KulKulBali.co

Gamelan Bali atau EDM? Why Not Both?

dalam Budaya

👤369 read komentar 🕔03 Jun 2018
Gamelan Bali atau EDM? Why Not Both? - kulkulbali.co

Zaman dan generasi boleh saja berubah, namun alat musik tradisional gamelan Bali justru eksistensinya tidak pernah surut. Dulu gamelan Bali mungkin hanya untuk mengiringi suatu upacara agama dan atau tarian tradisional. Justru, melalui insan kreatif dan inovatif membuat gamelan Bali dapat dikolaborasikan dengan musik modern. Sesuatu yang banyak orang mengira 'impossible' tapi dalam sudut pandang musisi kreatif justru menjadi 'why not'.Bahkan beberapa musisi lokal Bali juga sering memadukan unsur musik tradisional ke dalam karya musik mereka.

Tidak hanya itu, karena sekarang tuan rumah 'Asin Games' 2018 adalah Indonesia, 'jingle' yang merupakan identitas dari event tersebut, dibuat dari perpaduan musik tadisional gamelan Bali dengan musik modern EDM yang sedang digemari oleh anak muda yang berjudul 'Janger Persahabatan'. Itu membuktikan bahwa dengan kesenian tradisional dapat menciptakan suatu karya 'extraordinary' yang memiliki sejuta makna dan inspirasi didalamnya.

Berbicara tentang kebudayaan, kebudayaan sebenarnya mengandung pengertian yang sangat luas dan mengandung pemahaman perasaan suatu bangsa yang sangat kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, kebiasaan dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor,1897). Kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai dampak dari interaksi sosial baik itu dalam proses akulturasi, asimilasi, maupun inovasi. Dari proses itulah akan menimbulkan suatu ciri khas tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan juga tidak hanya sekedar dalam lingkup tarian, tapi sebenarnya kebudayaan itu lingkupnya luas bahkan sangat luas. tentu saja saya tidak akan membahas semua lingkup kebudayaan itu, saya hanya akan membahas dari lingkup kesenian yaitu pada alat musik tradisional gamelan Bali.

Kebudayaan sendiri memang bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan walaupun gerak perubahannya beraneka ragam seperti ada yang berubah dengan cepat dan ada juga yang berubah secara lambat. Perubahan tersebut kita kenal dengan istilah dinamika kebudayaan. Dinamika kebudayaan itu dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu perkembangan teknologi, seperti dalam dunia musik yang sekarang sangat digemari oleh anak muda adalah musik EDM atau 'Electronic Dance Music'.

Dengan eksistensi gamelan Bali seperti itu, tentu pandangan sebelah mata mengenai gamelan Bali yang kuno atau 'out of date' dapat ditepis. Hal itu juga membuktikan bahkan memberikan kita gambaran baru sebagai generasi muda bahwa dalam hal melestarikan budaya tidak harus melalui belajar tarian (bukan berarti saya mengarahkan untuk jangan belajar tari). Maksud saya adalah dengan melalui media audio visual yang menarik bisa menjadi media untuk melestarikan budaya karena mudah dan cepat disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah apakah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menciptakan suatu karya yang didalamnya terdapat unsur kebudayaan lokal itu baik atau buruk? Jangan gegabah dulu sebelum berspekulasi kawan.

Jawaban dari pertanyaan tersebut akan mengarah pada hubungan antarbudaya. Tentu saja dengan adanya kontak kebudayaan akan menimbulkan suatu keadaan yang saling memengaruhi satu sama lain. Proses saling memengaruhi budaya tersebut terjadi melalui proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan.

Akulturasi kebudayaan adalah proses percampuran yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, karena disebabkan adanya unsur-unsur kebudayaan asing yang diserap atau diterima secara selektif dan ada unsu-unsur yang tidak diterima sehingga proses perubahan kebudayaan melalui mekanisme percampuran masih memperlihatkan adanya unsur-unsur kepribadian yang asli. Mungkin singkatnya akan menjadi A + B = AB.
Asimilasi kebudayaan adalah proses perubahan kebudayaan secara total akibat membaurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga ciri-ciri kebudayaan yang asli atau lama tidak tampak lagi. Singkatnya adalah A + B = C.

Menurut pendapat saya sendiri, dengan adanya unsur kebudayaan lokal dalam suatu karya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi itu bisa dari dua sisi. Dengan perkembangan teknologi tentu saja akan terjadi penyebaran unsur-unsur budaya asing dengan cepat. Dengan memanfaatkan hal itu akan terjadi perpaduan budaya yang berbeda. Dengan perpaduan budaya yang berbeda tentu akan berdampak pada keberagaman budaya di Indonesia. Jika perpaduan itu tetap memperlihatkan adanya unsur-unsur kebudayaan yang asli, hal itu akan menambah kekayaan budaya kita terlebih lagi dengan memanfaatkan teknologi akan membuat semakin dikenalnya budaya lokal oleh berbagai media dan akan semakin berkembang budaya lokal atau daerah itu sendiri. Sebaliknya, jika perpaduan kebudayaan itu justru membuat ciri-ciri kebudayaan yang asli atau lama tidak tampak lagi akan membuat kebudayaan lokal hilang atau ada yang memiliki loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional tersebut dapat mengancam integrasi bangsa karena hal itu akan mengurangi loyalitas warga negara pada budaya nasional dan negara sehingga mengancam kedaulatan negara.

undefined

Sumber : The Green Harmony

Kurang etis jika jawaban dari pertanyaan itu datang dari kalangan bukan seni seperti saya, maka saya juga akan memberikan pendapat dari salah satu pelaku seni musik Bali yang juga memadukan budaya lokal dalam karyanya. The Green Harmony. The Green Harmony sendiri terbentuk pada tanggal 29 September 2014, yang membawa aliran musik etnik akustik. Nama The Green Harmony sendiri merupakan spontanitas saja, di mana band ini beranggotakan Ajung Okha (vokal), Agung Pertama (gitar), Agung Dwik (bass), Agung Yoga (rindik), Agung Zona (gangse 1), Ajung Danan (gangse 2), dan Komang (kajon). Dalam band ini anggotanya ada yang suka megambel dan ada yang suka modern sehingga mereka tergabung menjadi satu dan terbentuklah The Green Harmony.

'Melestarikan pastinya, karena orang yang taunya cuma alat musik modern, dengan dikolaborasikan dengan alat musik tradisional akan menjadi hal yang unik, dan secara tidak langsung tetap melestarikan, karena kita mainkan dan orang melihat,' ungkap The Green Harmony.

'Dengan cara memainkan alatnya itu kan artinya sudah menjaga dan manggung juga dengan menggunakan pakaian adat Bali agar tetap menjaga kebudayaan,' tambah The Green Harmony.

Perpaduan nuansa musik tradisional dan modern saat ini bahkan telah memiliki pasarnya tersendiri. tidak hanya di kalangan masyarakat umum, namun juga di industri salah satunya adalah industri pariwisata. Hal itu terlihat dari banyaknya musik remix yang dipakai di hotel-hotel atau spa. Salah satunya adalah musik karya dari See New Project, Gus Teja dan beberapa musisi lainnya. Hal ini jutsru menarik, di mana musik khas Bali tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Bali, tetapi musik ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dari berbagai negara.

Generasi muda memang sering dikatakan sebagai individu yang cepat menerima unsur kebudayaan asing. Menerima unsur kebudayaan asing memang baik, namun bukan artinya kebudayaan lokal atau daerah kita tinggalkan. Justru dengan perpaduan kebudayaan itulah akan menghasilkan suatu inovasi baru yang akan menambah kekayaan budaya nasional kita. Namun dengan catatan, kebudayaan daerah yang dipadukan dengan budaya asing hendaknya tetap mempertahankan pakem atau aturan-aturan yang terkandung di dalamnya. Sehingga identitas dari budaya daerah akan tetap terlihat meskipun dipadukan dengan budaya asing atau teknologi baru. Karya dari para seniman musik yang saya paparkan, membuktikan bahwa melestarikan budaya daerah atau lokal tidak berarti ketinggalan zaman atau sering dikatakan kuno.

Banyak perbedaan, itulah Indonesia. Kita bahkan dikenal memiliki keberagaman budaya yang tinggi. Itulah yang tercermin dari 'Bhinneka Tunggal Ika' semboyan yang menggambarkan akan kekayaan dan kekuatan kita sebagai sebuah negara yang memiliki berbagai perbedaan namun dapat dipersatukan dan diatur oleh sistem nasional berupa bahasa, bendera, lagu kebangsaan, dan peraturan perundangan dalam satu kesatuan Republik Indonesia. lantas bisakah kita mencari alasan untuk tidak bangga dengan Indonesia?

 

Referensi :

Sutardi, Tedi. 2007. Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya. Bandung: PT Setia Purna Inves.

https://entertainment.kompas.com/read/2018/05/02/163059310/nev-ariel-noah-dan-guruh-soekarnoputra-dipersatukan-janger

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook