KulKulBali.co

[#JBK2014] Memaknai Sebuah Perayaan Ulang Tahun Vs Otonan

dalam Budaya

👤4081 read komentar 🕔05 May 2014
[#JBK2014] Memaknai Sebuah Perayaan Ulang Tahun Vs Otonan - kulkulbali.co

"Tulisan kedua dari finalis Jegeg Bagus Klungkung 2014 bernama Diah Ganaki Pusparini. Sebagai apresiasi untuk tulisan yang bersifat kompetisi ini, editor hanya membenahi beberapa typo yang ada. Yeah! Selamat menikmati dan semoga bermanfaat

Kulkulbali.co

 

Perayaan hari ulang tahun nan meriah merupakan idaman dan impian setiap anak tak terkecuali remaja di Bali. Suatu kebanggan ketika dapat merayakan Hari Kelahiran dengan mengundang kerabat dan rekan-rekan, sembari menjalin tali silaturahmi. Tidak dapat dipungkiri kemegahan dan kemeriahan gemerlap pesta ulang tahun yang selalu dihiasi oleh lilin, tumpeng, kue tart dan aneka gelembung balon serta badut selalu menjadi daya tarik dan ciri khas sebuah pesta ulang tahun. Selain itu iringan alunan lagu “Happy Birthday” dengan semaraknya di lantunkan oleh para undangan. Doa dan ucapan tertanam dan tersirat pada tiap bait syair irama tersebut. Beragam camilan dan juga hidangan yang lezat bahkan mampu menarik minat tamu untuk tidak beranjak dari pesta ulang tahun.

undefined

 

Kemegahan dan kemeriahan pesta ulang tahun berbanding terbalik dengan tradisi dan adat istiadat yang terdapat di Bali. Umat Hindu di Bali juga memiliki perayaan hari kelahirannya, dimana disebut dengan “Otonan” yang memberikan makna penyucian diri pada hari kelahiran. Perayaan otonan yang jatuh setiap 210 hari ini selalu dimaknai dan dihayati dengan khusuk oleh para umat Hindu di Bali. Perayaan Otonan yang disimbolisasi dengan sehelai “benang putih atau benang tridatu” yang melingkar pada pergelangan tangan kanan. Otonan yang dirayakan umat Hindu di Bali dirayakan dengan sederhana karena inti dari otonan di Bali bukanlah tingkat kemewahan namun bagaimana otonan itu dikhayati dan dipersembahkan secara tulus ikhlas.

undefined

 

 

Bagaimana pandangan masyarakat Bali saat ini dalam merayakan Otonan dan Ulang Tahun?

Masyarakat Bali yang merupakan masyarakat dengan rata-rata tingkat ekonomi menengah ke atas, mampu melaksanakan upacara yadnya tingkat “madya” bahkan hingga tingkat “uttama”. Namun pada kenyataannya seringkali kita lihat di masyarakat, orangtua yang menyayangi bahkan memanjakan buah hatinya dengan cara memberikan kejutan perayaan hari ulang tahun untuk buah hatinya secara meriah, tentu tidak salah... Perayaan ulang tahun yang notabene bukan merupakan adat istiadat di Bali sangat marak dirayakan dengan meriah. Namun jika kita cermati dengan seksama, perayaan hari ulang tahun yang dirayakan setiap satu tahun sekali dengan gemerlap kemeriahan sangat berbanding terbalik dengan perayaan hari kelahiran yang ada di Bali “Otonan”.

Kesederhanaan dan keikhlasan sebuah perayaan Otonan seharusnya lebih dapat dimaknai dan dihayati karena Otonan merupakan perayaan hari kelahiran yang dimana merupakan wujud rasa syukur dan terimakasih serta penyucian diri. Masyarakat Bali pada umumnya merayakan perayaan Otonan dengan penuh kesederhanaan. Hal ini bukan berarti bahwa perayaan “Otonan harus dirayakan dengan meriah dan mewah.

 

 

Namun, jika dinilai dari sudut pandang ekonomi dan makna sebuah upacara, seberapa pentingkah perayaan hari Ulang Tahun dan Otonan? Dan mengapa masyarakat Bali kini begitu bangga jika dapat merayakan hari Ulang Tahun?

Hak setiap orang untuk merayakan hari kelahirannya dengan cara yang mereka inginkan, namun apakah etis ketika kita merayakan perayaan hari Ulang Tahun dengan meriah sementara kita merayakan perayaan Otonan dengan melakukan “Yadnya Kanistama” atau yadnya yang tingkatannya dibawah “Madia”? Merayakan hari ulang tahun secara berlebihan jika dipandang dari segi ekonomi sangatlah tidak ekonomis dan terkesan pemborosan. Namun, perayaan Otonan yang sederhana ataupun dengan yadnya “Utama” sangatlah memberi makna yang mendalam dan memberi arti spiritual pada perayaan tersebut.

Alangkah baiknya jika perayaan hari “Otonan” dan perayaan “Ulang tahun” dirayakan atau ditandai dengan upacara yang sederhana, sehingga nilai ekonomis dari sebuah perayaan hari kelahiran dapat dimaknai dengan khusuk. Setiap individu memiliki kewenangan untuk merayakan hari kelahirannya, sehingga hal seperti ini kembali kepada individu masing-masing, apakah kita mampu memaknai perayaan “Otonan” dan juga mampu melaksanakan perayaan hari Ulang Tahun dengan sederhana?

Jawabannya ada pada diri kita.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook