KulKulBali.co

[#JBB2016] ANTARA HARGA DIRI, TRADISI DAN KEYAKINAN

dalam Budaya

👤654 read komentar 🕔10 Jul 2016
[#JBB2016] ANTARA HARGA DIRI, TRADISI DAN KEYAKINAN - kulkulbali.co

 Agama Hindu adalah agama yang telah menciptakan kebudayaan yang sangat kompleks di dalam segala bidang, sehingga timbul bermacam-macam pemahaman oleh para ahli yang juga berpengaruh terhadap tradisi pelaksanaan upacara yang dilakukan oleh masyarakat.Seperti yang terlihat di Indonesia khususnya di Bali yang dominan masyarakatnya memeluk agama Hindu, tradisi pelaksanaan upacara keagamaan yang ada di daerah berbeda satu dengan yang lainnya, hal tersebut disesuaikan dengan desa kala patra daerah masing-masing.

Jika dilihat dari kitab suci Weda.Ada tiga kerangka dasar dalam pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama Hindu, antara lain: 1). Tattwa(pengetahuan tentang filsafat) aspek pengetahuan agama atau ajaran-ajaran agama yang harus dimengerti dan dipahami oleh masyarakat terhadap aktivitas keagamaan yang dilaksanakan, 2). Etika, (pengetahuan tentang sopan santun, tata krama) aspek pembentukan sikap keagamaan yang menuju pada sikap dan perilaku yang baik sehingga manusia memiliki kebajikan dan kebijaksanaan, dan 3).Upacara atau ritual (pengetahuan tentang yajna) tata cara pelaksanaan ajaran agama yang diwujudkan dalam tradisi upacarasebagai wujud simbolis komunikasi manusia dengan Tuhannya.Ketiga kerangka dasar tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki dan dilaksanakan. Upacaradalam rangka pelaksanaan ajaran Agama Hindu dapat digolongkan menjadi lima kelompok besar berdasarkan sasaran dalam pelaksanaannya yang disebut Panca Maha Yajna yang terdiri dari : 1). Dewa Yajna yaitu korban suci untuk Sang Hyang Widhi, 2). Rsi Yajnayaitu korban suci untuk para Rsi, 3). ManusiaYajnayaitu korban suci untuk manusia, 4). Pitra Yajnayaitu korban suci untuk para leluhur, 5). Bhuta Yajnayaitu korban suci untuk semua makhluk di luar manusia.

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarkat Hindu di Bali dalam melaksanakan upacara keagamaan selalu berpedoman pada tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.Baik itu upacara yang menyangkut Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra Yadnya, Maupun Bhuta Yadnya.Dengan menjalankan tradisi tidak sedikit masyarakat di Bali mulai dihantui dengan namanya kemiskinan.Dimana salah satu penyabab hal tersebut adalah biaya yang cukup besar untuk melaksanakan kegiatan upacara keagamaan. Untuk melaksanakan upacara keagamaan masyarakat Hindu di Bali begitu jor-joran dalam menghabiskan uang, hal ini dikarenakan adalah harga diri mereka di mata masyarakat yang lain telah berhasil dalam melaksakan sebuah upacara, kemudian rasa keyakinan mereka dengan berhasil membuat upacara yang begitu besar mereka telah berhasil untuk menyatukan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi. Walaupun uang yang mereka keluarkan tersebut dari hasil menjual tanah warisan. Seperti yang telah kita rasakan tanah yang ada di Bali hanya sedikit yang masih di miliki oleh penduduk asli Bali, yang lainnya sudah habis di jual kepada penduduk dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena mereka masih menjaga harga diri mereka dan tradisi yang telah diwariskan dalam melaksanakan upacara keagamaan.

Situasi ini dimanfaatkan oleh suatu kelompok masyarakat untuk meraup rejeki.Salah satunya adalah dari kalangan yang membuat upacara, seperti para srati, pemangku, maupun Ida Pedanda yang memampaatkan hal ini untuk menjual sarana upacara dengan harga yang cukup fantatis harganya.Seperti contoh banten untuk pengabenan harganya mencapai 20 juta. Disisi lain masyarakat yang tidak mampu harus berjibaku dengan segala cara mencari uang tersebut untuk melaksungkan upacara pengabenan yang merupakan jalan terakhir yang diberikan sebagai sarana untku menyatukan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi.

 

Demi menangani permasalahan tersebut, sekarang banyak Dharma Wacana yang dilakukan oleh para Sulinggih sekarang ini supaya permaslahan yang telah mengakar di masyarakat sedikit demi sedkit menjadi mengikis.Salah satu sulinggih yang sangat keras mengecam tradisi yang berkembang di masyarakat adalah Ida Pedanda Gede Made Gunung.Seperti yang dikutip dari salah satu Dharma Wacana “sudah sepantasnya seorang pendeta tidak saja berfungsi untuk memuput upacara, namun yang jauh lebih penting adalah mampu memberikan dharma wacana berupa pemahaman terhadap umat Hindu sendiri akan makna upacara. Agar kedepan umat Hindu tidak ada yang miskin akan pelaksanaan upacara yang jor-joran. Seperti yang pernah Beliau katakan, untuk upacara ngaben, sebetulnya cukup dengan satu kemasan banten pejati.Kemasan lebih kecil lagi, kalau tidak mampu dengan banten pejati, cukup sepasang banten canang. Jika umat tidak juga mampu membuat canang, cukup dengan sembah saja”

Menurut Ida Pedanda Gunung, agama Hindu tidak pernah memiskinkan umatnya. Atas dasar itulah, dia mengingatkan agar setiap umat tidak terpaku melaksanakan upacara keagamaan yang berdasarkan prinsip nak mule keto (memang begitu) dan tradisi.Untuk itu masyarakat Hindu harus kembali dapat memaknai arti dari sebuah upacara, supaya mereka mampu membedakan antara sebuah harga diri, keyakinan dan tradisi. Sebenarnya dalam kitab-kitab suci agama hindu sudah tercantum semua sarana untuk menghubungkan diri kita dengan Ida Sang Hyang Widi.

Untuk menangani permasalahan ini, masyarakat Hindu di Bali harus mulai intropeksi diri masing-masing. Masyarakat harus mulai memahami apa sebenarnya makna dari sebuah upacara keagamaan yang dilakukan. Upacara tersebut berasal dari kata upakara, yang artinya suatu pengorbanan suci melalui sarana yadnya atau banten dengan rasa tulus iklas kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.Bukan berarti upacara yang dilakukan tersebut dengan memaksakan diri.Sebenarnya pelaksanaan upacara agama Hindu di Bali sudah diatur oleh petunjuk upakara yang ada pada kitab suci. Secara garis besar pelaksanaan upacara agama Hindu di Bali di bagi menjadi 3, yaitu yaitu nistha ( tingkat kecil), Madya ( tingkat menengah), Utama ( tingkat besar). Walaupun  terbagi menjadi tiga tingkatan namun dari segi kualitas ketiganya tidak ada perbedaan, sepanjang dalam pelaksanaannya didasari dengan ketulusan dan kesucian hati.

 

Dengan memahami makna dari sebuah upacara yang pada dasarnya adalah nilainya sama di hadapan Ida Sang Hyang Widi baik itu berupa upacara secara nista, madya dan utama, yang membedakannya adalah rasa keiklasan pengorbanan seseorang dalam melaksanakan upacara. Maka kita sebagai penganut agama Hindu di Bali akan terhindar lagi dari situasi sekarang ini, dengan menyesuaikan kemampuan dalam melaksanakan upacara, jangan hanya menyesuaikan dengan tradisi yang sudah berjalan dan harga diri dalam melaksanakan upacara. Jika hal ini sudah berjalan di masyarakat maka biaya upacara dapat di tekan, sehingga kita dapat membuat cadangan finansial keluarga seperti tabungan, asuransi kesehatan dan pendidikan setinggi-tingginya untuk investasi masa depan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://dhanuwangsa.wordpress.com/2010/11/23/acara-agama-hindu/

http://www.nusabali.com//berita/415/pedanda-gunung-minta-cegah-upacara-yang-bikin-miskin

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook