KulKulBali.co

Masyarakat Lokal Vs Masyarakat Pendatang

dalam Inspirasi & Renungan

👤4123 read komentar 🕔26 Jun 2014
Masyarakat Lokal Vs Masyarakat Pendatang  - kulkulbali.co

"Tulisan berikut adalah karya Utama Wangsa, salah satu finalis Jegeg Bagus Bali 2014. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Kulkulbali.co

 

Saat ini Bali sudah mulai sesak karena kepadatan penduduknya. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat pendatang. Menurut data dari BPS Bali, jumlah penduduk Bali di tahun 2012 mencapai 3,68 juta jiwa, dan akan mengalami pertambahan menjadi 3,75 juta jiwa di tahun 2014 ini, seperti yang diprediksikan oleh datastatistik-indonesia.com. Ini berarti Bali akan semakin padat di tahun 2014. Memang benar, tingkat pertumbuhan penduduk di Bali dapat memberikan dampak positif berupa tersedianya tenaga kerja, namun di sisi lain tingkat pertambahan penduduk yang tidak terkontrol rawan menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, di antaranya kriminalitas, dan beban terhadap daya dukung wilayah Bali seperti yang dilansir oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang dikutip dalam kompas.com.

Makin banyaknya pendatang yang datang ke Bali menandakan bahwa Bali memang menjadi target utama dari masyarakat pendatang dalam mencoba peruntungan hidupnya. Hal itu mereka lakukan melalui berdagang, baik itu barang maupun jasa. Salah satu contohnya hampir tiap malam deretan pedagang makanan berjamur menghiasi sudut kota dan sebagian besar usaha makanan itu dimiliki oleh para pendatang. Sebenarnya, secara tidak langsung ini membuat peluang masyarakat Bali dalam mengais rejeki di tanah sendiri menjadi berkurang. Bila ini terus dibiarkan, masyarakat Bali hanya bisa berperan sebagai penikmat saja, padahal sebenarnya kita sebagai masyarakat Bali memiliki potensi untuk bisa menghasilkan barang atau jasa yang bisa dinikmati juga. Seperti contohnya, pendatang bisa membuka warung lalapan dan membuat kue onde-onde, orang Bali bisa membuat lesehan nasi jinggo dan manisan klepon yang tidak kalah nikmatnya.

Bila mau kita sadari lebih mendalam, Bali merupakan pulau yang dihuni masyarakat kreatif. Banyak hal yang bisa dihasilkan dari tangan-tangan handal masyarakat Bali, baik itu kuliner makanan maupun kerajinan tangan. Ditambah lagi dengan campuran budaya yang kental, kreatifitas terebut akan menghasilkan berbagai jenis usaha yang mengagumkan yang bernilai tinggi dan membuka peluang kreatifitas tersebut menembus pasar internasional. Sebagai contohnya yang sudah dikenal adalah kita mampu menghasilkan kain endek khas bali yang dipakai oleh 21 kepala negara dalam KTT APEC.

undefined

Sumber foto: media.viva.co.id

Kemudian kita memiliki para pelukis handal yang hasil karyanya sudah menembus pasar internasional seperti yang dilansir oleh kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali I Ketut Teneng dalam Bali.Bisnis.Com yang menyebutkan bahwa volume ekspor lukisan naik 110,93 persen dari 76.750 lembar pada triwulan I-2013 menjadi 163.887 lembar pada triwulan I-2014. Lalu kita juga mempunyai para pemahat kayu terampil yang ditahun 2013 kemarin tercatat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali dalam antarabengkulu.com telah mengekspor kerajinan kayu sebesar 52,8 juta dolar AS dan pengrajin perak berkualitas yang selama periode Januari-Februari 2014 tercatat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali dalam bandung.bisnis.com telah mengekspor perhiasan dan permata Bali mencapai US$2,5 juta atas perdagangan 1,4 juta unit. Selain itu, juga terdapat berbagai jenis kesenian di Bali, mulai dari tari-tarian, megambel, nyanyian dan kreatifitas kesenian lainnya yang memukau, seperti tari kecak di Uluwatu yang sudah terkenal, serta kita juga terampil dalam mengolah makanan yang memiliki rasa khas Bali seperti betutu.

Hal tersebut hanya merupakan sebagian kecil contoh dari peluang usaha yang sudah merupakan garis dari pencitraan orang Bali di mata dunia. Sebagai masyarakat Bali kita dilahirkan ditengah kehidupan yang mendidik kita menjadi orang kreatif, tidak seharusnya kita hanya diam sebagai penonton di tanah sendiri. Salah satu solusi dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang melanda masyarakat bali adalah dengan menerapkan ekonomi kreatif. Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008) dalam tabeatamang.wordpress.com merumuskan ekonomi kreatif sebagai upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan. Sehubungan dengan itu, Bali sebenarnya sudah memiliki modal seperti nuansa alam yang berkarakter dan dukungan dari pariwisata. Hal inilah yang akan menambah peluang usaha yang bisa di ambil oleh masyarakat Bali. Sebagai contohnya usaha Agrowisata Trikaya di Jalan By Pass Prof. Dr Ida Bagus Mantra. Usaha ini menggabungkan sistem bercocok tanam petani khas Bali dengan pariwisata.

undefined

Sumber foto: Penulis

Selanjutnya, tinggal bagaimana masyarakat bisa menyadari potensi yang dimilikinya ataupun sumber daya sekitar yang mendukung kemudian diolah dan diaplikasikan kedepannya hingga menjadi bentuk usaha yang mempunyai nilai jual. Disini juga diperlukan peran pemerintah sebagai pengayom dan pemberi solusi dalam setiap masalah, seperti keuangan dan kelancaran dalam memperoleh ijin. Tidak hanya itu, peran masyarakat Bali pun juga signifikan, yakni kita seharusnya lebih mengutamakan membeli keperluan sehari-hari pada penjual asli bali. Ini sebagai wujud solidaritas kita menyamebraye, asah, asih, lan asuh.

Melalui tulisan ini, saya mengajak masyarakat Bali secara luas membuka mata untuk setiap peluang yang ada dan selanjutnya membangkitkan, menyadari, serta merealisasikan setiap potensi dan kelebihan yang dimiliki menjadi sebuah usaha nyata. Kemudian, seterusnya tetap menjaga kedaulatan masyarakat Bali dan kreatifitas budayanya yang telah mendarah daging demi keajegan Bali, sehingga pelan tapi pasti, Bali yang mandara (maju, aman, damai, dan sejahtera) akan terwujud seutuhnya. Serta agar tidak ada lagi anekdot dan omongan masyarakat yang mengatakan bahwa “pendatang datang ke Bali jualan bakso untuk beli tanah, sementara orang Bali jual tanah untuk beli bakso”.

Bali untuk orang Bali, bukan Bali untuk pendatang.

Sumber :

http://bali.bps.go.id/tabel_detail.php?ed=604003&od=4&id=4

http://www.datastatistik-indonesia.com/proyeksi/index.php?option=com_proyeksi&task=show&Itemid=941

http://media.viva.co.id/images/2013/10/08/225101_para-pemimpin-ktt-apec-2013-berbaju-batik.jpg

http://regional.kompas.com/read/2012/05/30/17174648/Penduduk.Bali.Bertambah.400.000.Orang

http://bali.bisnis.com/read/20140608/16/45411/ekspor-lukisan-dari-bali-naik-154

http://www.antarabengkulu.com/berita/18532/produk-ukiran-kayu-khas-bali-laku-diekspor

http://bandung.bisnis.com/read/20140429/20/507647/singapura-banyak-beli-hiasan-dari-perajin-bali

http://tabeatamang.wordpress.com/2012/09/05/ekonomi-kreatif-definisi-dan-potensinya-di-indonesia/

Editor : Gusti Ngurah Indrakusuma

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook