KulKulBali.co

[#JBK2014] Reklamasi? Polemik Masa Kini dan Mendatang

dalam Kabar > Badung

👤2209 read komentar 🕔04 May 2014
[#JBK2014] Reklamasi? Polemik Masa Kini dan Mendatang - kulkulbali.co

"Pemikiran menarik dari Gunggus Mapanji, salah seorang finalis Jegeg Bagus Klungkung 2014 yang dituangkan dalam artikel yang menarik pula. Namun untuk menghargai kompetisi yang sedang berlangsung, pihak editorial kulkulbali.co hanya membereskan beberapa typo. Selamat membaca!!!

Kulkulbali.co"

undefined

Memang benar reklamasi diperkuhkuhkan di setiap pesisir pantai yang ada di bali terutama yang mengalami abrasi. Tetapi, Mengapa pusat yang paling banyak terjadi di Badung dan Denpasar? Masih hangat pembicaraan ini di kalangan masyarakat Bali. Oke kita kupas bareng ya temen-temen.

Apa sih reklamasi itu??

Belakangan ini kita sering mendengar berita dari pulau dewata tentang reklamasi tanjung benoa. Nah yang masih bingung apa sih reklamasi itu, saya akan membahasnya pada artikel yang saya garap ini.

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase.

Apa sih tujuannya??

Nah tujuan diadakan reklamsi ialah umumnya seperti berikut :

Tujuan reklamasi umumnya adalah untuk menjadikan kawasan berair yang rusak atau belum termanfaatkan menjadi suatu kawasan baru yang lebih baik dan bermanfaat untuk berbagai keperluan ekonomi maupun untuk tujuan strategis lain. Kawasan daratan baru tersebut dapat dimanfaatkan untuk kawasan permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara, perkotaan, pertanian, jalur transportasi alternatif, reservoir air tawar di pinggir pantai, kawasan pengelolaan limbah dan lingkungan terpadu, dan sebagai tanggul perlindungan daratan lama dari ancaman abrasi  serta untuk menjadi suatu kawasan wisata terpadu.

Jika kita membaca penjabaran diatas, kita secara spontan akan berpikir bahwa reklamasi akan menghasilkan hal yang positif. Eitttsssss, jangan dulu berpikir positif saja. Kadang kita perlu untuk berpikir dari sudut pandang yang negatif dari adanya reklamasi. Mengapa seperti itu?? Jika kita hanya berpikir dari segi positifnya saja, kita akan gegabah dalam mengerjakan suatu hal. Nah, pastinya kita akan membayangkan suatu hal yang indah tanpa kita mengetahui apa dampak yang akan ditimbulkan bagi Pulau Dewata kita tercinta.

Koran dan media online setempat sedang seru-serunya membahas tentang reklamasi Teluk Benoa. Penolakan datang dari berbagai kalangan mulai dari para pemuka agama, aktivis lingkungan, LSM, mahasiswa, masyarakat, hingga artis setempat juga mengecam keras reklamasi yang didalangi oleh PT. Tirta Wahana Bali Internasional (PT.TWBI). Penolakan ini bukan tanpa alasan, dikhawatirkan reklamasi akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan bali khususnya ekosistem pantai.

Alasannya sebagai berikut:

Bencana : 

Berdasarkan kajian akademis Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (UNUD) atas permintaan PT. TWBI terkait reklamasi Teluk Benoa akan banyak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Hasil final feasibility study UNUD menyatakan bahwa, reklamasi Teluk Benoa tidak layak. Ada empat aspek kajian dalam studi kelayakan tersebut, yakni aspek teknis, lingkungan, sosial-budaya dan ekonomi-finansial. Adapun hasil kajian dari keempat aspek itu seluruhnya dinyatakan tidak layak. Ditinjau dari aspek lingkungan, Teluk Benoa merupakan jalur laut dan merupakan wilayah konservasi. Maka Reklamasi bertentangan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) Nomor 45 Tahun 2011.

Kawasan Teluk Benoa sebagai satu-satunya benteng yang secara alamiah berfungsi melindungi wilayah Bali Selatan dari berbagai bencana seperti banjir, tsunami, dan lainnya. Teluk Benoa juga merupakan muara dari sejumlah sungai besar yang terbentang di pulau Bali, seperti Tukad Badung dan Tukad Mati. Di kawasan itu juga merupakan tempat pemijahan ikan yang akan berkembang biak. Jika Reklamasi tetap dilakukan maka ikan yang ada di hutan mangrove akan terjebak, tidak dapat kembali kelaut yang berujung pada kematian ikan. Jika ikan jumlah berkurang maka tangkapan nelayan sedikit. Selain itu, akan mengurangi ombak di pantai lainya karna terpecah di Teluk Benoa.

(Cuma) Kepentingan Swasta :

Bali sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia yang tersohor akan keindahan pantainya dan budayanya. Berbagai event resmi internasional telah digelar di pulau Dewata ini sebut saja, KTT ASEAN, ajang Miss World 2013, KTT APEC, dan lain sebagainya. Hal ini lantas menjadikan Bali sebagai incaran para investor, terutama pihak asing. Dipastiakan Investor yang berbisnis di Bali pastinya tidak akan rugi. Mungkin inilah yang melatar belakangi PT. TWBI, sebuah perusahaan yang satu grup dengan beberapa perusahaan pengelola Discovery Kartika Plaza Hotel dan Discovery Shopping Mall di Kuta Bali serta Hotel Borobudur di Jakarta serta pemilik sejumlah gedung, termasuk Gedung Bursa Efek Indonesia. Anggota DPRD Bali menilai rencana reklamasi Teluk Benoa, setelah proyek pembangunan jalan tol di atas perairan akan memperparah lingkungan Pulau Dewata. "Bila reklamasi Teluk Benoa sampai terjadi, kondisi lingkungan Pulau Bali akan semakin rusak. Contoh dari ada reklamasi pantai memperparah kondisi lingkungan, coba lihat setelah reklamasi Pulau Serangan, dampaknya rusak di sekitarnya." kata Anggota Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya.

Menurut politikus asal Kelurahan Tanjung Benoa, Badung itu, proyek reklamasi merupakan pesanan investor. Ia lebih lanjut menyebutkan bahwa proyek reklamasi Pulau Serangan menjadi bukti kuat terjadinya kerusakan di lokasi lain. "Akibatnya kawasan Tanjung Benoa dihajar oleh ombak akibat reklamasi itu. Karena air laut selalu mencari keseimbangannya, ketika Serangan di reklamasi, maka ada ombak balik yang menerjang kawasan lain." katanya. (antaranews.com)

Nafsu Sang Gubenur :

Yayasan Artha Graha Network melalui anak usahanya PT TWBI menyiapkan dana sebesar Rp 30 triliun untuk proyek reklamasi Teluk Benoa. Menujrut  Direktur Utama Artha Graha Network, Wisnu Tjandra mengatakan rencana reklamasi kawasan seluas 838 hektar tetap berjalan dan pihaknya akan mempersiapkan kajian analisis dampak lingkungan untuk memperoleh izin reklamasi dari gubernur setempat. “Harus ada sesuatu yang baru di Bali, seperti pengembangan Sentosa Island di Singapura. Dasarnya itu. Proyek ini dikembangkan di atas lahan tidak produktif. Besaran investasi reklamasi dan lain-lain sekitar Rp30 triliun,” ujarnya. (bisnis.com)

Rencananya mereka akan membangun sebuah kawasan wisata terpadu yang dilengkapi tempat ibadah untuk lima agama, taman budaya, taman rekreasi sekelas Disneyland, rumah sakit internasional, perguruan tinggi, perumahan marina yang masing-masing dilengkapi dermaga yacht pribadi, perumahan pinggir pantai, apartemen, hotel, areal komersial, hall multifungsi, dan lapangan golf. Luasan reklamasi diperkirakan mencapai total sekitar 400 sampai 600 hektar.

Pulau baru itu pun direncanakan dapat diakses langsung dari jalan toll di atas perairan yang baru saja rampung. Belakangan diketahui, jalan di atas perairan yang menghubungkan Pelabuhan Benoa-Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua itu sudah dilengkapi taper (semacam lintasan untuk penambahan jalan) yang posisinya tepat mengarah ke Tanjung Benoa.

Mungkin hal inilah yang menjadikan Gubenur Bali, Made Mangku Pastika tergiur hingga meneteskan liur untuk mendukung penuh reklamasi Teluk Benoa. Ini terbukti dari dikeluarkanya SK Gubenur Bali Nomor 2138/02-C/HK/2012 Tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa di Kabupaten Badung. Hal ini lantas mendapat kecaman dari berbagai kalangan bahkan anggota DPRD Bali juga menolak SK ini. dan pada akhirnya sang Gubenur kembali mancabut SK tersebut.

Meski mendapat kencaman dari sejumlah kalangan yang mendesak agar Pastika tegas menolak rencana reklamasi tersebut, Pastika justru menilai reklamasi dapat menjadi solusi untuk menekan konversi lahan pertanian menjadi sarana pariwisata seperti terjadi selama ini. “Misalnya, daripada pakai sawah, kenapa nggak kita tambah luas pulau kita. Singapura bikin begitu kok. Hongkong bikin begitu. Singapura itu makin hari makin gede lho. Apa rusak? enggak.” kata dia. (mongabay.co.id)

Alangkah sangat disayangkan jika keindahan dan keasrian alam Bali harus dikorbankan demi segepok uang. Pertimbangkanlah dengan matang dampak keberlangsungan lingkungan. Alam akan menjadi sahabat terbaik jika kita perlakukan dengan baik sebaliknya, jika kita berprilaku buruk terhadap alam maka bencana besar pasti akan datang melanda. Apa kita menginginkan Tsunami yang terjadi di Aceh, dan Mentawai terjadi juga di Bali?

undefined

Memang dalam hal kemajuan globalisasi, Bali sudah sangat mencukupi untuk hal tersebut apalagi untuk lini fasilitas, infrastruktur dan pelayanan yang mencakup di dalamnya. Namun disini saya juga ingin share supaya temen-temen juga dapat kritis memikirkan nasib Bali untuk kedepannya, hehe. Sampai-sampai menimbulkan polemik yang sangat menghebohkan belakangan ini yaitu pembangunan sirkuit F1 di Bali. Wahhh gimana yaaa? Hmmmm.

Pernah sekali saya memikirkan, mengapa harus di Mangupura dan Denpasar yang menjadi pusat kemajuan era globalisasi? Kita tahu Bali memiliki aset pariwisata yang sangat memiliki potensi. Bali memiliki berapa kabupaten? Yaaa 9 termasuk Kodya Denpasar dan Mangupura. Tapi, mengapa hanya disana? Oke. Kalian pernah berpikir tentunya jika Denpasar saat ini kekurangan air bersih dan juga banyak kemacetan yang terjadi di Badung dan Denpasar apa solusinya adalah jalan tol? Bukan itu. Pikirkan nanti jika sudah fix reklamasi sudah berdiri di bali dan apakah wisatawan tidak berkunjung ke Bali? Pulau Bali akan membludak seperti ribuan semut yang berkumpul di suatu tempat dan dimana-mana semut itu akan kebingungan mencari jalan keluar untuk menempuh jalan baru yang sepi. Seperti itulah Bali nantinya. Kita Warga asli Bali akan pusing sendiri, apa sudah dipikirkan ya oleh pemerintah? Masih Banyak destinasi-destinasi pariwisata di bali yang masih kosong dan sepi. Lahan yang luas menjadi modal yang sangat potensial di masa ini apalagi kita tahu tidak harus Denpasar dan Badung saja yang harus dipadati hiruk pikuk seperti ibukota Jakarta. Kemacetan dan kekurangan air bersihlah yang masih harus dipikirkan pemerintah bali dan kota masing-masing. Masalah itu selalu menjadi ketentraman hidup kita.

Ada reklamasi sih saya masih pro dan kontra, bukan plin-plan ya, tetapi masih memikirkan apa yang sedang dipikirkan pemerintah kita saat ini. Mengapa tidak pembenahan secara penuh terlebih dahulu? Mengapa harus tergiur sesaat? Sudah saatnya kaum muda bergerak dan selalu menjaga ajeg Bali dan Sapta Pesona sebagai tolak ukur pariwisata di Bali. Tanpa itu, masihkah bali berbudaya? Itu pertanyaan yang mesti kita pikirkan matang-matang.

Sumber : http://teropongumsu.com

Editor : Gusti Ngurah Indrakusuma

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook