KulKulBali.co

Memahami Kegelapan

dalam Inspirasi & Renungan

👤3456 read komentar 🕔09 Jun 2014

OM Swastyastu,

Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru . . .

 

Gelap selalu identik dengan persepsi kita tentang hal yang tidak baik dalam kehidupan. Gelap akan digunakan untuk melambangkan mengenai kekuatan negatif, kekuatan setan, dan hal yang tidak menyenangkan lainnya. Lalu apabila semua persepsi itu benar adanya, apakah kegelapan itu salah?

"Cahaya akan selalu berdampingan dengan kegelapan. Kegelapan berasal dari cahaya itu sendiri. Cahaya akan terlihat bila kegelapan itu ada."

Ada pertanyaan dalam benak saya hingga sekarang ini, mengapa manusia sekarang sangat takut dengan kegelapan. Mereka takut dengan setan, mereka takut dengan tindakan-tindakan buruk, mereka takut dan kemudian mulai membencinya. Alhasil, munculah sekte-sekte yang memiliki ideologi bahwa manusia harus memerangi kegelapan. Munculah kelompok orang yang kemudian mengatasnamakan cahaya dan kemudian mulai memerangi kegelapan. Lalu pertanyaan saya, apakah yang mereka lakukan itu benar? Atau bahkan sebenarnya merekalah yang sedang dirasuki oleh kegelapan. Coba ingat, sifat cahaya adalah welas asih dan menyayangi. Orang yang diliputi oleh cahaya sejati bahkan akan menolong orang-orang yang pernah mencacinya dan melemparinya dengan kotoran. Jadi, perbuatan orang-orang yang mengatasnamakan cahaya untuk melakukan kekerasan adalah hal yang kurang tepat. Maksud hati ingin memerangi kegelapan tapi apa daya mereka sebenarnya malah tidak sadar bahwa sebenarnya telah dirasuki oleh sifat Kegelapan.

 

APAKAH KEGELAPAN ITU SALAH?

Lambang Setan

Sumber Gambar : http://www.seputarforex.com

Tidak. Kegelapan itu ada dan tidak salah. Kegelapan itu muncul dari adanya cahaya. Jadi, apabila mengutuk kegelapan, maka secara tidak langsung sebenarnya kita telah mengutuk cahaya. Kegelapan bersumber dari cahaya. Lalu faktanya, cahaya hanya akan dapat kita lihat dari adanya kegelapan. Cahaya tidak akan dapat kita lihat di tempat yang penuh cahaya tentunya. Kita perlu tempat yang gelap agar kita mampu melihat yang namanya cahaya.

Itu adalah analogi yang nikmat untuk memahami keberadaan Tuhan dan setan (alam bawah). Sekarang ini, banyak orang yang sangat takut dengan setan dan mulai memeranginya. Mereka bahkan melakukan tindakan kekerasan kepada manusia lainnya saat menilai perbuatan seseorang dipengaruhi oleh setan. Lalu pertanyaannya, bukankah menyiksa orang dengan kekerasan atas perbuatannya adalah sifat dari setan itu sendiri? Benar kata orang, terkadang setan itu tampak sangat tidak jelas, alhasil banyak orang yang terlihat menyungsung Tuhan namun sebenarnya mereka dipengaruhi oleh setan.

"Memerangi setan sama dengan menjadi setan itu sendiri"

Lalu apakah setan itu salah? Ya tidak. Coba ingat, setan itu diciptakan oleh Tuhan itu sendiri. Sama seperti dengan analogi cahaya dan kegelapan. Setan ibarat kegelapan bagi kita. Lalu, apakah setan salah ? Silahkan anda menganalogikannya sendiri.

 

 

Menerima kegelapan itu sendiri

Kita sekarang sudah mulai memahami bahwa sebenarnya kegelapan itu tidak salah dan memang ada. Lalu, bagaimana kita menyikapi kegelapan itu? Jawabannya sederhana, Terimalah kegelapan itu dengan ikhlas dan berbesar hati. Seperti yang dikatakan dalam tutur orang Bali, Rwa Bhineda :

"Hal positif dan negatif akan selalu berdampingan pada suatu hal yang sama."

Leak di Bali, perlambangan dari Energi Negatif

Sumber Gambar : http://nanoxx.files.wordpress.com

Artinya apa? Kehidupan akan selalu mengandung unsur positif (cahaya) dan negatif (kegelapan). Kita tidak akan dapat memisahkannya. Mereka bagaikan dua hal yang saling tergantung satu sama lainnya. Hal yang paling tepat untuk menyikapi kegelapan ialah dengan menerima keberadaannya dalam kehidupan kita, dan bukan dengan memeranginya. Jadi itulah yang saya maksud dengan menerima kegelapan itu sendiri. Menerima kegelapan bukan berarti kita telah terjerumus dalam kegelapan, melainkan kita menerima keberadaannya. Kita tetap hidup dalam cahaya, namun kita memahami cahaya dengan jalan menerima keberadaan dari kegelapan itu sendiri. Kembali ke pertanyaan saya tadi, bagaimanakah anda dapat melihat cahaya, tanpa adanya kegelapan? Seperti itulah kita harus menerima keberadaan dari kegelapan agar kita mampu melihat cahaya itu sendiri. Sekarang anda pasti mulai memahami apa yang saya maksud. 

"Jangan mengutuk kegelapan, mulailah untuk menyalakan Lilin"

Menerima keberadaan kegelapan sebagai bagian dari kehidupan adalah cara yang paling damai bagi kita untuk memahami kehidupan itu sendiri. Cara yang paling efektif bagi kita untuk dapat menemukan cahaya di dalam kehidupan. Bila memahami gagasan ini, kita akan mulai tertawa pada orang-orang yang menghabiskan sepanjang hidupnya dalam kepalsuan yang mengatakan dirinya memuja Tuhan namun ia memerangi setan dengan sangat keras. Setan dan "alam bawah" adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Terimalah keberadaan mereka sebagai fakta dari kehidupan ini. Keberadaan mereka merupakan kehendak dari Tuhan sendiri. Terimalah keberadaan setan dan "alam bawah" tersebut dengan ikhlas. Hormati mereka dan anda akan mampu melihat cahaya Tuhan.

Merubah Hal Negatif menjad Positif

Ini adalah tulisan saya sebelumnya. Saya menggambarkan bagaimana kita mampu untuk mengubah hal yang dasarnya negatif menjadi hal yang positif. Bukankah hal yang lebih baik apabila kita mampu untuk mengubah hal yang negatif menjadi hal yang positif? Hal inilah yang akan dapat kita lakukan pada kegelapan (setan dan "alam bawah").

 

Tradisi Mesegeh di Bali,

Menghormati "Alam Bawah" dan Menerima Keberadaannya

Sumber Gambar : www.500px.com

Kita menghormati dan menerima keberadaannya dalam kehidupan kita bukan berarti kita memuja mereka. Kita sebagai mahkluk ciptaan Tuhan akan senantiasa memuja Tuhan dan menerima keberadaan mereka (setan dan "alam bawah"). Saat kita bisa menerima dan menghormati keberadaan mereka, kita akan memulai langkah awal kita untuk dapat menemukan Tuhan. Langkah pelan tetapi pasti bagi kita, dengan seiring waktu, kita mulai dapat mengubah setan dan "alam bawah" menjadi lebih positif dan kemudian kembali pada hakikatnya kepada Tuhan itu sendiri. Hal yang sama seperti analogi saya sebelumnya tentang hal negatif dan positif. Kita menerima keberadaan hal negatif di dalam kehidupan kita, lalu kemudian kita memulai untuk mengalikannya dengan hal negatif, yang berarti kita melakukan hal yang sebaliknya dari hal negatif tersebut, maka kita akan mampu menemukan hal yang positif dan bukan negatif lagi. Begitulah dengan keberadaan mereka (setan dan "alam bawah"), saat mereka memberikan pengaruh negatif pada kehidupan kita, cobalah untuk memberikan pengaruh yang sebaliknya maka kita akan mampu mengubahnya menjadi hal yang positif. Kita selain mendapatkan cahaya, kita akan mampu untuk mengubah Kegelapan menjadi cahaya. Hal yang sangat nikmat dalam kehidupan ini bila kita mampu untuk melakukannya. Haha, tampaknya anda mulai bisa memahami gagasan saya ini.

 

Semoga bermanfaat. Santih, OM

ngiring melancaran mriki : www.iwayanbayudiatmika.com

Editor : Maha Dwija Santya

Tentang Penulis

IWayan Diatmika

Humanis Konstruktivisme

Lihat Semua Artikel

Artikel Lain dari Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook