KulKulBali.co

Dua Sisi Cinta Beda Agama

dalam Inspirasi & Renungan

👤3827 read komentar 🕔16 Sep 2014
Dua Sisi Cinta Beda Agama - kulkulbali.co

Beberapa hari terakhir saya tertarik pada sebuah tema hangat yang sebenarnya sudah lama jadi bahan perbincangan. Ya....itu adalah pernikahan berbeda agama. Baru baru ini seorang mahasiswi Hukum asal UI bernama Anbar Jayadi bersama empat alumni UI lainnya mengajukan uji materi tentang UU pernikahan. Substansi yang diuji disini adalah pada pasal 2 ayat 1 UU pernikahan yang menyebut bahwa pernikahan itu sah bila sudah resmi secara agama yang berlaku. Hal itu menjadi pertentangan karena pernikahan itu layaknya berdasarkan keyakinan akan Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak perlu adanya pemaksaan untuk melakukan upacara pernikahan dengan sistem agama tertentu. Kedua belah pihak yang menikahlah yang menentukan sendiri dengan cara apa mereka menikah. Negara harus mengakui pernikahan tersebut demi keberlangsungan anak keturunan dari kedua mempelai tersebut.

Saya ingin mengupas "cinta" dua "langit" ini dari dua sisi, yaitu dari sisi orang yang menjadi subjek pelaku cinta dan dari sisi agama beserta masyarakat sebagai objek cinta beda agama.

1. Sisi Pelaku Cinta

Dari sisi pelaku, cinta itu tidak bisa memilih. Sebagai manusia yang memiliki rasa, adakalanya cinta atau rasa suka pada lawan jenis adalah sesuatu yang tidak mampu direncanakan sehingga datang tiba tiba. Begitu juga pada sosok yang seperti apa yang akan kita cintai nanti. seseorang bisa saja menginginkan pasangannya nanti adalah orang paling cantik dan tampan, kaya, pintar, perhatian dan lain sebagainya. Tapi saat sudah jatuh cinta, syarat itu runtuh, termasuk syarat dasar awal yaitu mencari orang seagama. Pelaku cinta atau bahkan semua manusia tidak bisa menghindari ini.

Untuk itulah, seringkali kisah kisah bak sinetron bagai nyata bagi mereka sang pelaku. Sayangnya, semua sinetron tentang cinta beda agama sama sekali tidak memuaskan endingnya bahkan cenderung makin menyakiti. Tapi apakah itu mampu membuat sang pelaku cinta ini untuk berhenti mencintai? Sama sekali tidak.

Buat mereka, Tuhan sama sekali tidak adil. Kenapa Tuhan menciptakan rasa cinta sedangkan di lain sisi Tuhan menciptakan agama yang menjadi sekat-sekat menyakitkan? Atau sebenarnya Tuhan itu tidak ada? Mungkin saja Tuhan itu adalah lelucon nenek moyang agar manusia mengelompok dan terbagi atas kelas kelas tertentu. Seringkali pandangan ekstrem seperti itu menjadi hal yang seringkali terlintas di pikiran mereka.

Banyak diantara rekan rekan saya juga menjalani cinta berbeda langit ini, dan diantara mereka hanya mempercayai satu hal. 

"cinta adalah sebuah perjalanan. biarlah kami melewati hari demi hari seperti hari ini untuk seterusnya"

Pandangan yang realistis sekaligus miris, miris karena mereka tidak tahu apakah ini baik atau tidak baik untuk masa depan. Yang mereka tahu hanyalah sebuah perjalanan tanpa tujuan.

Tapi apakah salah? Terlalu terburu-buru bila kita men-judge seperti itu.

Tapi beberapa diantara mereka berusaha untuk tidak mengikat kekuatan hubungan apapun. Hanya sebatas teman, tapi spesial di hati masing masing. Ada pula yang menolak cinta salah satu pihak, karena alasan beda agama namun sebenarnya memiliki keterikatan secara perasaan. Kalimat penolakan yang menyakitkan seringkali terucap sebagai penolakan

Dari semua pandangan sang pelaku cinta, seharusnya kita memahami. Bahwa rasa cinta itu anugrah, tak bisa ditolak tak bisa dicari. 

2. Sisi Agama, Masyarakat dan Orang Tua

Sisi agama dan masyarakat adalah sisi logis dari sebuah pengambilan keputusan. Agama Islam jelas menentang ini.

Bagaimana dengan Hindu?

Saya mencoba mengupas dari sisi realita saja. Dalam melaksanakan upacara perkawinan, kedua mempelai harus Hindu. mengenai apakah nantinya salah satu mempelai kembali ke agama asalnya dalam kehidupan sehari hari, itu menjadi tanggung jawab masing masing individu. Untuk itulah saya tidak tahu pasti apa agama Happy Salma sekarang, tapi dari beberapa orang Hindu di tempat saya yang menikah dengan pasangan beda agama, ke depannya ternyata salah satu pihak kembali ke agamanya dulu. Sedangkan anak anaknya "digantung" status agamanya hingga sang anak mempertimbangkan sendiri agamanya kelak.

Namun, agama Hindu sangat lekat dengan budaya, dalam budaya Bali seseorang menjaga agama demi menjaga leluhur mereka agar tetap bersama keluarga mereka sendiri saat reinkarnasi. Menjaga tempat reinkarnasi orang tua di dalam lingkaran keluarga sendiri adalah tanggung jawab yang tak putus, sekaligus sebagai wujud bakti pada orang tua yang mendahului kita. Selain itu, terkadang ada juga sifat politis ekonomi dalam hal pembagian "warisan". Sehingga, diharapkan orang Hindu tetap mempertahankan agamanya.

Dari sisi ini, tersirat bahwa orang yang berpindah agama atau menjalin hubungan beda agama agaknya tidak terjadi.

Yang keras tentu saja saudara-saudari kita yang beragama Islam. Jelas hubungan beda agama itu terlarang. bagaikan melakukan hubungan tanpa ijin Tuhan, maka hubungan itu adalah dosa besar, bahkan layak masuk neraka paling panas yang pernah ada.

Dalam pandangan masyarakat dan orang tua, pernikahan beda agama atau pacaran beda agama adalah hal yang lumrah tapi tabu untuk dijalankan. Banyak orang tua berharap, anak mereka tidak direpotkan dari sebuah hubungan yang berbeda agama. Hubungan yang baik berasal dari kesamaan bukan sekedar kebersamaan. Para orang Tua menginginkan anaknya tidak begitu saja "meninggalkan" mereka begitu saja (walaupun pernikahan agama yang sama juga tidak menjaminkan hal itu). Saat anaknya masuk ke agama lain, orang tua merasa mereka gagal mendidik anak. Doktrin para pemuka agama yang mengharuskan orang tua mengajarkan agama dengan baik pada anaknya seolah olah jadi aib karena mereka gagal menjalankan itu. Apalagi bila anak mereka itu adalah anak satu satunya yang menjadi penyangga masa tua mereka. 

Dari ulasan dua sisi itu, kiranya kita harus jernih dalam mengambil sikap bilamana kita sendiri yang mengalami. 

Saya sendiri percaya akan satu hal.

"Agama yang saya anut sekarang bagaikan sebuah rumah. Sebuah rumah yang lengkap dengan semua fasilitasnya. Lalu, untuk apa saya harus keluar? Mungkin saja rumah orang lain lebih besar dan mewah. Tapi apakah saya bisa sebebas dirumah sendiri? Belum tentu."

Kehidupan adalah sebuah hal yang menarik, ada suka duka dan cinta memang disana. Ada kalanya kita melakukan pilihan pilihan sulit. Tapi yakinkan bahwa kita mampu menjadi penanggung jawab tunggal atas apa yang kita lakukan.

Semoga menjadi perenungan bersama bagi kita

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Tentang Penulis

Yudha Handara

berbagi renungan dan cara pandang unik dalam kehidupan

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Artikel Lain dari Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook