KulKulBali.co

[#JBK2014] Dampak Pariwisata Terhadap Tri Hita Karana di Bali

dalam Budaya

👤2177 read komentar 🕔10 May 2014
[#JBK2014] Dampak Pariwisata Terhadap Tri Hita Karana di Bali - kulkulbali.co

Tulisan kali ini adalah karya I Gusti Ngurah Arya Wirawan, finalis Bagus Klungkung 2014. Karena sifatnya kompetisi, editor hanya menyingkirkan sedikit typo yang ada, demi utuhnya karya sang penulis. Yeah! Semoga bermanfaat!

kulkulbali.co

 

Sebuah tempat yang menawarkan keindahan alam, tradisi , budaya serta kearifan masyarakat lokal dan menjadi salah satu ikon pariwisata di Indonesia yaitu BALI. Sehingga banyak wisatawan domestik maupun manca negara yang datang menikmati keindahan di bali, jadi dalam memenuhi ataupun memfasilitasi keinginan parawisatawan yang berkunjung ke bali maka diperlukannya pembangunan seperti hotel, restoran ataupun villa- villa. Juga diperlukannya karyawan sehingga memberikan lowongan pekerjaan kepada masyarakat local, namun seiring dengan berjalannya waktu banyaknya para investor yang datang ke bali untuk memfasilitasi dan mencari lahan dalam pembangunan hotel atau villa mengakibatkan banyaknya lahan-lahan produktif menjadi berkurang, sehingga hasil bumi khususnya di bali berkurang. Salah satu contoh seperti , Kabupaten Tabanan yang terkenal sebagai lumbung berasnya Bali sekarang terancam kehilangan sebagian lahannya karena banyak sawahnya beralih fungsi menjadi perhotelan ataupun villa-villa. Banyaknya modal dari investor untuk membeli tanah sehingga para pemilik tanah tergiur lalu menjual tanah nya tanpa memikirkan dampak yg timbulkan oleh banyaknya pembangunan yang terus-menerus. Seharusnya kita melestarikan dan menjaga alam agar di kehidupan nanti anak dan cucu kita bisa menikmati keindahannya serta bisa menjaga hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya (Palemahan).

undefined

Selain masalah meyempitnya lahan di kabupaten tabanan kini muncul Rencana reklamasi di Teluk Benoa yang menjadi polemik antara pendukung dan penolakan masalah reklamasi tersebut, karena berbagai pertimbangan jika proyek itu di bangun. Pemerintah Provinsi Bali sudah selayaknya membangun segala penunjang wisata baik restoran, hotel maupun insfrastruktur lainnya sehingga pemerintah berencana meberikan ‘lampu hijau’ kepada investor untuk melakukan kajian terhadap Teluk Benoa dengan alasan nantinya ada wisata terpadu, seperti Pulau Sentosa (Singapura).

Namun disisi lain ada kelompok masyarakat yang menolak reklamasi karena mereka trauma dengan reklamasi yang dilakukan di Pulau Serangan, sebab perluasan reklamasi yang dikerjakan oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) hingga saat ini belum ada proses pembangun maupun penataan. Di daerah tersebut, sehingga kelompok masyarakat yang menolak adanya reklamasi melakukan demonstrasi. Dari sinilah kita melihat pudarnya hubungan manusia dengan manusia (Pawongan).

undefined

Belum selesai masalah reklamasi di Teluk Benoa, dan kini muncul masalah baru yaitu pengijinan Pura Besakih sebagai KSPN.

PURA BESAKIH yangmerupakan pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu di Bali, Pura Agung Besakih adalah sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma. Oleh karena itu Pura Agung Besakih adalah pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya, dan memiliki perbedaan juga keunikan tersendiri dibandingkan tempat/ pura lainnya di Bali. Pura Besakih menja diterkenal karena kompleks candi yang didirikan disana, sehingga dikenal sebagai Pura Utama DI BALI. Kini pura terbesar di bal iyaitu pura besakih telah menjadi KSPN itu mengakibatkan banyaknya para tamu datang berkunjung sehingga banyak para pedagang memanfaatkan kesempatan ini untuk berdagang di pura tersebut. Ditakutkan hal ini akan menyebabkan masyarakat yang sedang melakukan persembahyangan terganggu akibat adanya aktivas parawisatawan yang ingin melihat – lihat keadaan pura ataupun pemandangan disekitar Pura dan begitu juga aktivitas para pedagang ,disamping itu akan mengurangi makna kesucian pura tersebut dan juga menyebabkan kurang harmonisnya hubungan antara manusia dan Tuhan (Parahyangan)

undefined

Siapakah yang bertanggung jawab atas masalah ini?

Disini tidak hanya pemerintah ataupun instansi yang terkait yang bertanggung jawab namun ini juga menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat, khususnya masyarakat Bali. Agar bali tetap ajeg lan lestari.

Seharusnya pemerintah tidak menyalah gunakan wewenangnya dalam mengambil suatu keputusan perlu adanya suatu pertimbangan dan perundingan kepada masyarakat terlebih dahulu agar memperoleh keputusan yang bisa diterima oleh pemerintah maupun dikalangan masyarakat sehingga tidak terjadi suatu konflik yang menyebabkan perpecahan. Sebetulnya Bali masih banyak memiliki potensi di bidang pariwisata apabila dikembangkan dengan baik tanpa harus mengorbarkan suatu lahan ataupun tempat suci salah satu contoh tempat yang bisa dikembangkan yaitu Kertagosa yang berada di Kabupaten Klungkung karena disana ada bangunan yang di langit-langitnya (plafon) terdapat lukisan yang menceritakan tentang pewayangan namun sayangnya pemerintah tidak serius dalam mengelolanya. Sehingga membuat tempat tersebut menjadi rusak dan kurang menarik, sehingga para wisatawan enggan untuk berkunjung .

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook