KulKulBali.co

Masih “Lek” Pakai Endek?

dalam Budaya

👤5015 read komentar 🕔30 Jun 2014
Masih “Lek” Pakai Endek? - kulkulbali.co

Tulisan berikut adalah karya Ni Luh Candrawati, finalis Jegeg Bagus Bali 2014 duta Kabupaten Bangli. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Kulkulbali.co

 

Kata “Lek” seringkali diucap oleh masyarakat Bali ketika mereka merasa tidak pantas melakukan sesuatu dan menggunakan sesuatu. “Lek” merupakan Bahasa Bali yang berarti malu. “Lek” berkaitan dengan perasaan yang berhadapan dengan rumusan nilai-nilai umum pandangan masyarakat terhadap diri kita. Lalu, bagaimana ketika kaum muda Bali masih “lek” untuk memakai endek?

Endek merupakan kain tenunan khas Bali, yang memiliki berbagai macam motif dan warna yang berbeda di setiap kabupaten di Bali. Kain endek mulai berkembang sejak tahun 1985, yaitu pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung. Kain endek ini kemudian berkembang di sekitar daerah Klungkung, salah satunya adalah di Desa Sulang. Namun saat itu, endek biasanya digunakan oleh para raja ataupun kaum bangsawan. Proses pembuatan endek yang rumit dan memakan waktu yang lama, serta harga yang ditawarkan sangat tinggi membuat endek hanya dapat dinikmati oleh segelintir lapisan masyarakat.

Proses pembuatan endek juga unik, dimulai dari memintal benang dengan alat tenun, kemudian benang dibentangkan dengan alat perentang, dan helainya diikat dengan tali rapia sesuai dengan pola ragam hias dan warna yang diinginkan. Di Desa Sidemen, tepatnya di Kabupaten Karangasem proses pembuatan endek dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisatawan.

Seiring berjalannya zaman, sekitar sepuluh tahun yang lalu kerajinan endek pernah mengalami mati suri.Hal ini dikarenakan persaingan produksi kain sejenis buatan pabrik yang mulai masuk kepasaran, selain itu bahan baku yang sulit didapat, harga benang yang mahal, dan kualitas yang tidak sesuai dengan standar produksi kain endek merupakan salah satu faktor terpuruknya industri endek pada saat itu. Akan tetapi, pada tahun 2011 sampai sekarang kain endek mulai berkembang kembali akibat bahan baku yang murah serta berkembangnya berbagai motif kain endek yang sesuai dengan kebutuhan pasar. 

Jika dilihatperbedaan yang sangat jauh tentang perkembangan endek dari zaman dulu sampai sekarang, seharusnya endek bisa menjadi trend dikalangan masyarakat salah satunya dari sisi desain busana. Karena sekarang ini endek bukan hanya sebagai seragam  pegawai dan seragam sekolah saja, banyak masyarakat luar Bali dan wisatawan asing sudah lebih dulu mengangkat endek dan menjadikan endek sebagai dasar dalam membuat pakaian.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali (2013), endek merupakan produk unggulan Provinsi Bali. Peluang ekspor endek cukup besar dilihat masih tingginya ekspor tekstil di Indonesia, yaitu memyumbang rata-rata 62 persen dari total kontribusi komoditas ekspor (Kompas, 2013).

Masalah terbesar yang membuat kaum muda Bali masih malu memakai endek, karena pemikiran mayoritas kaum muda Bali susah untuk diubah. Endek biasanya dipakai sebagai kamen dalam upacara adat agama Hindu.kepercayaanakan kesakralan beberapa motif kain endek itu sendiri merupakan salah satu faktor penyebab endek jarang dipakai sebagai busana. Selain itu membanjirnya produkasing yang mulai masuk ke Bali juga menjadi salah satu indikatornya.Generasi muda Bali kini lebih memilih memakai produk asing dengan merek terkenal karena nilai gengsinya berbanding lurus dengan harga. Selain itu, banyak generasi muda yang beranggapan bahwa endek hanya untuk orang yang lebih tua dan untuk para pegawai saja. Sehingga, kecintaan dan kebanggaan masyarakat Bali, terutama generasi muda pada produk lokal dikalahkan dengan kecintaan mereka pada produk asing. Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tarik endek untuk kaum muda di Bali?

Peran pemerintah juga sangat penting untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan kaum muda Bali terhadap endek, diantaranya dengan cara memperkenalkan endek di berbagai lapisan. Misalnya di setiap sekolah, dari Taman Kanak-kanaksampai tingkat Universitas diharapkan terdapat hari khusus yang mengharuskan pengajar dan siswanya menggunakan pakaian endek. Selain itu memberikan ruang kepada pengrajin endek  dalam berkreatifitas, memberikan pembekalan, bantuan dari segi alat tenun yang modern, memberikan pasar yang luas, dan menganggap mereka ada sebagai salah satu aset yang dapat melestarikanbudaya Bali.Dengan adanya pengakuan tersebut pengrajin endek ini akan merasa dihargaidalam meneruskan dan melestarikan seni menenun kepada anak cucu mereka. Selanjutnya perlu juga memberikan ruang pada desainer muda Bali untuk mengangkat endek sebagai salah satu hasil karya busana modern namun tetap bernuansa budaya. Sehingga nantinya endek bukan dikhususkan untuk kalangan-kalangan tertentu dan bukan hanya digunakan dalam acara resmi saja, desain yang dibuat juga dapat digunakan untuk semua kalangan termasuk generasi muda.

Mengingat, pemasaran endek saat ini masih bersifat tradisional dan belum banyak ada terdapat gebrakan berarti untuk menjadikan endek sebagai fashion dunia, bahkan di Indonesia pun endek masih belum mampu menyaingi kepopuleran batik. Oleh karena itu dibutuhkan  bantuan dari perancang-perancang busana untuk memperkenalkan endek lebih luas. Perajin endek bekerja sama dengan para perancang busana untuk memperkenalkan endek melalui pentas-pentas peragaan busana batik tingkat nasional maupun internasional

Dari sisi ekonomi dan pariwisata.pemerintah juga dapat bekerja sama dengan agen-agen pariwisata  dan pemerintah di masing-masing kabupaten untuk membuat pasar seni yang khusus mengangkat endek khas kabupaten mereka, ini bertujuan untuk memperkenalkan endek khas kabupaten mereka seperti halnya pasar Klungkung, sehingga pasar seni tersebut menjadi kunjungan wajib wisatawan.Ini dibuat untuk mengeksplor lagi dan memberikan ciri khas di setiap kabupaten tentang endek itu sendiri dan pasar ini juga dapat memberikan pengetahuan kepada kaum muda Bali dan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Selain itu peran masyarakat akan kesadaran menjaga budaya juga sangat penting, endek memiliki tekstur kain yang tipis dan tidak membuat panas jika saat dipakai merupakan salah satu yang dapat disadari oleh kaum muda, motif yang berbeda dan tidak akan ditemukan di daerah ataupun negara lainnya, sehingga masyarakat  dan terutama kaum muda tidak takut lagi dan bangga untuk memakai endek dalam aktivitas kesehariannya.

Oleh karena itu, keterlibatan semua pihak dalam mempromosikan endek yang lebih gencar dan melindungi endek dari penjiplakan, menjadikan endek dapat semakin terangkat seiring dengan peningkatan kreativitas, inovasi dan desainer lokal untuk memenangkan persaingan lokal, domestik, maupun internasional. Begitu besar potensi budaya yang dimiliki Bali, kita sebagai kaum muda bukan hanya sebagai penikmat keindahan budaya asing saja, kita juga harus sadar sangat penting apabila kita dapat  melestarikan dan membanggakan endek, karena tidak menutup kemungkinan  endek dapat menjadi identitas Indonesia seperti batik. Bagaimanapun, endek begitu dekat dengan keseharian serta kehidupan masyarakat Pulau Bali. Semenjak dalam kandungan, kelahiran, upacara keagamaan, hingga kematian, endek begitu dekat dan melekat. Jika tenun ikat atau endek saja dulu bisa berjaya, mengapa tidak untuk saat ini. Jangan sampai karena kita terlalu mencintai budaya asing, kekayaan budaya seperti endek nantinya bisa saja diakui oleh negara lain. Mau?

 

http://travel.kompas.com/read/2012/05/02/11394959/Ikat.Bali.Nan.Memikat

http://diahiswari.blogspot.com/2009/05/endek-bali-sebagai-produk-berbasis.html

 

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra
Topik : #jbb2014, #budaya, #bali

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook