KulKulBali.co

[#JBB2015] Mencontoh Kearifan Lokal Desa Tenganan

dalam Kabar > Nasional

👤1559 read komentar 🕔23 Jul 2015
[#JBB2015] Mencontoh Kearifan Lokal Desa Tenganan - kulkulbali.co

Betapa indahnya Bali.

Demikianlah pujian beberapa orang yang melihat keindahan pesona alam Bali. Akan tetapi, keindahan Bali bukan tanpa cacat. Kita boleh saja melihat keadaan alam Bali dalam keadaan yang baik-baik saja karena pesona alamnya yang begitu indah. Tetapi sebagian kecil orang mengatakan sebaliknya, mereka menolak kalau keadaan alam Bali dikatakan baik-baik saja.

Lihat saja beberapa masalah yang timbul belakangan ini terkait dengan kondisi alam Bali, terutama masalah hutan. Misalnya, maraknya penebangan liar di beberapa daerah di Bali, eksploitasi hutan secara besar-besaran, dan masih banyak lagi masalah-masalah tentang penyimpangan pemanfaatan hutan di Bali. Sampai-sampai keadaan hutan Bali saat ini luasnya tidak sesuai dengan yang seharusnya disebutkan pada Perda, yakni Perda no. 16 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali pasal 59 ayat 3 huruf b yang menyatakan pengelolaan peruntukan hutan rakyat mencakup:

mendukung pencapaian tutupan vegetasi hutan minimal 30% (tiga puluh persen) dari luas wilayah Bali.

Tetapi fakta saat ini Bali hanya mempunyai luasan hutan yang tidak lebih dari 23%. Itu artinya Bali masih perlu 7% hutan lagi. Ini seharusnya menambah luasan hutan, bukan malah mengurangi luasan hutan dengan cara menjadikan hutan sebagai lahan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan lagi di Bali.

Kasus-kasus penebangan liar yang terjadi di berbagai daerah di Bali juga membuat kita geleng-geleng kepala. Apa yang dipikirkan oleh mereka? Tidakkah mereka memikirkan dampaknya? Dengan mudahnya membabat hutan yang merupakan paru-paru dunia. Tidak hanya masyarakat, tetapi pemerintah juga seolah-olah tidak mengindahkan Perda tersebut dengan memberikan ijin pemanfaatan hutan semaunya.

Penyimpangan pemanfaatan hutan yang marak terjadi sekarang membuat saya berpikir bahwa orang-orang yang merusak hutan tersebut serta pemerintah yang kurang peduli dengan hutan seharusnya belajar dari masyarakat yang begitu tunduk dengan kearifan lokal daerahnya dalam hal konservasi hutan. Ya, masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan.

Sungguh hal yang begitu bertolak belakang bagi saya jika melihat upaya konservasi hutan yang dilakukan masyarakat Desa Tenganan Pegringsinganan dengan masyarakat lainnya. Ketika masyarakat luar ada yang membabat hutan mereka dengan penebangan liar, mengalihfungsikan hutan sebagai lahan yang kemudian disewakan kepada investor, masyarakat di desa ini justru dengan kearifan lokal yang ada menjaga hutan mereka dan tidak mengusiknya sedikitpun, hingga lestari sampai saat ini. Kalau kalian berkunjung ke desa ini, kalian akan menyaksikan langsung hutan yang mengelilingi desa. Itulah hutan yang dilestarikan oleh masyarakat desa sejak keberadaan desa ini.

Desa yang terletak di bagian timur Pulau Bali ini tetap mampu mempertahankan kearifan lokalnya yang berupa awig-awig yang mengatur tata cara pengelolaan hutan di kawasan desa tersebut. Awig-awig ini merupakan warisan leluhur masyarakat setempat pada abad ke-11. Sampai saat ini awig-awig tersebut masih tetap eksis dalam kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan. Hal ini ditandai dengan masih kuatnya ikatan awig-awig tersebut terhadap masyarakat desa.

Awig-awig ini memuat aturan-aturan penebngan pohon, aturan mengambil hasil yang berupa buah-buahan, aturan menggadaikan atau menjual tanah di wilayah Desa Pakraman Tenganan Pegri ngsingan, aturan pemanfaatan hasil hutan untuk kepentingan bersama, aturan dalam mengambil pohon yang tumbang secara alami, serta ketentuan mengenai sanksi terhadap pencurian hasil hutan. Setiap bentuk pelanggaran terhadap awig-awig tersebut akan berbuah sanksi yang diberikan oleh pihak desa pakraman kepada pihak yang melanggar. Sanksi yang diberikan juga cukup unik dan bermacam-macam tergantung dari besar kesalahan yang dilakukan, yakni keluar dari keanggotaan krama desa adat atau hanya akan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Cukup dengan sanksi seperti ini sudah membuktikan kalau kearifan lokal yang berupa awig-awig pengelolaan hutan dapat menjaga hutan mereka tetap lestari hingga kini.

Eksisnya kearifan lokal berupa awig-awig yang mengatur tata cara pengelolaan hutan pada masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan tentu tidak terlepas dari upaya-upaya pelestarian. Pelestarian kearifan lokal masyarakat Tenganan Pegringsingan dalam pengelolaan hutan tidak dapat dilepaskan dari penilaian masyarakat setempat bahwa mereka benar-benar membutuhkan kearifan lokal tersebut untuk mengatur pengelolaan hutan demi pelestarian hutan dan kelangsungan hidup mereka.

Kearifan lokal tersebut diinternalisasikan pada diri masyarakat melalui sosialisasi yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat dan di lingkungan keluarga. Maka tidak salah pemerintah pernah memberikan penghargaan Kalpataru terhadap Desa Tenganan Pegringsingan pada tahun 1992 karena keberhasilannya dalam pelestarian hutan Kearifan lokal adalah kebenaran yang telah mentradisi/ajeg dalam suatu daerah. Sama halnya dengan upaya pelestarian hutan ini, begitu mentradisi di desa ini. Masyarakat sudah memiliki kesadaran tersendiri untuk menjaga hutan desa mereka, dan bukan semata-mata karena takut dengan adanya sanksi jika melanggar.

Andai kesadaran seperti ini bisa dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di Bali. Mungkin tidak perlu lagi beberapa ormas berunjuk rasa di depan kantor pemerintah untuk menentang suatu izin pemanfaatan hutan dan penjara tidak penuh oleh para pelaku penebangan liar. Desa Tenganan Pegringsingan yang merupakan Desa Bali Aga ini sesungguhnya adalah hanya desa kecil yang banyak diwarisi kearifan lokal yang masih sangat eksis di kehidupan masyarakatnya. Adakalanya, kita harus belajar dari orang-orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa kita. Sama halnya dengan desa tua ini, apa salahnya kita mencontoh kearifan lokal mereka untuk diterapkan dalam kehidupan kita dalam rangka menjaga hutan kita agar tetap lestari?

 

Referensi :

http://www.bloggerbojonegoro.com/wp-content/uploads/2013/04/hutan-bojonegoro.jpg

http://2.bp.blogspot.com/-H6gjtr2cLSk/UXBCgZdogQI/AAAAAAAABbM/9Bk6IGhZxt8/s1600/desa-tenganan.jpg

 http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/59077

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2013/07/31/eksploitasi-hutan-mangrove-di-bali/

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook