KulKulBali.co

Sejarah dan Eksistensi Perkembangan Gong Kebyar di tengah Modernitas

dalam Budaya

👤319 read komentar 🕔03 Jun 2018

Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah tidak asing lagi  akan beragam keunikan budaya yang menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri untuk dinikmati baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dari banyaknya ragam budaya tersebut, salah satu budaya etnis dari Pulau Dewata yang sangat terkenal adalah kesenian gong kebyar. Berbicara mengenai kesenian Bali, tentu tidak terlepas dari bagaimana asal mula kesenian tersebut. Terlebih lagi, keseniang Gong kebyar merupakan salah satu kesenian warisan leluhur yang masih lestari hingga kini, dan memiliki perjalanan historis yang cukup panjang, hingga lebih dari 1 abad.

(http://agusd869.blogspot.com/2015/02/sejarahgamelan-di-bali-di-bali-di.html)

Gong kebyar memiliki sifat yang fleksibel sehingga dapat berkembang pesat hingga seperti sekarang, dikutip dari Blog ISI Denpasar, bahwa gamelan gong kebyar di Bali, baru muncul pada permulaan abad XX, yang pertama kali diperkirakan muncul di daerah Bali Utara tepatnya sekitar tahun 1915 di Desa Jagaraga.

Menurut Colin McPhee dalam bukunya “Musik in Bali” menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya gamelan gong kebyar diperdengarkan di depan umum pada bulan Desember 1915, dimana ketika itu tokoh – tokoh gong Bali Utara mengadakan kompetisi gong kebyar untuk yang pertama kalinya di Jagaraga. Setelah ditelusuri lebih dalam, didapatkanlah beberapa data yang dapat dijadikan suatu pegangan guna mengetahui asal mula dari pada gamelan gong kebyar ini.

Informasi pertama datangnya dari Bapak I Nyoman Rembang, seorang guru karawitan pada Sekolah Menengah Karawitan Indonesia ( SMKI ) Denpasar yang dulunya bernama KOKAR Bali, beliau mengatakan bahwa berdasarkan hasil wawancaranya dengan Bapak I Gusti Bagus Sugriwa yang berasal dari desa Bungkulan, Buleleng, mengatakan bahwa lagu-lagu gong kebyar diciptakan pertama kali oleh I Gusti Nyoman Panji di desa Bungkulan pada tahun 1914. Pada waktu itu dicoba untuk ditarikan oleh Ngakan Kuta yang berdomisili di desa Bungkulan.

Informasi ini menunjukan bahwa pada tahun 1914 di desa Bungkulan telah diciptakan lagu-lagu kekebyaran, hanya saja belum diketahui bagaimana bentuk lagu kebyar yang diciptakan dan bagaimana pula bentuk gamelan gong kebyar yang telah menampilkan motif-motif kekebyaran itu.

Selanjutnya, I Gusti Bagus Arsaja, BA. (guru SMKI) Denpasar dalam kertas kerja bandingannya atas kertas kerja dari Bapak I Wayan Dibia yang berjudul Sejarah Perkembangan Gong Kebyar di Bali, mengatakan bahwa di desa Bungkulan telah diciptakan lagu-lagu (tabuh) kekebyaran sekitar tahun 1910-an. Apa yang dikemukakan oleh I Gusti Bagus Arsaja, BA. ini apabila dihubungkan dengan adanya kompetisi gong kebyar di Jagaraga tahun 1915 ternyata dapat selisih waktu lima tahun. Batas waktu tersebut kiranya batas waktu yang masuk akal oleh karena sampainya suatu sekaa kepad arena kompetisi cukup memakan waktu untuk pematangannya. Waktu empat sampai lima tahun untuk proses pemantapan kiranya dapat diterima.

Berdasarkan uraian diatas kiranya telah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gamelan gong kebyar pertama kali muncul di Bali Utara ( Buleleng ) sekitar tahun 1914 di desa Bungkulan dan bentuk-bentuk kekebyaran sudah diciptakan antara tahun 1910 sampai 1914 yang dipelopori oleh I Gusti Nyoman Panji.

Hingga kini meskipun sudah berada di era modern, eksistensi kesenian gong kebyar tidak mengalami perubahan. Kesenian yang merakyat ini masih tetap disenangi oleh sebagian besar masyarakat. Tidak hanya itu, semua desa adat bahkan banjar adat di Bali memiliki barungan gong kebyar, sebab gamelan gong kebyar ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan melainkan sebagai sarana yang senantiasa digunakan untuk mengiringi setiap upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Bali. 

Dalam menjaga keberadaan gamelan gong kebyar ini, masyarakat telah melakukan berbagai upaya seperti mengadakan pasraman serta latihan megambel untuk berbagai kalangan, mulai dari anak – anak, remaja, dewasa, hingga orangtua. Gong kebyar sendiri tidak hanya digemari oleh para pria, tetapi juga wanita,  sebagai buktinya, telah banyak dibentuk sekeha gong kebyar wanita atau PKK di desa-desa di Bali.

undefined

(https://humassetda.bulelengkab.go.id/berita/bupati-pas-saksikan-parade-gong-kebyar-dewasa-pada-ajang-pesta-kesenian-bali-2017-75)

Tidak hanya itu, pemerintah juga turut serta dalam usaha pelestarian kesenian warisan leluhur ini melalui berbagai program pemerintah dengan dibukanya ruang berkreasi seperti Pesta Kesenian Bali, Bali Mandara Mahalango, dan Bali Mandara Nawanatya, yang tentu saja semakin memperkuat keberadaan gong kebyar di tengah masayarakat Bali.

Pemerintah juga menyelenggarakan festival tingkat provinsi, bahkan perkembangan festival yang menampilkan kesenian gong kebyar sudah mulai merambah tiap-tiap kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa yang ada di Bali. Dari program – program itu, masyarakat dapat mengolah dan mengekspresikan karya seninya dengan berbagai motif tabuh kekebyaran yang tentunya tidak meninggalkan pakem–pakem kesenian gong kebyar yang sudah ada, serta mengajak seluruh lmasyarakat secara langsung untuk turut serta menjaga kebudayaan lokal mereka.

Di era sekarang ini, gong kebyar seolah mengdaptasikan diriinya dengan modernitas masyarakat, hal ini dapat dilihat dari munculnya kreasi yang dibuat dalam penampilan kesenian gong kebyar, seperti motif–motif permainan baru bahkan beberapa alat dalam barungan gong kebyar telah banyak di kolaborasikan dengan musik band/akustik yang diolah sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suatu karya seni baru yaitu musik kolaborasi yang mengikuti zaman tetapi tetap memgedepankan kultur lokal.

Dilihat dari aspek ekonomi,  kesenian gong kebyar sebagai salah satu bagian dari kebudayan daerah tentunya memberikan efek yang cukup dalam hal peningkatan pendapatan masyarakat, mengingat banyaknya wisatawan yang memanfaatkan kebudayaan ini sebagai salah satu destinasi wisata, khususnya melalui pementasan–pementasan budaya yang diadakan oleh masyarakat setempat maupum objek wisata lain.

Meskipun keberadaan gong kebyar masih terbilang aman di era modern ini, tetap saja kita sebagai masyarakat tidak boleh lengah dan harus konsisten melakukan upaya upaya yang menjaga kelestarian gong kebyar sehingga kesenian ini tidak akan pernah punah. Menutup tulisan ini, saya mengajak para pembaca secara menyeluruh untuk turut berperan aktif dalam menjaga kesenian dan kebudayaan daerah Bali pada khususnya sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Mari cintai dan lestarikan kesenian Bali, agar kesenian Bali tetap ajeg dan lestari, karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook