KulKulBali.co

Jual Sawah, Gadaikan Masa Depan

dalam Inspirasi & Renungan

👤2960 read komentar 🕔02 Jul 2014
Jual Sawah, Gadaikan Masa Depan - kulkulbali.co

Tulisan berikut adalah karya Sunilaningrat Dharmayani, finalis Jegeg Bagus Bali 2014 duta Kabupaten Buleleng. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Kulkulbali.co

Kondisi dan jumlah sawah di Bali belum mampu mengatasi problematik swasembada ketahanan pangan yang sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk. Data laju pertumbuhan penduduk di Bali menurut data Statistik Indonesia terus mengalami peningkatan, dari 3,150.0 jiwa tahun 2000, 3,378.5 jiwa tahun 2005, 3,596.7 jiwa tahun 2010, 3,792.6 jiwa tahun 2015, 3,967.7 jiwa tahun 2020 dan 4,122.1 jiwa tahun 2025. Ironis, sedangkan di sisi lain data jumlah alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian sebagai akibat pertambahan penduduk menunjukan bahwa pada tahun 2009 total lahan sawah di Bali tercatat seluas 81,931 Ha, sedangkan pada tahun 2012 total lahan sawah tercatat 81,625 Ha. Ini menunjukan dalam kurun waktu 4 tahun terjadi alih fungsi lahan sebesar 306 Ha. Akankah kita beri makan beton anak cucu kita nanti? Akankah selamanya kita bergantung pada pasokan beras dari luar bali? Bukankah lucu negeri ini jika kita menjual tanah leluhur yang ujung-ujungnya untuk membeli beras impor?

Di Bali, sawah memiliki peran yang sangat kompleks. Selain sebagai lahan penghasil pangan, sawah merupakan aset kebanggaan keluarga yang memiliki nilai investasi pantang turun dari tahun ke tahun. Sawah menjadi tempat kerinduan surgawi ketika mata lelah memandang hiruk pikuk kesibukan di perkotaan. Sawah juga merupakan tempat untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan yang oleh umat Hindu dipercaya memberi kemakmuran. Dan sawah juga merupakan salah satu tempat perkembangan kebudayaan Bali yang tradisinya masih dipertahankan hingga saat ini.

Banyak media yang sudah membahas nilai ekonomis sawah sebagai aset atau pun sebagai objek yang menarik bagi para wisatawan. Namun hanya segelintir yang mengangkat sisi lain sawah dari perspektif lokal. Sebagai tempat pemujaan, Anda tidak akan heran melihat pelinggih[1] dibalut kain putih-kuning yang jelas terlihat di antara hamparan hijau sawah. Para petani memiliki kebiasaan bersembahyang dengan canang atau berbagai rarapan[2] yang dihaturkan ke pelinggih tersebut. Itulah cara mereka mempercayai serta bersyukur kepada Tuhan. Sebuah cara yang unik nan cantik dalam menjaga keharmonisan hubungannya dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka memiliki suatu pemikiran positif dan keyakinan bahwa Tuhan akan menjawab permohonan mereka dengan memberikan kondisi sawah yang subur, hasil panen yang melimpah serta kesejahteraan bagi petani.

Dari segi adat, sawah melahirkan organisasi kemasyarakatan yang bernafaskan asas gotong royong dalam mengelola pengairan sawah secara adil dan merata. Masyarakat Bali menyebutnya Subak[3]. Bersama dalam satu misi mereka belajar bertoleransi, kompak dan tolong-menolong demi kelangsungan sawah setiap anggota di dalamnya. Sederhana, tetapi merupakan contoh nyata implementasi keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam serta dengan manusia lainnya.

Dari pemaparan di atas, dapat dirasakan bahwa sawah tidak semata sebuah media untuk bercocok tanam. Jika lebih membuka mata, sawah sesungguhnya adalah sebuah ruang untuk belajar, mengamalkan pemahaman keagamaan, mengajegkan nilai-nilai kehidupan sosial yang menjadi budaya, melestarikan lingkungan, bersosialisasi, bahkan menjadi sumber inspirasi dan kedamaian. Begitulah kondisi ideal yang seharusnya terus dipertahankan. Kenyataannya, fungsi sawah perlahan-lahan telah tergeser. Sifat serakah ternyata mampu mengalahkan tatanan nilai dan filosofi sawah yang telah menjiwa sejak lakon sejarah. Satu per satu tanah sawah “dicaplok” dan dialihfungsikan. Beragam vila dibangun. Berbagai tempat rekreasi beradu. Bahkan tidak sedikit perumahan yang  menawarkan kemewahan fasilitas, juga dibangun di atas tanah yang dulunya sawah. Sadar atau tidak, masyarakat Bali juga terseret dalm pusaran kemegahan pembangunan pariwisata berkelas dunia. Meninggalkan nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan sosial bahkan merelakan warisan leluhur kepada tangan-tangan asing, dalam hal ini adalah sawah—“duwen nak lingsir!”[4]

Seiring berkurangnya jumlah sawah, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang faktor materialistis. Kita bukan hanya kehilangan sebuah aset atau nilai ekonomi dari sawah tersebut, kita juga kehilangan sebuah platform kebudayaan, kehilangan warisan leluhur, dan kehilangan kesempatan di masa depan untuk menunjukkan kepada anak cucu tentang nikmatnya bermain dan berinteraksi dengan alam. Bermain dengan lumpur, menyusuri pematang sawah, berinteraksi dengan petani, menghirup aroma helai-helai padi muda, melihat orang-orangan sawah dan mendengar burung-burung bersahutan ketika panen. Mungkin di masa depan kesempatan itu bisa dilihat melalui kecanggihan teknologi informasi, namun semua itu hanya mampu ditampilkan dari sisi dunia maya tanpa langsung merasakan sensasi yang sesungguhnya.

Akankah semua cerita tentang sawah hidup abadi di buku dongeng masa depan? Tegakah kita membiarkan tradisi serta kebudayaan pelan-pelan hanyut terseret zaman? Bukankah Anda yang selama ini ditunggu-tunggu oleh ribuan kekhawatiran tersebut untuk bertindak, melakukan aksi nyata? Juallah sawah sebanyak-banyaknya dan gadaikanlah keindahan masa depan!

* * *

[1] Tempat pemujaan umat Hindu berupa tugu

[2] Persembahan oleh-oleh yang umumnya berupa makanan

[3] Kelompok petani yang mengurus sitem pengairan sawah di Bali

[4] “Milik para leluhur”

 

Sumber informasi:

http://distanprovinsibali.com/lahan-pertanian-pangan-berkelanjutan/

http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=919

Sumber foto:

http://bali.bisnis.com/read/20140629/16/45799/alih-fungsi-lahan-areal-pertanian-berkurang-400-ha-per-tahun

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook