KulKulBali.co

Sampi Sapu Jagat: Awal Kutukan Rare Angon

dalam Budaya

👤45 read komentar 🕔03 Jun 2018
Sampi Sapu Jagat: Awal Kutukan Rare Angon - kulkulbali.co

Jika Anda berkunjung ke Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, dan tidak sengaja melihat sapi yang penuh luka dengan darah berceceran yang dituntun keliling desa, maka Anda tidak perlu heran. Itu merupakan salah satu tradisi unik yang dimiliki oleh Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.


undefined

sumber: Nusabali.com

Dilaksanakan setiap 3 hari sebelum rahina ngusaba pitra di Desa Pakraman Gunaksa, tradisi ini merupakan upaya untuk menetralisasi hal-hal negatif di Desa tersebut. Tradisi ini juga dilaksanakan karena masyarakat percaya akan kutukan dari Rare Angon. Dikisahkan pada zaman dahulu, ada seorang pengembala sapi bernama Rare Angon. Ia memiliki dua ekor sapi yang dikenal sebagai sapi nyapu jagat karena, jika sapi tersebut digunakan untuk membajak sawah, maka tanah dari sawah tersebut akan menjadi subur luar biasa. Oleh karena kekuatan yang dimiliki sapinya itu, banyak warga yang meminjam sapi tersebut untuk menyuburkan sawahnya. Hal ini menimbulkan keirian dari seseorang yang bernama I Surakerta. Karena kedengkian telah mneyelimuti hatinya, I Surakerta pun membunuh sapi milik rare Angon tersebut.

Mengetahui sapinya telah dibunuh, maka murkalah Rare Angon. Kemarahan yang telah memuncak membuat Rare Angin mengeluarkan sebuah kutukan bahwa siapapun yang membunuh sapinya, maka ia dan keturunannya akan sosot atau hal buruk akan selalu terjadini. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar bagi masyarakat Desa Gunaksa untuk melaksanakan upacara atau tradisi mejaga-jaga, yang menjadi penjaga atau penangkal hal-hal negatif yang terjadi akibat kutukan dari rare Angon. 

Upacara ini dimulai dari matur piuning atau bersembahyang terlebih dahulu di Pura Buit, Desa Gunaksa. Setelah itu, mulailah sapi situntun dari pura buit keliling desa dengan rute yang mengikuti arah jarum jam. Dalam prosesnya, sapi yang dituntun akan dilukai dengan bambu atau lis hingga darahnya berceceran, namun sapi tersebut tidak boleh mati sebelum ritual selesai. Darah tersebut dipercaya dapat menetralisir aura negatif yang disebabkan oleh kutukan Rare Angon dan menjaga agar desa tetap dalam keadaan yang stabil. Upacara atau tradisi ini ditutup dengan menyembelih sapi di pura buit, lalu menghaturkan kepala sapi tersebut di pelinggih pura buit, sedangkan badannya akan dikubur di dekat pelinggih dengan lubang berukuran 2x1 meter dengan kedalaman 1,5 meter.


Jika upacara atau tradisi ini tidak dijalankan, maka masyarakat percaya bahwa hal-hal buruk seperti grubug akan terjadi di Desa Gunaksa. Maka, tradisi ini selalu dijaga dan dijalankan oleh masyarakat Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

 

Sumber:

https://www.nusabali.com/berita/3681/krama-gunaksa-gelar-tradisi-mejaga-jaga

https://radar.jawapos.com/baliexpress/read/2017/08/23/9071/mejaga-jaga-tradisi-cecerkan-darah-sapi-untuk-jaga-desa

https://bali.antaranews.com/berita/5865/warga-gelar-ritual-mejaga-jaga-netralisir-roh-jahat

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook