KulKulBali.co

Siaga Satu, "Bom Bali III"

dalam Budaya

👤1888 read komentar 🕔03 Jul 2014
Siaga Satu,

"Tulisan berikut adalah karya Priska Dewi, duta Kabupaten Jembrana di ajang Jegeg Bagus Bali 2014. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Selamat membaca, dan semoga bermanfaat!

Kulkulbali.co

 

Isak tangis menggelegar tatkala bom menyapu bersih kawasan Kuta, 12 Oktober 2002. Bali merana. Disetiap penjuru berkumandang pupuh adri (nyanyian pengiring kematian) dibarengi caci maki keluarga yang berduka terhadap ulah biadap para terorisme. Bali yang konon katanya “Surga Dunia” seketika menjadi neraka tulang belulang manusia. Dunia pariwisata Bali hancur. Belum pulih dari sakit yang terdahulu, Bali merana untuk kedua kalinya. Tepat pada 1 Oktober 2005 bom Bali II menambah rentetan keterpurukan Bali yang hancur lebur digerogoti para terorisme.

Layaknya bayi yang baru saja dilahirkan, Bali kembali mengais puing-puing harapan, mengumpulkannya dan menjadikan seikat semangat untuk memulihkan kembali Bali tempo dulu. Siapa sangka Optimisme itu kini terlampau berhasil. Bahkan tanpa diduga bom Bali III datang, memporak-porandakan seisi Baliku. Taukah bagian yang diserang oleh bom Bali III? “Budaya dan moral masyarakat Bali”.

Bukanlah Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron. Tetapi orang Balilah yang memicu ledakan bom ke-III itu. Budaya Bali yang tersohor sudah di-“Bom” oleh sebuah budaya global yang membuat kebudayaan dan moral masyarakatnya terpuruk jatuh. Tidak cukupkah Bali merana dimasa terdahulu? Orang-orang Bali terlalu larut dengan kenikmatan racun budaya global tanpa menyadari dirinya mulai terbinasakan dirumahnya sendiri. Bila pada masanya nanti kebudayaan Bali tergulung ombak dan takluk menyerah pada dunia global, dampak terbesar juga akan menghantam dunia pariwisata, sektor yang membuat Bali kaya raya.

Seserius apakah budaya global menerjang Bali? Sudah pada tingkat yang membunuh kebudayaan bali, seperti ditataran ritual. Dulu, apabila gadis remaja tak bisa membuat banten, maka dianggaplah sebagai kegagalan orang tua dalam membangun karakter budaya Bali. Namun sekarang, dengan banggganya seorang ibu berkata “luh, tolong belikan ibu daksina pejati beserta canang gonjer dan ini uangnya”. Hal sekecil itu sudah mencirikan budaya yang seharusnya dipegang teguh kini tergeserkan dengan budaya konsumtif masyarakat Bali.

Terlanjur kaya dan terlanjur manja dimanfaatkan dengan baik oleh kaum pendatang. Sayur mayur yang dimakan sehari-hari kini bukan lagi dari kebun sendiri, melainkan buah hasil dari para pendatang yang menetap di Bali. Para gadis Bali yang tinggal di tegalan mulai canggung untuk turun memanen. Bagaimana tidak, kuku tangan dan kaki telah penuh dilumuri cat (kotek). Mereka berfikir sangat disayangkan apabila harus memanen umbi-umbian yang identik dengan tanah. Tak berhenti disitu, para pemuda juga menggelengkan kepala ketika diharuskan untuk mencangkul. Masa lengan bertato pegang cangkul? Kembali lagi budaya gengsi meledak dikalangan teruna-teruni Bali yang katanya ajeg Bali, namun acap kali mengacuhkan tempat kelahirannya tersebut. Bali ibaratnya gadis perawan yang mempesona. Banyak yang ingin menyicipi kenikmatan tubuhnya dan pada dekade ini gadis yang tersohor dimana–mana itu tak luput dari gunjingan. Ada yang menyebutkan si gadis terlalu gampang menerima cinta, bahkan terkesan mudah “diperkosa” tanpa ada perlawanan utuk melindungi kehormatannya .

Mulai kini , orang Bali haruslah berubah. Kalau tidak ingin musnah . Jangan mau menjadi budak tolol di pulaunya sendiri . Tidak perlu mewah agar ingin diakui dunia, toh juga Bali tempo dulu yang bersahaja sudah bersahabat dengan turis mancan negara . Biarlah Bom Bali I dan II menjadi luka pilu di wajah Bali asalkan Bom pembunuh Budaya dan moral masyarakat Bali urung untuk meledak . Karena hingga hari esok nanti , Bali tidak akan menjadi milik orang lain, namun tetap menjadi milik orang Bali .

Editor : Gusti Ngurah Indrakusuma

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook