KulKulBali.co

Bagaimana Jika Bali Disebut Pulau Seribu Minimarket?

dalam Inspirasi & Renungan

👤2194 read komentar 🕔24 Jun 2014
Bagaimana Jika Bali Disebut Pulau Seribu Minimarket? - kulkulbali.co

Tulisan ini adalah karya Luh Putu Dewi Pradnyanitya Pastini, duta Kabupaten Gianyar dalam Jegeg Bagus Bali 2014. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

KulkulBali.co

Pulau Seribu Minimarket.

Semua lapisan masyarakat tentu pernah melakukan transaksi di minimarket. Selain cepat, masyarakat juga merasa lebih nyaman dan leluasa memilih keperluan mereka dengan harga yang terjangkau. Meski tidak menyediakan semua yang ada di pasar tradisional, minimarket bisa menyediakan keperluan rumah tangga dan masyarakat disegala usia. Bahkan, minimarket sangat mudah ditemukan karena pembangunannya yang kian pesat dan padat.

Tetapi, apa jadinya jika minimarket dibangun ditempat yang tidak seharusnya? Atau, bagaimana jika minimarket dibangun kurang lebih setiap 100 meter disisi jalan? Sangat menyedihkan, sepanjang jalan kita bisa menemukan lebih dari 5 minimarket yang sama.

Ada sebuah fenomena nyata di Banjarangkan, Klungkung. Sepasang suami istri kehilangan banyak pelanggannya saat minimarket dibangun tepat di depan toko sembakonya. Padahal, di toko itulah mereka menggantungkan nasibnya. Dan mari kita lihat minimarket desekitar jalan raya Pasar Sukawati, Gianyar. Ada 4 jenis minimarket yang berbeda dan parahnya dibangun secara berdampingan mengelilingi pasar seni tersebut. Bagaimana dengan eksistensi pasar? Meskipun Pasar Sukawati tetap ramai, namun akan lebih bagus jika keperluan yang ada di minimarket itu bisa dibeli konsumen di pasar sukawati. Pendapatan penduduk lokal yang menggantungkan penghasilan di pasar itu dapat ditolong.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan minimarket memang sangat menguntungkan masyarakat karena memudahkan mereka dalam berbelanja. Dibandingkan ke pasar-pasar tradisional yang dari segi infrastruktur dan kenyamanan tidak sepadan dengan yang ditawarkan di minimarket. Tapi, jika dilihat dari segi sosialnya pun, minimarket membawa dampak yang sepertinya kurang baik, meski menguntungkan dari segi waktu.

Mengapa kuantitas minimarket semakin menjamur dimana-mana?

Flashback ke kurang lebih 5 tahun silam, deretan ruko-ruko penjual kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional yang ramai menjadi pusat sosialisasi masyarakat. Transaksi tawar menawar, keramaiannya begitu terasa. Namun yang ada saat ini, deretan minimarket sepanjang jalan dengan penerangan yang sangat benderang, membuat sosialisasi antar masyarakat semakin turun. Bagaimana mungkin terjadi sosialisasi seperti di pasar tradisional dalam minimarket? Perlahan konsep menyamabraya bias terkikis.

Mungkin jika kita kelilingi beberapa kabupaten di Bali seperti Gianyar, Denpasar, atau Badung secara bergantian, kita bisa temukan lebih dari 100 minimarket yang beberapa diantaranya adalah minimarket yang sama. Sejujurnya sangat tidak enak untuk dilihat, meski sebetulnya memang bermanfaat. Bayangkan saja jika 2 tahun kedepan sudah bermunculan jenis minimarket baru di Indonesia, dan menjamur di Bali. Apakah Bali akan menjadi Pulau seribu minimarket?

Semestinya hal ini bisa diatur oleh pemerintah. Pembatasan izin pendirian minimarket perlu dilakukan. Khususnya, agar pembangunan minimarket tidak kebablasan di pusat kota dan menjaga eksistensi pasar tradisional. Supermarket saja sudah menjamur di Bali, mengapa kini begitu mudahnya memberi izin untuk pembangunan minimarket?

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook