KulKulBali.co

Sehari di Nusa Penida Festival

dalam Fotografi

👤1307 read komentar 🕔20 Jun 2014

Minggu, 8 Juni 2014 Kulkulbali.co diundang oleh teman-teman Nusa Penida Media untuk menyaksikan festival budaya Nusa Penida yang diadakan untuk pertama kalinya. Wow.. Ini adalah festival budaya pertama dari salah satu daerah di Bali yang memiliki potensi wisata yang sangat besar. Tentu saja undangan tersebut membuat kami senang. Kami pun berangkat... uyeah!!!

Tiba pagi hari di Sanur, disana telah menunggu penitia Nusa Penida Festival dan beberapa rekan dari media jurnalisme warga lain seperti Balebengong, dan Gedubrak.com, tidak lupa rekan dari Sloka Institute juga.

Setelah sarapan singkat (Popmie seduh + Nescafe panas), kami pun naik ke kapal yang akan membawa kami ke Pulau Nusa Penida, tempat berlangsungnya festival. Perjalanan di atas laut seperti biasa selalu menyenangkan bagiku, apalagi ombak cukup besar membuat kapal kami bergerak maju layaknya jet coaster. Ditambah dengan rasa antusias untuk melihat festival budaya di sana... i can't wait to dock and see everything with my own eyes.

Kami sampai di Nusa Penida sekitar pukul 09:30 pagi, disambut dengan sangat ramah oleh teman-teman panitia, yang langsung memberikan kotak kertas berisi benda favorit saya, Makanan... hohohoho...

Sambil menikmati santapan yang diberikan kami diberitahu oleh pihak panitia bahwa kami akan langsung diajak tur. Tujuan bisa kami pilih, ingin menikmati keindahan Pantai Crystal Bay atau melihat proses pembuatan kain tradisional asli Nusa Penida, kain Rangrang. Setelah bertempur sebentar dengan keinginan melihat pantai yang katanya luar biasa indah dan keunikan proses pembuatan kain rangrang, akhirnya kami memutuskan untuk melihat pembuatan kain tradisional tersebut. Memang sulit untuk menentukan pilihan bila pilihan yang diberikan begitu menggiurkan, tapi seperti kalimat yang dilontarkan seorang sahabat "Hanya anak kecil yang masuk ke toko kue dan hanya karena dia bisa makan semuanya, dia membeli semua kue di toko tersebut..."

Ternyata panitia memberi kejutan kecil bagi kami, sebelum ke desa Tanglad tempat kain rangrang dibuat, kami terlebih dahulu diajak ke Pura Goa Giri Putri. Sebuah pura yang terkenal karena terletak di dalam goa. uyeaahh!!! saya suka kejutan.

Untuk mencapai goa tersebut ternyata memerlukan sedikit usaha ekstra. Kami harus menaiki beberapa puluh anak tangga yang cukup membuat nafas kami ngos-ngosan. Tapi kelelahan menaiki tangga itu terbayar dengan sangat pantas. Goa alam yang menjadi tempat dibangunnya pura tersebut sangat luar biasa. Sangat mengagumkan.

Walaupun pintu masuknya sangat kecil sehingga anda harus jalan jongkok sepanjang beberapa meter, goa itu sendiri sangaaat besar dan luar biasa indah. Cukup mengherankan, untuk ukuran goa yang hanya sedemikian besar, aliran udaranya sangat baik sehingga walaupun yang memasuki goa saat itu tergolong banyak, saya tidak merasa susah untuk bernapas. Di dalam goa terdapat beberapa pelinggih dimana pengunjung dapat melakukan persembahyangan dan ada sebuah lingga yoni peninggalan jaman dulu yang menurut pemangku pura tersebut, lingga yoni itu muncul sendiri, tanpa ada yang membuatnya. Sangat Menarik. hmmmmm...

Di Akhir perjalanan kami di Goa Giri Putri diisi oleh sedikit wejangan dari Pemangku Utama Pura Goa Giri Putri, dan cerita tentang Pura tersebut. Filosofi yang terkandung di Goa dan Pura itu sendiri, dimana beberapa kebudayaan berasimilasi dan duduk berdampingan dengan harmonis.

Kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Tanglad. Perjalanan ke desa itu cukup menyenangkan, sepanjang jalan mata dimanjakan dengan pemandangan indah dari bukit-bukit yang masih perawan dan garis pantai yang kadang terlihat dari kejauhan. Namun sayang, rasa nikmat itu terkadang terganggu dengan goncangan yang mungkin akan membuat seorang yang tidak kuat melakukan perjalanan jauh akan mengeluarkan isi perutnya hingga kering. Ironinya, supir yang mengantar kami sambil tertawa mengatakan "Ini udah bagus jalannya, masih banyak jalan yang jauh lebih jelek dari ini..." Mungkin pemerintah yang kurang perhatian, atau mungkin karena akses ke Nusa Penida sendiri masih sangat susah sehingga pembangunan infrastruktur di sana cukup tertinggal jika dibandingkan dengan Bali daratan.

Saya tidak tahu, dan biarlah Tuhan melalui waktunya yang kekal yang akan menjawabnya... uwek...

Sesampainya di desa Tanglad, kami disambut oleh kehangatan bendesa adat yang langsung menyuguhi kami dengan buah pisang segar dan kacang kulit oven. Ya Tuhan... Berkatmu kuterima dengan perut lapar... Amin...

Namun beliau menyampaikan kabar yang sedikit membuat kami kecewa, ada sedikit miskomunikasi antara panitia dengan pihak desa Tanglad sehingga kami tidak bisa menyaksikan pameran proses pembuatan kain Rangrang. Namun pihak desa sudah mengupayakan kami agar dapat berkunjung langsung ke rumah pembuatnya. Yah, itu sih ga mengecewakan namanya, Pak, daripada lihat pameran lebih mending saya lihat langsung ke rumah yang buat... hohohoho...

Rombongan pun dibagi menjadi beberapa kelompok dan langsung mengunjungi rumah pembuat kain tradisional tersebut. Hal yang menarik saya temukan di sana saat menyaksikan seorang anak berumur belasan tahun mampu mengoperasikan mesin tenun tradisional dan dengan lihainya tangan anak itu menyelipkan benang satu persatu, membentuk pola yang khas, dengan warna yang berbeda-beda. Luar biasa... Saat saya masih seumuran dengannya, yang saya ketahui adalah bermain... Sekalipun tidak pernah terpikir bagi saya bahwa anak sekecil itu sudah bisa melakukan pekerjaan yang tergolong rumit seperti menenun kain tradisional.

Puas ngobrol dengan penenun tradisional, dimana saya mendapat informasi yang membuat rahang saya hampir lepas, bahwa bila menggunakan benang organik, dan pola yang paling "wah", harga kain Rangrang bisa mencapai jutaan rupiah.

Perjalanan kami berlanjut ke tempat festival berlangsung... Yesss!!!

Sampai di lokasi, kami tidak langsung diajak menuju arena pameran, tapi disuguhi makan siang bersama dulu... hehehehe... Makan lagiiii.

Setelah santap siang yang membuat mata saya luar biasa berat dan perut kekenyangan, saya jalan-jalan ke lokasi pameran karena pembukaan festival masih belum dimulai. Masuk ke lapangan tempat pameran, saya langsung melihat sebuah panggung megah di ujung lapangan, "untuk acara nanti malam broo" ucap seorang rekan panitia. Keren juga... Tapi pameran itu sendiri menurut saya memiliki sedikit kekurangan. Pemilihan lokasi pameran di lapangan yang luas dengan stand pameran yang tidak terlalu banyak membuat pameran tampak sepi.

Tapi begitu mengunjungi stand yang ada satu persatu, saya ingin menelan kembali pikiran saya itu.

Pameran yang cukup menarik, semua hal yang ada di Nusa Penida dipamerkan di sana... Dari foto-foto spot keren, kain rangrang, dan beberapa kain tradisional lainnya, pameran lukisan artis setempat, makanan dan jajanan berbau rumput laut, UKM kacang mete, hingga Bank Sampah dengan produk olahan dari sampah seperti tas, kotak pensil, dan lain-lain. Menarik.

Puas keliling pameran, saya berjalan ke tempat upacara pembukaan akan dilangsungkan. Saya ambil tempat duduk di depan sehingga bisa menikmati suguhan hingga puas. Format upacara pembukaan ternyata tdak jauh berbeda dari Pesta Kesenian Bali. Parade kesenian dari setiap desa yang ada di Nusa Penida memeriahkan suasana. Mulai dari tari pembukaan yang mengambil tema pemutaran gunung Mandara Giri, hingga tarian tradisional yang beberapa diantaranya disakralkan seperti tari Sanghyang Gerodok, Sanghyang Jaran, Sanghyang Dedari, dan beberapa jenis tari baris kelompok.

Sedikit yang membuat saya kurang puas adalah lokasi parade yang sempit sehingga kurang optimal untuk mengakomodasi penonton yang jumlahnya sangat banyak, mungkin apabila parade dilaksanakan di lapangan tempat pameran akan lebih baik... hehehe...

Wajah lelah kami yang mengikuti acara dari pagi terpampang jelas, sehingga rekan dari Nusa Penida Media segera mengantarkan kami ke penginapan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari lokasi festival... :)

Setelah mandi dan makan malam, saya melangkahkan kaki kecil saya untuk menonton acara malam hari di lapangan. Sampai di lapangan acara sudah berjalan setengahnya, dangdut sudah selesai, dan saya juga melewatkan setengah frasa tarian. Setelah pementasan tari, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi, yang diiringi dengan indahnya alunan biola.

Acara pun masuk ke bagian utama, bintang tamu... yeaahhh....

Johny Agung menjadi bintang tamu utama di malam itu, alunan musik ala Bob Marley memanjakan para penggemarnya dan saya... Malam yang sempurna! Saya tertarik untuk pergi ke belakang panggung untuk memenuhi rasa ingin tahu saya yang agak menggelitik, dan ternyata benar... Saya menemukan sederetan pedagang kaki lima yang mencoba mencari rejeki dengan adanya keramaian Nusa Penida Festival. PKL memang menjadi salah satu ikon yang pasti ada di setiap keramaian. Hampir di seluruh belahan dunia, bukan di Nusa Penida saja, atau di Bali dan Indonesia saja. Dimana ada keramaian, PKL pasti setia menemani anda... Hahahaha...

Acara Malam diakhiri dengan lagu dari Johny Agung, saya pun kembali ke penginapan untuk beristirahat karena esok hari saya harus kembali ke Bali Daratan.

Agak sedih karena tidak bisa mengikuti seluruh acara Nusa Penida Festival, tapi apa daya... Masih ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan. 

Pagi-pagi saya kembali berjalan-jalan ke lapangan untuk melihat siapa tahu saya bisa menyaksikan persiapan panitia. hehehe... Tapi saya hanya mendapati lapangan kosong, dengan sampah bertebaran dimana-mana. Hal ini mungkin menjadi masalah untuk setiap acara besar: Sampah!

Saran saya panitia sebaiknya lebih memperhatikan hal ini untuk dikemudian hari, karena sampah sangat merusak citra. Sebuah surga harus bersih dan itu hanya bisa dicapai dengan kerjasama dari semua pihak.

Jam sudah menunjukkan pukul 07:00, saya pun mengemas barang bawaan saya, dan menuju pelabuhan. Disana Pak Wayan Sukadana sudah menanti saya, setelah ucapan perpisahan singkat, saya menaiki kapal dan kembali ke Bali daratan.

Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi kami, kulkulbali.co untuk hadir di acara Nusa Penida Festival, acara yang luar biasa, panitia yang sigap, dan sangat terkoordinir meminimalisir kesan bahwa ini adalah festival yag pertama kali diadakan. Walaupun masih ada hal-hal yang dapat ditingkatkan, tidak menghapuskan rasa kekaguman kami terhadap Pemerintah Kabupaten Klungkung, dan Nusa Penida Media yang telah menyukseskan acara tersebut... SALUT!

Apresiasi yang sebesar-besarnya bagi rekan Nusa Penida Media yang telah mengundang kami, dan bahkan mengurus akomodasi kami, kulkulbali.co selama kami berkunjung... Terima Kasih banyak...
Semoga Sukses selalu, dan

Salam Kulkulbali...

cc : Nusa Penida Media

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Tentang Penulis

Gusti Ngurah Indrakusuma

Orang biasa yang kebetulan dapet kerjaan buat nolong orang sakit... gstngurahindra.blogspot.com

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook