KulKulBali.co

Stop "Pencaplokan" Lahan Hijau

dalam Clean & Green

👤1390 read komentar 🕔10 Jul 2014
Stop

Tulisan ini adalah karya I Made Artha Yasa, finalis Jegeg Bagus Bali 2014 duta Kabupaten Gianyar. Karena sifatnya kompetisi, tim editor menjaga keaslian karya semaksimal mungkin. Yay! Selamat membaca, semoga bermanfaat! 

Pembangunan adalah seperangkat usaha sadar yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan hidup serta kualitas hidup yang berkualitas secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh sebuah negara secara bijaksana dan setiap negara memiliki jumlah penduduk yang besar sebagai sumber daya manusia yang potensial.

Negara Indonesia yang terdiri dari beberepa pulau yang tersebar di Nusantara memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas yang memiliki ragam budaya, tradisi dan kearifan lokal masyarakatnya, dan salah satunya adalah Bali. Bali yang kental dengan tradisi dan kebudayaannya serta lokal genius dari masyarakatnya menyebabkan Bali mendapatkan sorotan khusus oleh wisatawan asing untuk dikunjungi baik itu untuk menikmati keindahan alam bali yang kental dengan tradisi dan budayanya maupyn yang lainnya.

Hal tersebut memberikan dampak yang besar di sektor pariwisata dan pembangunan. Seperti yang diketahui pembangunan di bali adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan yang berorientasi pada alam sekitar tanpa merusak tatanan ekosistem yang ada.Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan  yang betkelanjutan yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dengan menserasikan aktivitas manusia dengan kapasitas sumber daya alam yang ada. 

Namun dalam kenyataannya , perkembangan pembangunan di Bali sangat pesat dan hampir tidak memperhatikan lingkungan atau keadaan alam disekitarnya. Hal ini bisa dilihat dari sangat minimnya daerah khusus lahan hijau. Kini lahan hijau tidak lagi memiliki ruang, kita hanya bisa melihat bangungan permanen yang berdiri kokoh di pinggir jalan, hal ini bisa diamati di daerah selatan dan kawasan ubud.

Pada tahun 1997 sampai awal tahun 2000 an saya masih ingat betul kondisi alam yang masih asri, saya dan teman-teman masih bisa menikmati indahnya hamparan persawahan sambil bermain layangan, perang lumpur dan permainan yang lainnya. Namun sekarang, jangankan melakukan permainan seperti itu, melihat hamparan pemandangan sawah pun sudah mulai sulit di jumpai, karena kini hanya hamparan bangunan permanen saja yang tumbuh dengan pesat dan menggeser ruang untuk lahan hijau.

Jika hal ini (pembangunan) terus dilakukan dan hanya mementingkan kuantitas dibanding kualitas, maka dapat kita bayangkan bagaimana efek dari pembangunan tersebut untuk Bali kedepannya. Terlebih lagi wisatawan datang ke bali bukan sekedar menginap di hotel saja, namun mereka juga perlu menikmati indahnya alam bali yang hijau.

Oleh karena itu, mari kita awasi setiap pembangunan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memperhatikan lingkungan. Dan pemerintah juga harus berani tegas dan konsisten dalam menjaga keasrian alam bali dengan memberikan ruang untuk lahan hijau. Serta dalam pengeluaran ijin pembangunan, pemerintah harus memikirkan dampaknya untuk kedepannya agar tidak asal memberi ijin yang berujung pada perusakan keasrian alam yang sangat bertentangan dengan konsep Tri Hita Karana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook