumpulan pemuda di Bali, yang bertujuan menjaga eksistensi Bali dengan memberikan pengamanan dan perlindungan bagi setiap pengunjung dan warga masyarakat Bali.

Namun, benarkah semanis itu wujud nyata ormas-ormas di Bali?

Apabila kita menelusuri jalanan di pulau dewata ini maka akan terpampang jelas baliho berukuran besar yang didominasi warna hitam menunjukkan tampang sangar dari tokoh-tokoh petinggi ormas kepemudaan di Bali. Baik dari sekedar mengucapkan selamat hari raya, menampilkan anggota mereka, atau menunjukkan simbol dari ormas mereka. Baliho-baliho yang terpampang tersebut seakan menjadi trend masa kini khususnya di Bali, bahkan jika ditelusuri sampai daerah pedasaan di pulau seribu pura ini pun terdapat baliho-baliho identitas ormas tersebut.

Akibat menjamurnya ormas di Bali, tidak hanya satu ormas yang memasang baliho mereka di setiap sudut jalan tetapi sampai dua bahkan lebih ormas berusaha memenuhi setiap sudut perempatan dengan baliho seakan berperang menunjukkan siapa ormas terhebat yang mampu memasang baliho dengan ukuran lebih besar dan lebih terkesan wah. Jika perang baliho sudah terjadi, maka perang dalam arti sesungguhnya bisa saja terjadi, kan?

Konon mereka yang wajahnya terpampang di baliho tersebutlah pelindung-pelindung Bali. Mereka menyebutkan bahwa diri mereka adalah persatuan pemuda Bali yang akan menjaga Bali tetap ajeg dan terbebas dari ancaman serta kerusuhan. Namun jauh panggang dari api, justru ormas-ormas tersebutlah yang mengibarkan bendera permusuhan antara sesama saudara Bali.

Kemunculan ormas yang semakin membludak di Bali kini meresahkan masyarakat. Betapa tidak, mencuatnya kasus-kasus bentrokan antar ormas yang menimbulkan korban menjadi salah satu bukti kebrutalan yang meresahkan masyarakat. Contohnya saja kasus yang terjadi di daerah Denpasar, ratusan massa yang berasal dari dua ormas ternama yakni Baladika dan Laskar Bali, terlibat keributan di sekitar pertigaan Jalan Mahenderadatta atau dikenal dengan Jalan Kargo tepatnya di depan Pasar Batu Kandik, Denpasar sekitar pukul 13.00 Wita dan menyebabkan satu orang luka parah.

Seperti yang dilansir kepolisian, kericuhan tersebut dipicu oleh masalah pribadi salah satu anggota ormas tersebut. Masalah pribadi selalu menjadi alasan utama dari setiap kericuhan antar ormas. Seakan tidak ingin menyelesaikan sendiri, anggota ormas tersebut selalu ‘ngalih saing’ untuk membela mereka dan menunjukkan solidaritas antar sesama anggota ormas satu dengan ormas lain. Memamerkan kekuatan berujung kericuhan dengan dalih ‘melanin timpal’.

Hanya karena kesalahpahaman satu orang saja berujung kericuhan. Jika memang ormas di Bali bertujuan untuk melindungi dan membuat masyarakat Bali merasa aman, bukankah kesalahpahaman tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan? Bukankah sesama ormas di Bali harus saling mendukung demi terciptanya kedamaian di pulau Bali tercinta ini?

Ilustrasi: Merdeka.com/Arie Basuki

Ormas yang katanya menjunjung tinggi persatuan dan kedamaian ini malah membuat kericuhan dimana-mana. Mereka yang selalu ingin dihormati dan disegani selalu menampilkan wajah sangar dengan pakaian serba hitam yang membuat masyarakat merasa takut terhadap para anggota ormas. Padahal mereka seharusnya menciptakan keramahan dan sopan santun terhadap anggota masyarakat yang kabarnya akan dilindungi dengan kehadiran mereka. Tidak hanya itu, ormas di Bali kerap kali mengadakan konvoi besar-besaran menggunakan sepeda motor sambil membawa bendera kebesaran ormas mereka. Jelas hal ini akan mengganggu lalu lintas bahkan menimbulkan suara bising yang dapat mengganggu masyarakat. Siapa yang berani menghalangi jalan mereka akan diberi pelajaran dengan cara mereka. Sebagai sebuah organisasi masa, haruskah mereka menganggu ketertiban lalu lintas? Haruskan mereka menunjukkan keberkuasaan mereka? Haruskan mereka menciptakan jarak dengan masyarakat?

Sifat arogan dan sok kuasa ormas tersebut tentunya menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Bali. Ormas-ormas di Bali diharapkan agar bisa merubah diri menjadi ormas yang memang sejatinya ada untuk melindungi masyarakat bukan sekedar memperlihatkan otot menunjukkan bahwa dirinya kuat. Dengan banyaknya ormas di Bali harusnya mereka dapat saling bersatu bukan saling menjatuhkan. Dengan lambang senjata dewa yang umum dipakai ormas di Bali diharapkan mereka memang mampu menunjukkan karakter melindungi sebagai dewa bukannya malah menunjukkan sikap premanisme mereka. Diharapkan juga ormas yang sudah ada ini dapat membentengi kekerasan yang marak terjadi dan dapat menunjukkan senyum ramah tamah kepada masyarakat agar masyarakat yang akan dilindungi dapat percaya akan kemampuan ormas tersebut untuk melindungi mereka. Keramah tamahan juga dapat mengembangkan kerja sama antara ormas dan masyarakat untuk menumpas kericuhan yang terjadi.

Persatuan terasa lebih indah dari kekerasan, bukan?

 

Referensi:

http://www.merdeka.com/peristiwa/bentrok-ormas-di-bali-pakai-pedang-dan-trisula-1-orang-terluka.html

http://books.google.co.id/books?id=2oAnH55xSm4C&pg=PA133&lpg=PA133&dq=organisasi+massa+di+bali&source=bl&ots=tfjXzX3NB5&sig=vWUIey2JgsWgSzklAKHCw_dfQ2Q&hl=en&sa=X&ei=0_RoU8jtCMy48gXtxYKYBA&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=organisasi%20massa%20di%20bali&f=false

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook