KulKulBali.co

[#JBB2015] Pulau Seribu Pura atau Pulau Seribu Kafe?

dalam Humanoria

👤1319 read komentar 🕔21 Jul 2015
[#JBB2015] Pulau Seribu Pura atau Pulau Seribu Kafe? - kulkulbali.co

Bali, siapa tak kenal dengan objek pariwisata yang baru- baru ini berada di peringkat ketujuh dalam polling Trip Advisor bertajuk “Pulau- pulau Terbaik di Dunia” yang dirilis pada 26 April 2015. Dengan berbagai potensi alam, kebudayaan yang unik dan keramahan warganya tak heran pulau ini selalu menjadi idaman para traveler. Berbagai macam fasilitas pun didirikan utnuk menunjang kenyamanan para wisatawan selama berlibur di Bali mulai dari hotel, restaurant, villa, pusat perbelanjaan, kafe dan lain- lain. Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bali menjadi incaran para pebisnis sehingga mereka berlomba- lomba membuka usaha di bidang pariwisata salah satunya usaha kafe.

Tapi sadarkah kita bahwa saat ini pariwisata Bali tidak hanya disorot dari segi keindahan alamnya? Istilah “Pulau Seribu Pura” yang dahulu melekat kini bergeser menjadi istilah “Pulau Seribu Kafe”.  Gemerlap dunia malam Bali menjadi salah satu topic utama yang disampaikan oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika dalam Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) d Denpasar pada Minggu 5 Juli 2015. Beliau mengatakan bahwa berbagai persoalan bisa saja muncul dari adanya kafe remang-remang seperti penyebaran penyakit menular seksual, peredaran minuman keras hingga keberadaan wanita penghibur yang kerap merusak keharmonisan rumah tangga. (SentanaNews, 6 Juli 2015)

Dari pengamatan saya masalah ini memang menjadi problema di daerah Buleleng yang bisa saja nantinya menjadi fenomena gunung es untuk Bali yang kita cintai ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian  kafe adalah tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur dengan music; tempat minum yang pengunjungnya dapat memesan minuman seperti kopi, teh, bir, dan kue- kue. Kemunculan kafe remang- remang yang disinyalir didalamnya ada prostitusi terselubung dan peredaran narkoba menunjukkan bahwa kebanyakan kafe saat ini sudah tidak seperti kafe yang seharusnya. Dampak yang bisa kita lihat di masyarakat adalah meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas setelah konsumsi alcohol di kafe, semakin seringnya laporan kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri dan anak di suatu keluarga dan angka penyakit Infeksi Menular Seksual salah satunya HIV/AIDS yang makin tak terbendung di Buleleng.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Buleleng, hingga bulan Juni 2015 tercatat ada 2.391 penderita HIV/AIDS dari total 11.856 kasus di Bali yang menjadikan Buleleng menduduki peringkat kedua jumlah penderita HIV/AIDS di Bali saat ini. Hal ini membuat saya tertarik mengangkat hal ini ke permukaan. Apa yang salah selama ini dengan Bali hingga jumlah penderita HIV/AIDS nya meningkat drastis?

Jika kita menelusuri ke belakang atau flashback Bali jaman dulu, apakah sebelum ada kafe, Bali sudah memiliki stigma buruk seperti saat ini? Bisnis dunia gemerlap malam yang dianggap menjanjikan oleh masyarakat membuat mereka berbondong-bondong mendirikan kafe bahkan sampai dipelosok desa. Sekali waktu saya pernah berjalan- jalan bersama kawan untuk menghilangkan penat ke daerah Pantai Happy di Buleleng. Maksud hati melihat pemandangan pantai dengan suara debur ombaknya tetapi malah pondok  kafe yang kami temui. Bahkan lokasi kafe tersebut berdekatan dengan Pura Subak yang notabene adalah tempat suci umat Hindu. Saya yang melihatnya saja merasa gerah apalagi para umat penyungsung pura tersebut. Di daerah Penarukan bahkan ada kafe yang bersebelahan dengan sawah. Sangat memprihatinkan daerah hijau yang harusnya ditanami padi malah disulap menjadi kafe yang tidak ada ramah lingkungannya sama sekali. Bahkan menurut penuturan warga di malam hari kafe- kafe tersebut menyalakan music yang volumenya keterlaluan. Sudah tidak ramah lingkungan, menimbulkan polusi suara pula.

Peran serta berbagai pihak sangatlah diperlukan dalam mengatasi problema ini sebelum lebih banyak lagi pihak menjadi korbannya. Lembaga berwenang bisa memulai dengan menerbitkan peraturan yang mengatur izin pendirian kafe agar pendiriannya tidak berakhir menjadi kafe remang- remang. Setelah itu membentuk badan yang bekerja sama dengan desa pakraman dan sekaa truna- truni yang memiliki tugas untuk monitoring operasional kafe. Apabila sudah ada kafe yang terlanjur didirikan, harus ada kesepakatan antara pemilik kafe dengan petugas kesehatan contohnya Puskesmas terdekat agar bersama- sama ikut mencegah penularan HIV/AIDS melalui sosialisasi- sosialisasi dan pemeriksaan berkala para karyawan kafe. Yang paling penting dan bisa membawa perubahan besar bisa dimulai dengan membangun komunikasi yang intens dalam keluarga karena apabila komunikasi sudah terjalin baik tentunya hal- hal buruk (dalam kasus ini contohnya adalah dampak negatif kafe remang- remang) dapat ditangkal. Apabila semakin banyak keluarga yang sadar akan berimbas ke tetangga, lalu ke warga, ke lingkungan, ke desa dan seterusnya sehingga pada akhirnya harumnya nama pulau Bali tidak hanya akan menjadi kenangan.

Haruskah kita tutup mata dengan fenomena menjamurnya kafe di tanah kelahiran kita ini? Sudah saatnya kita bergerak bersama melindungi Bali sebelum terlanjur menjadi “Pulau Seribu Kafe” agar tak seperti bunyi pepatah Bali “Sube keluh mare nyemak sepit”.[1]

 

[1] Salah satu pepatah Bali yang artinya baru mengambil tindakan setelah ada akibat yang ditimbulkan

 

 

Narasumber :

Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng

Jro Bawati Hermawan Tangkas (Tokoh Agama)

Daftar Pustaka :

http://sentananews.com/news/daerah_Ibu_kota/gubernur-bali-soroti-menjamurnya-kafe-remang-reman-5054

http://www.solopos.com/2015/04/26/10-pulau-terindah-di-dunia-bali-peringkat-berapa-598675

http://bali.antaranews.com/berita/74730/gubernur-bali-soroti-menjamurnya-kafe-remang-remang

http://balipost.com/read/headline/2015/04/23/33416/kasus-hivaids-bali-peringkat-lima-di-indonesia.html

Sumber gambar :

sentananews.com

 

 

 

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook