KulKulBali.co

Prahara Pendidikan Dasar

dalam Kabar > Nasional

👤7246 read komentar 🕔25 Jun 2014
Prahara Pendidikan Dasar - kulkulbali.co

Tulisan berikut adalah karya Darjika Astu, duta Kabupaten Tabanan dalam Jegeg Bagus Bali 2014. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Kulkulbali.co

 

Tidak bisa dipungkiri pendidikan merupakan jalan utama menuju kemajuan suatu bangsa. Tanpa generasi yang terdidik sulit rasanya membawa bangsa ini kepada kemajuan ditengah arus globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang semakin luas. Sumber daya manusia yang unggul merupakan kunci agar bangsa kita tidak menjadi bangsa yang tertinggal dalam derasnya arus perubahan ini.

Berbicara mengenai pendidikan, kita tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai pendidikan dasar. Bagaimana tidak, pendidikan dasar merupakan batu pertama sebagai pijakan dalam melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Ibarat bangunan, jika batu pertamanya saja sudah rapuh, maka dapat dipastikan bangunan tersebut akan mudah ambruk. Demikian pula dengan pendidikan dasar, jika tidak tertanam dengan kuat maka anak–anak akan mengalami kesulitan dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi bahkan pada kasus esktrim anak–anak bisa gagal dalam menempuh pendidikan selanjutnya.

Pemerintah sudah menetapkan pendidikan dasar adalah selama 9 tahun yaitu 6 tahun di tingkat sekolah dasar (SD) dan 3  tahun di sekolah menengah pertama (SMP). Pendidikan dasar 9 tahun ini bersifat wajib atau kita kenal dengan istilah wajib belajar (wajar) 9 tahun. Arti wajib disini adalah bahwa semua anak Indonesia yang umurnya memenuhi syarat (antara 6–14 tahun) harus mengenyam jenjang pendidikan dasar. Pendidikan dasar yang diberikan kepada setiap anak Indonesia tentunya harus memiliki kualitas yang baik dan tidak membebani siswa baik dari segi biaya maupun dari segi proses belajar mengajar. Namun, ironi yang terjadi saat ini di berbagai daerah (kota besar) di Indonesia termasuk di Bali, bahwa pendidikan dasar khususnya pendidikan tingkat sekolah dasar belum memiliki kualitas yang sama, masih  adanya fenomena “ada harga ada barang (kualitas)”, serta masih membebani siswa dari segi materi pelajaran.

 

SD Negeri Vs SD Swasta

Di beberapa Kabupaten/Kota di Bali, seperti Denpasar, Tabanan, Badung, Gianyar dan Buleleng, sudah menjadi rahasia umum jika kualitas SD swasta lebih bagus dibanding SD negeri. Kualitas guru yang lebih baik, materi pelajaran yang lebih komprehensif, serta ditunjang berbagai sarana dan fasilitas yang lebih lengkap menjadi alasan mengapa banyak orang tua khususnya yang berpenghasilan menengah ke atas memilih SD swasta sebagai tempat menimba ilmu bagi anak–anak mereka. Tengok saja salah satu SD swasta favorit yang ada di Kabupaten Tabanan (kebetulan keponakan saya bersekolah disana), gedung sekolah yang masih relatif baru, ditambah berbagai fasilitas seperti perpustakaan yang cukup lengkap, ektrakulikuler yang lebih beragam, marching band, dan fasilitas lainnya, merupakan keunggulan dari SD swasta ini. Ketika saya bandinkan dengan salah satu SD Negeri yang terletak di wilayah pedesaan di kecamatan Marga (kampung tempat tinggal saya), saya melihat bangunan yang masih sedikit kuno, perpustakaan seadanya, dan minim kegiatan ektrakulikuler. Bahkan, SD Negeri ini tidak memiliki guru bahasa inggris, jauh dengan SD swasta yang bahkan sudah menerapkan sistem dwi bahasa (bilingual). Dengan kesenjangan ini lantas bagaimana anak–anak dari SD negeri ini bisa berprestasi dengan maksimal. Sungguh ironi, karena pendidikan dasar harusnya memiliki kualitas yang sama bagi seluruh anak Indonesia tanpa mengenal strata ekonomi seperti ini.

(Sumber Foto: https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2011/03/anak20sd.jpg)

Setiap tahun ajaran baru, banyak orang tua yang menjerit karena terkaget kaget dengan biaya sekolah yang mahal. Bagi mereka yang berpenghasilan menengah ke atas, tentunya biaya sekolah tidak menjadi masalah. Namun bagi mereka yang berpenghasilan rendah, namun ingin anaknya dapat berprestasi maksimal dengan memasukkan anaknya ke SD Swasta harus mengurungkan niatnya. Bagaimana tidak, biaya masuk SD swasta bisa mencapai 6 - 10 juta rupiah. Bahkan diluar itu, karena terbatasnya kapasitas di SD swasta, orang tua rela merogoh kocek mereka dengan membayar extra 5 – 7 juta rupiah untuk satu bangku di SD swasta favorit. Memang fenomena ada harga ada barang (kualitas), berlaku juga di dunia pendidikan. SD Negeri yang konon katanya gratis pun masih dikenakan uang iuran seperti uang komite. Belum lagi biaya untuk seragam sekolah dan buku pelajaran, menyebabkan orang tua kembali bertanya–tanya, ”katanya gratis, tapi kok tetap keluar biaya”.  Meskipun pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk membuat pendidikan dasar ini tanpa biaya, namun masyarakat khususnya yang berpendapatan rendah masih merasa ada beban yang harus mereka tanggung guna menyekolahkan anaknya. Jangankan untuk mengejar kualitas di SD swasta, untuk bertahan di SD negeri saja mereka harus tetap berjuang.

 

Cerita dari Negeri Sakura

Kakak saya yang pernah mengenyam pendidikan S2 di negeri Sakura, bercerita bahwa di Jepang semua sekolah dasar itu sama dari segi kualitasnya. Tidak ada sekolah SD favorit disana, sehingga tidak ada orang tua yang desak–desakan atau sogok–menyogok dalam mencari sekolah. Setiap anak bersekolah di sekolah yang sudah ditentukan pemerintah berdasarkan alamat rumah mereka, sehingga anak SD disana wajib jalan kaki ke sekolah. Semua sama, tidak memandang si kaya dan si miskin. Biaya sekolah pun gratis (tidak ada uang komite). Orang tua hanya membayar uang makan siang bagi mereka yang ingin anaknya makan siang di sekolah, namun jika membawa bekal sendiri maka tidak perlu membayar.

(Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Di Jepang, anak SD ke sekolah dengan ceria, karena materi pelajaran yang diajarkan tidak berat. Mereka hanya belajar Kokugo (Bahasa Jepang), Sansu (Matematika), Zukou (Seni), Ongaku (Musik), Seikatsu (Pengetahuan tentang kehidupan), Taiiku (Olahraga), Dotoku (Etika), dan Tokubetsu Katsudo (Aktivitas di kelas seperti diskusi, dll). Bahkan materi pelajarang yang diberikan sering diulang–ulang sampai anak–anak benar-benar paham. Berbeda halnya dengan SD di Indonesia, keponakan saya ketika berangkat sekolah seperti camping saja. Bengitu banyak buku yang dibawa karena banyaknya materi pelajaran yang diberikan. Hampir 10 mata pelajaran yang didapat dan rata–rata adalah pelajaran hapalan (selain matematika tentunya). Belum lagi setiap pelajaran harus menyediakan paling tidak 3 buku tulis untuk buku catatan, buku pekerjaan rumah (PR), dan buku latihan/ulangan. Sungguh berat beban anak SD disini, sehingga mereka masih berpikir bahwa pergi ke sekolah adalah suatu beban tersendiri. Belum lagi jika masa ulangan tiba, dimana mereka harus belajar ekstra agar mereka bisa naik ke kelas selanjutnya. Bahkan ketika menghadapi Ujian Nasional (UN), anak–anak harap–harap cemas seolah–olah hidup mati mereka ditentukan oleh hasil UN tersebut. Berbeda halnya dengan di Jepang, disana tidak ada sistem kenaikan kelas, namun setiap anak menerima laporan perkembangan pendidikan yang berisi hal–hal apa yang harus ditingkatkan dari si anak sendiri.

(Sumber Foto: http://azwaryoga.blogspot.com/2013/06/berat-beban-siswa-indonesia.html)

 

Pendidikan Dasar harus Merata, Murah, dan Fun

Ya, pendidikan khususnya sekolah dasar harus sama kualitasnya, terjangkau bagi semua kalangan, dan harus meyenangkan bagi anak. Upaya – upaya harus senantiasa dikembangkan agar kesetaraan dalam dunia pendidikan dapat terwujud. Sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, maka sudah menjadi keharusan bahwa pendidikan tersebut haruslah sama bagi setiap warga negara tanpa memandang si kaya dan si miskin. Pendidikan juga harus menyenangkan bagi setiap anak sehingga harus diupayakan sebuah sistem pendidikan baik itu menyangkut kurikulum maupun bahan ajar yang dapat menghapuskan beban anak–anak dalam belajar. Terakhir, ujian nasional khusunya di tingkat sekolah dasar seyogyanya dihapuskan agar anak–anak dapat belajar tanpa ketegangan. Ujian nasional pada kenyataannya telah membuat anak–anak mecari seribu cara untuk dapat lulus seperti mencontek, mencari bocoran, dan sejumlah kecurangan lainnya. Harusnya, mereka belajar bukan karena akan mengikuti ujian saja, tapi mereka harus belajar karena ingin memahami sehingga terlahirlah generasi–generasi muda yang cerdas, kritis, dan beretika.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Tentang Penulis

Darjika Astu

Mahasiswa jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di UNDIKSHA | *Finalist Bagus Bali 2014 (Wakil Kabupaten Tabanan) | Semifinalist L-Men Of The Year 2014 | Teruna KMHD YBV UNDIKSHA 2014 | PUTERA PGSD 2013 | Runner UP II PUTERA UNDIKSHA 2013 | Favorit BAGUS Tabanan 2012 | TOP 5 BAGUS TABANAN 2012 | Freelance Model. CP : 7527D710 | Follow me on Twitter : @darjika_astu | Instagram : darjika astu | Facebook : Darjika Astu

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook