KulKulBali.co

Baliku dan Ke-ajegannya, Akankah Bertahan?

dalam Inspirasi & Renungan

👤2413 read komentar 🕔21 Jul 2014
Baliku dan Ke-ajegannya, Akankah Bertahan? - kulkulbali.co


http://m.sindonews.com/read/879493/27/kemiskinan-di-bali-akibat-banyaknya-upacara-adat

Om Swastyastu.

Sebelumnya saya mohon maaf jika apa yang menjadi topik bahasan saya kali ini kurang didasarkan data dan jika ada yang merasa tersinggung atas bahasan ini.

Hanya saja jujur jika boleh saya katakan, bahasan ini adalah sedikit uneg-uneg dari saya yang merupakan salah satu 'anak rantau' dan mungkin termasuk uneg-uneg dari anak rantau lainnya yang belum mampu mengungkapkan lewat tulisan.

Dari artikel yang saya share di atas, barangkali banyak dari semeton-semeton yang sudah membacanya. Sebagian besar mungkin akan terperanjat dan secara langsung berkomentar negatif, bahwa media mengada-ada ato tidak relevan.

Tapi mari coba kita pikirkan lagi, mulat sarira (introspeksi diri), apa yang sebenarnya terjadi dengan Pulau Dewata kita dewasa ini?

Setelah keluarnya Perpres no. 51 tahun 2014, sebagian besar masyarakat Bali menolak adanya reklamasi atas Telok Benoa. Yap, menurut saya itu tindakan yang tepat. Tapi yang sangat saya sayangkan di sini, mengapa semeton Bali baru terhenyak SEKARANG? Kemana kalian saat semeton-semeton Bali yang lain sibuk menjual tanah leluhur untuk dibangun menjadi Villa, Cafe, atau Hotel?

Kenapa tidak ada ormas masyarakat yang bergerak, memberi masukan untuk dibuatkan peraturan 'batasan maksimal hak kepemilikan tanah Bali oleh orang-orang yang bukan berasal Bali'?

Jujur, saya bukan bermaksud untuk mendiskreditkan penduduk pendatang, tapi saya merasa sebagai orang Bali kita punya hak atas tanah kelahiran dan tanah tempat tinggal kita. Kita juga yang WAJIB merawatnya untuk terus menyediakan hasil bumi yanga akan kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pastinya kebutuhan untuk ber-YADNYA.

Semeton sudah tahu sendiri, saat ini sangat sulit untuk mencari tanah di Bali dengan harga yang 'relevan'. Bahkan semeton Bali sendiri mungkin sudah tidak sanggup untuk membeli tanah di Bali, khususnya di daerah perkotaan, walaupun berada di lokasi yang tidak strategis.

Saat saya merantau dan bisa 'melihat' perkembangan Pulau Bali dari pulau tetangga, saya merasa sangat sedih karena perkembangan yang pesat dari pembangunan tidak sejalan dengan pertumbuhan kesejahteraan penduduk di Bali. Tingkat kemiskinan saya rasa tidak mengalami penurunan. Justru orang-orang yang tambah sejahtera adalah orang yang sejak dulunya memang sudah berduit.

Berkaitan juga dengan artikel yang saya copas, sudut pandang media tersebut melihat adanya peningkatan kemiskinan di Bali disebabkan karena adanya upacara adat yang kita lakukan setiap harinya. Tentu saya tidak setuju dengan hal ini. Tapi menurut analisa saya, penurunan kesejahteraan masyarakat di Bali lebih karena adanya sifat semeton Bali yang terlalu mengagungkan gengsi. Setiap ada trend apapun di Bali, semua orang akan berusaha mengikuti dan memenuhi gengsinya dengan berbagai cara, entah mencari hutang, atau dengan cara yang secara perlahan merongrong dan menghancurkan kita yaitu MENJUAL TANAH LELUHUR.

Saya berharap, semeton yang membaca tulisan ini bisa tersadar, bahwa keajegan Bali kita berada di ujung tanduk, jika semeton yang merupakan generasi penerus hanya menghabiskan waktu untuk 'mepunyahan' di Bale Banjar atau di tempat nongkrong lain, jika kalian hanya menuntut orang tua kalian untuk memenuhi kebutuhan material karena gengsi, jika kalian tidak mau berinovasi untuk mengembangkan UKM di Bali, dan jika kalian hanya diam melihat saudara atau orang tua kalian menjual tanahnya.

Saya berharap, semoga kedepannya makin banyak pemuda Bali yang berinovasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Bali melalui ide-ide kreatifnya, sehingga ide tersebut dapat tersalurkan secara positif.

Sekali lagi, mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung atau tidak setuju dengan analisa saya. Semeton bebas berpendapat disini dan mengkritik saya. Karena menurut saya setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda yang tidak bisa dipaksakan harus setuju dengan saya.

Terimakasih

Om Santhi, Santhi, Santhi, Om..


Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Tentang Penulis

Gusti Yuliantari

Jalan, makan, menulis adalah kebutuhan.

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook