KulKulBali.co

Pengaruh Globalisasi Terhadap Cara Berpakian Adat

dalam Budaya

👤12318 read komentar 🕔05 Jul 2014
Pengaruh Globalisasi Terhadap Cara Berpakian Adat - kulkulbali.co

Tulisan berikut adalah karya Sadika Pusdiana, finalis Jegeg Bagus Bali 2014 duta Kabupaten Bangli. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru, khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Era globalisasi yang dicirikan oleh pesatnya perdagangan, industri pengolahan pangan, jasa dan informasi yang akan mengubah gaya hidup masyarakat, terutama di perkotaan. Globalisasi sudah berpengaruh ke berbagai aspek kehidupan manusia di dunia. Arus globalisasi tersebut telah memberi kemudahan dan kelancaran dalam perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IPTEK). Akan tetapi, biasanya kemajuan IPTEK masih dikuasai oleh Negara-negara maju. Kondisi ini mengakibatkan negara-negara berkembang termasuk Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisasi dalam berbagai bidang. Pada akhirnya, muncul sikap masyarakat Indonesia yang mau mengikuti dan sikap teguh pada pendirian (masyarakat tradisional).

Dewasa ini, Indonesia yang masih dalam tahap negara berkembang ingin memajukan seluruh komponen bangsa Indonesia terutama di bidang pendidikan agar tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu, dalam bidang pendidikan di Indonesia saat ini banyak ditunjang oleh manfaat dari teknologi modern. Perkembangan teknologi diharapkan memberikan dampak positif dalam menunjang proses belajar remaja. Namun disisi lain banyak juga remaja yang berstatus bersekolah terjerumus melakukan hal-hal yang negatif, karena tidak bisa memanfaatkan teknologi sesuai dengan tempatnya.

Indonesia terdiri dari 33 provinsi yang terbentang dari sabang sampai merauke. Bali merupakan salah satu provinsi yang berada di Indonesia. Bali terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa PenidaPulau Nusa LembonganPulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu.

Kebudayaan di daerah Bali sangat kental dan masyarakat wilayah bali terkenal dengan keramahannya. Pura merupakan tempat persembahyangan dimana pura merupakan tempat untuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Generasi Intelek

Intelektual dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (Gunarsa,1991). Menurut Alfred Binet (dalam irvan,1986) intelegensi adalah suatu kapasitas intektual umum yang antara lain mencakup kemampuan-kemampuan : (a) menalar dan menilai; (b) menyeluruh; (c) menciptakan dan merumuskan arah berfikir spesifik; (d) menyesuaikan pikiran dalam pencapaian hasil akhir; (e) memiliki kemampuan mengkritik diri sendiri.

Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, generasi ini merupakan generasi yang berperan dalam usaha pembaharuan bangsa sehingga diharapkan generasi muda mampu memiliki kemampuan yang sering disebut dengan intelektual. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia atau KBBI (Badudu,1996), intelektual diidentikan dengan kaum intelek, kaum terpelajar, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M.Echols,1989), intellectual diartikan sama dengan cendikiawan, cerdik dan pandai. Dalam kamus filsafat (Loren Bagus,1996), intelek diartikan sebagai kemampuan untuk mengetahui, untuk mengerti secara konseptual dan menghubungkan apa yang diketahui atau dimengerti. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kaum intelektual merupakan sosok teladan, berpendidikan dan mempunyai pengetahuan yang tinggi.

Generasi muda dapat digolongkan sebagai kaum intelektual akan tetapi tidak banyak generasi muda yang digolongkan sebagai kaum intelektual jika dilihat dari pengertian intelektual itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari potret atau gambaran generasi muda saat ini yang terpikir dan meracuni pikiran adalah dunia fashion, kegiatan sehari-hari hanyalah berpacaran, main-main di jalan, hura-hura dan banyak lagi yang lainnya, jika seseorang generasi muda khususnya remaja yang baru masuk ke masa peralihan dari anak-anak ke dewasa mereka mulai terpengaruh akan sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang melanggar norma yang berlaku di masyarakat, hal itu juga terjadi dan menyerang remaja Hindu di Bali. Remaja Hindu di Bali mulai memudarkan budaya bali dan mencampurkan budaya modern ke pakaian adat ke pura. Sebagai generasi muda kita tidak boleh bermalas-malasan dan berdiam ditengah informasi dan ruang yang lebih sempit yang mulai menjajah budaya bali.

Budaya Berpakaian Adat Ke Pura

Globalisasi budaya yang telah diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang mulai mengalami modifikasi. Contoh nyatanya adalah dalam hal pembuatan sesajen (banten), tidak jarang masyarakat bali mengganti bahan yang dijadikan banten menjadi makanan-makanan ringan yang dijual di supermarket. Tidak hanya banten, busana adat ke pura juga mulai mengalami perubahan model. Bali yang sangat kental dengan nuansa adat dan budaya dengan filosofi di dalamnya, selain itu bali juga terkenal dengan julukan “Pulau Seribu Pura”. Pura merupakan tempat suci yang digunakan sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu. Dalam melakukan persembahyangan, umat hindu perlu menyiapkan sarana serta berpakaian yang sopan, hal tersebut merupakan simbol untuk memuja beliau. Namun di era globalisasi ini, cara berpakaian umat hindu juga terkena imbas. Remaja cenderung memiliki hasrat untuk mengikuti model berpakaian orang barat yang cenderung terbuka dan cenderung menyimpang dari norma yang berlaku.

Berdasarkan posting oleh Wasudewa Bhattacarya dalam http://acaryawasu.blogspot.com/2012/11/tatwa-busana-adat-bali-makna-dan.html menyebutkan bahwa dalam menggunakan busana adat bali diawali dengan menggunakan kamen. Lipatan kain/kamen (wastra) putra melingkar dari kiri ke kanan karena laki-laki merupakan pemegang dharma. Tinggi kamen putra kira-kira sejengkal dari telapak kaki karena putra sebagai penanggung jawab dharma harus melangkah dengan panjang. Tetapi harus tetap melihat tempat yang dipijak adalah dharma. Pada putra menggunakan kancut (lelancingan) dengan ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat), ujungnya yang kebawah sebagai simbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. Kancut juga merupakan simbol kejantanan. Untuk persembahyangan, kita tidak boleh menunjukkan kejantanan kita, yang berarti pengendalian, tetapi pada saat ngayah kejantanan itu boleh kita tunjukkan. Untuk menutup kejantanan itu maka kita tutup dengan saputan (kampuh). Tinggi saputan kira-kira satu jengkal dari ujung kamen. Selain untuk menutupi kejantanan, saputan juga berfungsi sebagi penghadang musuh dari luar. Saput melingkar berlawanan arah jarum jam (prasawya). Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan selendang kecil (umpal) yang bermakna kita sudah mengendalikan hal-hal buruk. Pada saat inilah tubuh manusia sudah terbagi dua yaitu Butha Angga dan Manusa Angga. Penggunaan umpal diikat menggunakan simpul hidup di sebelah kanan sebagai symbol pengendalian emosi dan menyama. Pada saat putra memakai baju, umpal harus terlihat sedikit agar kita pada saat kondisi apapun siap memegang teguh dharma. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kwaca) dengan syarat bersih, rapi dan sopan. Baju pada busana adat terus berubah-rubah sesuai dengan perkembangan. Pada saat ke pura kita harus menunjukkan rasa syukur kita, rasa syukur tersebut diwujudkan dengan memperindah diri. Jadi, pada bagian baju sebenarnya tidak ada patokan yang pasti. Kemudian dilanjutkan dengan penggunakan udeng (destar). Udeng secara umum dibagi tiga yaitu udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan), udeng dara kepak (dipakai oleh raja), udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku). Pada udeng jejateran menggunakan simpul hidup di depan, disela-sela mata. Sebagai lambing cundamani atau mata ketiga. Juga sebagi lambang pemusatan pikiran. Dengan ujung menghadap keatas sebagai simbol penghormatan pada Sang Hyang Aji Akasa. Udeng jejateran memiliki dua bebidakan yaitu sebelah kanan lebih tinggi, dan sebelah kiri lebih rendah yang berarti kita harus mengutamakan Dharma. Bebidakan yang dikiri simbol Dewa Brahma, yang kanan simbol Dewa Siwa, dan simpul hidup melambangkan Dewa Wisnu Pada udeng jejateran bagian atas kepala atau rambut tidak tertutupi yang berarti kita masih brahmacari dah masih meminta. Sedangkan pada udeng dara kepak, masih ada bebidakan tepai ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan. Sedangkan pada udeng beblatukan tidak ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya di blakan dengan diikat kebawah sebagai symbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

undefined

http://3.bp.blogspot.com/-qRcB5ZjYRdA/UKHjiwiOAvI/AAAAAAAAACU/CdSkEmbirC4/s1600/canon+project+586.jpg

Namun dewasa ini keberadaan pakaian adat ke pura banyak yang melenceng dari aturan yang sudah ditetapkan. Saat ini sudah ditemukan banyak busana pakaian adat yang tidak sesuai dengan norma yang ada dan berlaku di Masyarakat pada umumnya. Banyak baju kebaya yang berlengan pendek kurang lebih 20cm diatas jari-jari tangan. Dengan berpakaian seperti itu otomatis pula mengundang setan-setan yang mulai berniat buruk pada diri kita. Berbusana adat yang baik dinilai dari seberapa seseorang dapat memanfaatkan kamen, selendang, kebaya dan riasan rambut yang diatur sedemikian rupa agar tetap rapi.

Pakaian adat Bali menyimpan nilai filosofi yang sangat mendalam. Filosofi pakaian adat Bali dalam beberapa hal mungkin hampir sama dengan kebanyakan pakaian adat daerah lain, namun karena Bali juga merupakan salah satu tempat yang disakralkan dan sudah mendunia, maka filosofi pakaian adat Bali ikut menjadi penting dalam eksistensinya. Pakaian adat Bali memiliki standardisasi dalam kelengkapannya.Pakaian adat Bali lengkap biasanya dikenakan pada upacara adat dan keagamaan atau upacara perayaan besar. Sedangkan pakaian adat madya dikenakan saat melakukan ritual sembahyang harian atau pada saat menghadiri acara yang menggembirakan. Seperti pada saat pesta kelahiran anak, sukses memperoleh panen atau kelulusan anak dan penyambutan tamu. ilosofi pakaian adat Bali pada dasarnya bersumber pada ajaran Sang Hyang Widhi, yakni Tuhan yang diyakini memberikan keteduhan, kedamaian dan kegembiraan bagi umat Hindu yang mempercayainya.

Setiap daerah memiliki ornamen berbeda yang memiliki arti simbolis dalam pakaian adatnya masing-masing. Meskipun demikian, pakaian adat Bali pada dasarnya adalah sama, yakni kepatuhan terhadap Sang Hyang Widhi. Pakaian ini juga seringkali digunakan untuk membedakan kasta, yang merupakan buatan manusia itu sendiri. Di hadapan Sang Hyang Widhi, manusia semua sama derajatnya. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada sang pencipta, pakaian adat Bali adalah suatu bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Ini adalah hal yang wajar, mengingat jika anda sebagai tamu maka akan merasa terhormat jika disambut oleh pemilik rumah yang berpakaian bagus dan rapi.

undefined

http://kata-kita.com/wp-content/uploads/2013/07/parasayu_021.jpg

Untuk saat ini banyak generasi muda yang menggunakan trend kebaya seperti gambar di atas. Entah apa yang mereka pikirkan. Dari hal tersebut saya membuat suatu gagasan menguhubungkan generasi intelek untuk menciptakan budaya ajeg Bali melalui cara berpakaian adat ke pura. Mengingat berpakaian adat ke pura merupakan ciri khas dari Provinsi Bali umumnya, memang terlihat anggun jika seseorang ke pura dengan pakaian sedemikian rupa dan menggunakan aksesoris yang berlebihan. Namun ada baiknya jika seseorang pergi ke pura berniat untuk menghadapkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa tidak menggunakan pakaian seperti itu. Tuhan tidak akan memandang seseorang dari caranya berpakaian.

 

 

Sumber :

(http://id.wikipedia.org/wiki/Bali).

http://acaryawasu.blogspot.com/2012/11/tatwa-busana-adat-bali-makna-dan.

Editor : Maha Dwija Santya

Tentang Penulis

Sadika Pusdiana

Bagus Bangli 2014 l Follow me on => Instagram : sadikapusdiana l Facebook : Sadika Pusdiana

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook