KulKulBali.co

Esensi Palebon Agung Klungkung (Bade Tumpang Sebelas Terakhir)

dalam Budaya

👤6371 read komentar 🕔06 Jul 2014
Esensi Palebon Agung Klungkung (Bade Tumpang Sebelas Terakhir) - kulkulbali.co

Tulisan ini adalah karya Prisma Andari, finalis Jegeg Bagus Bali 2014 duta Kabupaten Klungkung. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

Bali adalah salah satu pusat pariwisata di Indonesia. “Berkunjung ke Indonesia belum lengkap rasanya bila tak ke Bali”, inilah kalimat yang sering terlontar dari bibir wisatawan. Memang benar, pulau Bali merupakan tujuan favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain dikarenakan memiliki daya tarik alam yang luar biasa. Pulau Bali juga memiliki berbagai warisan budaya dan tradisi luhur yang masih tertanam sampai saat ini. Salah satu tradisi tersebut adalah ngaben.

undefined

sumber

Ngaben atau yang kerap disebut palebon ini merupakan upacara Pitra Yadnya dimana mayat/jenazah dikremasi melalui pembakaran pada suatu wadah atau tempat yang dinamakan Bade. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan roh leluhur yang sudah meninggal. Tradisi ini masih dilakukan secara turun-temurun oleh hampir semua lapisan umat Hindu di Bali.

Seperti contoh pada 29 Juni kemarin, Puri Agung Klungkung menggelar Palebon Agung. Palebonan ini memang cukup menghabiskan waktu yang lama untuk mencari hari baik. Mengingat Ida I Dewa Istri Putra ini merupakan Permaisuri Raja Klungkung yang terakhir. Sehingga jenazah/layon didiamkan kurang lebih 7 bulan hingga menemukan hari yang tepat.

Prosesi Palebon Agung seperti ini tentunya merupakan tradisi budaya yang langka dan sulit ditemukan. Selain menggunakan Naga Banda dan lembu seperti layaknya ngaben pada umumnya. Palebon Agung ini juga menggunakan Bade tumpang sebelas setinggi 28 meter dan dengan berat 6 ton. Prosesi Palebon ini diawali dengan melaspas Bade di Catus Pata Klungkung. Kemudian, keesokan harinya layon dilakukan prosesi murwa daksina dengan mengitari Catus Pata sebanyak 3 kali. Kemudian layon dinaikkan ke Bade tepatnya di sebuah  bale-bale pada ketinggian 13 meter. Selanjutnya, sampai pada saat paling menarik yaitu prosesi manah Naga Banda oleh Ida Pedanda Gde Putra Tembau. Karena Bade harus diusung oleh 450 orang, pihak puri tidak kehabisan akal dengan menggunakan sistem estafet agar penyusung tidak kelelahan. Kurang lebih 6.500 krama dari berbagai banjar di Klungkung telah disiapkan. Mengingat, ini merupakan tradisi ngaben terakhir Puri Klungkung yang menggunakan Bade tumpang sebelas.

undefined

(sumber : dokumen pribadi)

Dilain pihak, Palebon Agung Puri Klungkung ini menyihir masyarakat Klungkung dan sekitarnya. Ribuan warga bertumpah ruah menyaksikan tradisi sakral dan agung ini. Terbukti dengan berkembangnya informasi dan teknologi saat ini, tradisi ngaben masih melekat di masyarakat Bali, seperti dengan diadakannya Palebon Agung Puri Agung Klungkung ini.

undefined

sumber

Esensi Palebon Agung ini tentunya menjadi sangat penting karena memiliki tujuan diantaranya sebagai berikut:

  1. Melesetarikan khazanah budaya bangsa berupa tradisi budaya di Bali umumnya dan Klungkung khususnya
  2. Menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun lokal sehingga mereka tertarik untuk datang ke Klungkung. Selain itu hal tersebut akan berpengaruh terhadap dunia kepariwisataan di Klungkung terutama dalam hal ekonomi kreatif berbasis kerayatan.

undefined

(sumber : dokumentasi pribadi)

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook