KulKulBali.co

[#JBK2015] Unique and Hidden

dalam Budaya

👤2054 read komentar 🕔16 Apr 2015
[#JBK2015] Unique and Hidden - kulkulbali.co

Tulisan berikut adalah karya Andika Pradnyana, finalis Jegeg Bagus Klungkung 2015. Selamat menikmati!

tim kulkulbali.co

 

Klungkung adalah kabupaten yang terkecil wilayahnya dibanding dengan kabupaten lainnya di Bali. Klungkung mewilayahi sekitar 315 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 170.612 jiwa yang tersebar di empat kecamatan dan 58 desa.

Salah satu desa yang ada di Klungkung yaitu Desa Sampalan. Desa Sampalan merupakan desa yang terletak di Kecamatan Dawan, kira-kira sekitar 3km dari kota Semarapura ke arah timur. Desa Sampalan mempunyai beberapa tradisi dan kesenian, salah satu hasil seni Desa Sampalan yaitu kain endek, kain endek Desa Sampalan cenderung lebih halus karena berbahan sutra. Kain endek ini dihasilkan dari alat tenun tradisional, bukan melalui proses dari mesin, sehingga motif setiap kain tidak akan sama persis. Warna-warna dari kain endekpun beragam, tapi didominasi oleh warna merah bata, coklat dan biru tua. Dominasi warna tersebut karena pengrajin hanya memakai warna alami yang diambil dari alam seperti ekstrak daun kering dan bunga-bungaan.

Tradisi Desa Sampalan yaitu ngarap watangan anyar. Ngarap yang artinya mengarak dan watangan anyar yang artinya mayat baru. Jadi ngarap watangan anyar artinya mengarak jenazah atau mayat yang baru meninggal. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara Pitra Yadnya yang dilaksanakan secara individu. Kegiatan ini akan dilaksanakan jika, keluarga dari jenazah tersebut telah setuju untuk melaksanakan pengabenan.

 undefined

 

Sebelum upacara di mulai di depan rumah duka akan dibuat semak-semak atau yang lebih dikenal dengan alas yang menunjukkan bahwa dari semak tersebutlah akan keluar jenazah yang nantinya akan diarak di depan alas, untuk keamanan, jenazah tersebut telah digulung dengan kain kafan dan anyaman bambu ( Lante).  Ngarap watangan anyar akan dimulai dengan adanya bunyi kentongan dari banjar dan akan diiringi dengan gambelan. Kemudian pemuda Desa Sampalan berlarian menuju alas untuk mengambil dan mengarak jenazah yang ada di dalam alas. Biasanya proses tersebut akan berlangsung kurang lebih 30 menit sampai dengan satu jam.

Setelah proses tersebut jenazah akan dinaikkan ke atas bade atau wadah yang selanjutnya di bawa ke kuburan dan akan diiringi oleh keluarga, kerabat  dan juga masyarakat sampalan. Upacara selanjutnya jenazah akan di bakar sesuai dengan upacara pengabenan.

 

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra
Topik : #jbk2015, #budaya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook