KulKulBali.co

Pelinggih di Tempat Wisata, Siapa yang Dipuja?

dalam Budaya

👤41 read komentar 🕔03 Jun 2018
Pelinggih di Tempat Wisata, Siapa yang Dipuja? - kulkulbali.co

Meski bukan tempat suci tidak jarang kita temukan sisa-sisa sarana persembahyangan di tempat-tempat wisata. Sarana persembahyangan tersebut kebanyakan dibawa oleh para wisatawan yang datang untuk berkunjung dan pengelola tempat wisata. Mulai dari sarana yang sederhana seperti canang hingga sarana persembahyangan yang lengkap dengan jajanan dan buah-buahan. Bahkan seringkali wisatawan hanya mengikuti apa yang wisatawan lainnya lakukan tanpa mengetahui maksud dan tujuan sebenarnya.

Jika dibiarkan hal tersebut secara perlahan akan memberikan dampak yang menyebabkan terjadinya pergeseran kebudayaan dan adat istiadat di Bali. Lantas, siapakah yang kita puja di tempat wisata seperti pemandian, pantai, wisata alam (hutan) dsb?

Menurut kepercayaan Masyarakat Bali setiap tempat memiliki penghuni baik yang tampak atau disebut sekala maupun yang tidak tampak atau niskala. Keharmonisan antara keduanya wajib dijaga dengan cara saling menghormati dan menjaga agar dapat menimbulkan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan. Menghormati dengan tidak sembarangan dalam berucap serta menjaga dengan tidak mengotori dan merusak lingkungan. Sudah seharusnya sebagai manusia dengan kemampuan paling sempurna diantara makhluk lainnya menggunakan kemampuan tersebut untuk menjaga dunia ini.

Pada beberapa tempat wisata non religi seperti air terjun, mata air dan beberapa tempat lainnya, menurut masyarakat sekitar memang sudah menjadi tradisi untuk mempersembahkan banten atau cukup dengan canang saja bila berkunjung ke tempat tersebut. Namun, persembahannya tentu berbeda dengan persembahan kepada Tuhan. Begitu juga perlakuan terhadap sarana setelah digunakan.

Jika persembahan pada tempat suci ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya sebagai dewa dan bhatara, sarana persembahan yang dapat dikonsumsi seperti jajanan dan buah-buahan dianjurkan untuk dikonsumsi, sebagai simbol pendekatan sifat manusia kepada sifat kedewaan. Sedangkan sarana persembahyangan yang dipersembahkan tidak kepada Tuhan, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.

Masyarakat Bali memang memiliki kepercayaan-kepercayaan tersendiri mengenai beberapa tempat yang dianggap perlu dihormati selain tempat suci. Menurut kepercayaan masyarakat setiap tempat perlu dihormati dan dijaga tidak hanya tempat wisata saja. Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara umat manusia dengan lingkungan sesuai dengan konsep Tri Hitta Karana.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook