KulKulBali.co

[#JBK2014] Konsep Menyama Braya Pudar Seiring Waktu Berjalan

dalam Inspirasi & Renungan

👤3791 read komentar 🕔08 May 2014
[#JBK2014] Konsep Menyama Braya Pudar Seiring Waktu Berjalan - kulkulbali.co

Tulisan buah karya I Komang Nirartha Wisnupada, Finalis Bagus Klungkung 2014 yang juga merupakan seorang Ketua OSIS SMAN 1 Semarapura. Sebuah tulisan yang lahir dari traumatis bentrok sesama saudara satu tanah kelahiran di Klungkung dan begitu menjamurnya organisasi masyarakat bermodal otot di Bali.
Oleh karena bersifat kompetisi, editor melakukan pekerjaannya seminimal mungkin, hanya membenahi beberapa typo.

KulkulBali.co

Menyama Braya.

Berbicara tentang Bali, tentu ada banyak hal yang dapat dibahas. Panorama alamnya yang begitu indah, kebudayaan luhur yang masih dijunjung, keseniannya yang memikat, dan masih banyak lagi.Selain terkenal dengan kebudayaannya, masyarakat Bali juga dikenal dengan keramahannya. Masyarakat Bali tidak sungkan untuk melempar senyum dan sapaan pada orang lain yang bahkan belum dikenalnya. Masyarakat Bali sejak kecil sudah diturunkan sebuah konsep oleh para leluhurnya yang dituangkan dalam suatu kearifan lokal agar dapat hidup berdampingan, selaras dan harmonis. Konsep itu adalah menyama braya. Menyama braya bagi masyarakat Bali selain sebagai kearifan lokal yang menjadi landasan moral dalam membangun relasi sosial, merupakan kekayaan utama dalam hidup dan sebagai jalan untuk menggapai kedamaian dan keharmonisan. Menyama braya memiliki makna bahwa semua orang merupakan saudara atau keluarga. Menyama braya disini memiliki makna plural,yakni menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga. Kearifan lokal inilah yang membawa nama masyarakat Bali sebagai masyarakat yang ramah di matadunia. Namun, dewasa ini konsep menyama braya semakin hari semakin pudar. Mengapa saya berani mengatakan demikian?

      undefined

 

Sudah banyak bukti yang memperlihatkan bahwa konsep menyama braya yang dahulu dijunjung tinggi, kini mulai ditinggalkan oleh masyarakat Bali, khususnya para pemuda. Pertikaian dan perselisihan semakin sering terjadi, yang awalnya akibat kesalah pahaman dan masalah sepele, berakir dengan pertumpahan darah antar kelompok masyarakat. Seperti di Kabupaten Klungkung tahun lalu, terjadi bentrokan antara warga Desa Kemoning dan Budaga akibat perebutan tempat suci. Selain itu, tempo hari terjadi pertikaian yang melibatkan dua ORMAS besar yang ada di Bali, yakni Laskar Bali dengan Baladika Bali yang awalnya dipicu oleh permasalahan perorangan.

Disaat seperti ini, nurani pun bertanya, dimanakah konsep menyama braya yang dahulu kita banggakan?Inikah warisan luhur yang nenek moyang kita ajarkan? Egoisme dan individualisme sedikit demi sedikit sudah mengikis konsep tersebut. Pemuda Bali yang seharusnya “ramah”, menganggap semua keluarga, kini malah bertengka dengan sesama pemuda Bali. Generasi yang seperti ini kah yang diinginkan untuk memangku kejayaan Bali kedepannya? Saya rasa tidak.

Saya sebagai generasi pemuda bali ingin memberikan solusi agar konsep menyama braya bisa kembali berperan dalam kehidupan bermasyarakat dibali. Yang pertama Indonesia adalah negara hukum, jika ingin memilih jalan hukum kita hanya perlu melaporkan seperti apa permasalahan yang terjadi dan biarkan pihak berwenang yang mengurus permasalahan itu. Pertumpahan darah itu tiada gunanya, hanya menyebabkan petaka, kesengsaraan dan kesedihan . Tingkatkan kesadaran diri dan toleransi yang kita miliki. Berpikir sebelum berbuat. Kita juga bisa melakukan musyawarah antar wilayah ataupun antar individu yang sedang berkonflik. Bisa dilakukan dengan cara konsultasi, negosiasi dan mediasi. Peran serta masyarakat di lingkungan masing-masing juga harus ditingkatkan untuk mencegah kurangnya informasi antara sesama. Partisipasi masyarakat juga harus diperbaiki. Ini dampak dari masalah ekonomi, salah paham, kurang informasi.

 undefined

Inilah Bali. Bali yang rukun, damai, sejahtera, dan penuh keceriaan, serta penuh kebudayaan dan tradisi-tradisi unik. Marilah kita tanamkan dan ingat kembali konsep menyama braya ini. Kita sebagai generasi muda harus sadar diri, dan bisa memangku kejayaan Bali di masa depan. “ Ngiring ajegang gumi Bali niki”.

 

Sumber : (http://menara-fm.com/bayu/bentrok-antara-warga-budaga-dan-kemoning-klungkung-bali.html)

(http://news.bisnis.com/read/20131014/78/181214/oknum-ormas-bentrok-di-denpasar-dari-laskar-bali-baladika)

 

 

 

 

Editor : Maha Dwija Santya

Tentang Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook