KulKulBali.co

Maaf, VAR Kosong. Sampai Kapan?

dalam Kabar > Denpasar

👤2661 read komentar 🕔07 May 2015
Maaf, VAR Kosong. Sampai Kapan? - kulkulbali.co

Saya tidak sekedar mau curhat tapi hanya berbagi rasa dan pengalaman. Sekalian mencari jawaban.

Hari ini saya digigit anjing, cuman luka tidak begitu parah. Hanya saja darah mengalir setelah terkena gigitan anjing rumah yang sedikit galak. Ini mungkin karena kecerobohan saya yang menginjak kakinya tanpa sengaja.

Sesuai dengan panduan P3K yang saya baca dan search di Google, serta beberapa pendapat, maka saya mencoba untuk mencuci luka tadi dengan semprotan air yang mengalir dan menggosok dengan sabun mandi beberapa kali (cukup lama saya lakukan, sesuai panduan Om Google yang seharusnya 15 menit). Kemudian luka dibersihkan dengan alkohol dan diberikan anti septic. Saya berusaha untuk tidak panik akan hal ini. Berikutnya yang harus dilakukan adalah segera untuk menghubungi dokter di rumah sakit terdekat.

Maka saya pun segera untuk berkunjung ke rumah sakit terdekat. Tentunya membawa serta ASKES, KTP, dan uang secukupnya, serta ATM yang ada isinya (untuk jaga – jaga saja). Tujuan hanya satu yaitu mendapatkan perawatan dan suntikan VAR (Vaksin Anti Rabies).

Dari tempat tinggal saya, rumah sakit terdekat (walaupun tidak dekat amat) dan yang terlengkap adalah Rumah Sakit Sanglah. Tiba di UGD, cukup lama menunggu antrian dan dengan sabar tanpa melihat kanan kiri untuk menunggu giliran pendaftaran. Kemudian, mata saya tertuju pada secarik kertas dengan tulisan “Stock Vaksin Anti Rabies Habis”.

Saya pun menanyakan kepastian dari petugas yang menjawab,

“Maap pak, vaksinnya habis. Bapak bisa menghubungi kami besok melalui telpon, untuk memastikan vaksinnya ada atau tidak…..”

Apa yang harus saya lakukan… ??? Saya pun meluncur menuju Rumah Sakit Wangaya Denpasar untuk mencari VAR ini. Lagi-lagi “MAAF VAR KOSONG".

Dalam benak saya, apakah mungkin karena saya memakai ASKES yang notabene nya akan gratis pengobatan, kemudian mereka akan meniadakan layanan ini? Saya akan bayar kok. (jawabannya ada di rumah sakit berikutnya).

Kembali ke arah Sanglah untuk menuju sebuah rumah sakit swasta, yang saya pikir akan tersedia. Rumah Sakit Surya Husada, Rumah Sakit Prima Medika, dan hasilnya pun NIHIL. Akhirnya saya mencoba untuk mengambil telpon dari pada susah-susah jalan kesana kesini tanpa hasil untuk mencari vaksin ini.

Saya : "Pak, di sana masih ada Vaksin Anti Rabies nya?"
RS Bhakti Rahayu : "Maap pak, Bapak hendak pakai kartu jaminan kesehatan" (dengan cepat saya menyanggah)
Saya : "Tidak Pak, saya bayar sendiri…"
RS Bhakti Rahayu : "Baik Pak, saya cek dulu." (dengan sigapnya, dia segera menanyakan ke teman sekerjanya yang saya dengar melalui percakapan).

Dalam hati saya, wah ternyata ada, walaupun saya bayar, yang penting dapat vaksinnya.

RS Bhakti Rahayu: "Maap Pak stoknya HABIS, dan hari ini banyak juga yang cari, Pak." (ternyata saya harus berlomba dengan pasien lain untuk mendapatkan VAR)
Saya: "Terima kasih infonya."

Dengan segera saya mencari informasi di rumah sakit umum lainnya seluruh Kabupaten Bali melalui HP saya. Alhasil ….. jawabannya adalah KOSONG/HABIS/STOCK GA ADA/NIHIL. Kalau di rumah sakit besar tidak tersedia VAR, berarti rumah sakit kecil tidak tersedia juga dong. Bagaimana jika mereka yang tinggal di desa harus bisa mendapatkan VAR ini dengan segera?

Di saat vaksin anti rabies kosong disemua rumah sakit, di situlah saya merasa sedih….

Saya konsultasikan ke teman dokter untuk menanyakan dan mendapatkan perawatan akan luka saya. Karena sudah agak kering, dokter hanya menganjurkan saya untuk minum obat penghilang nyeri bila luka ini sakit. Dan dokter juga memberikan penjelasan kepada saya akan rabies ini. Anjing rumahan yang sudah pernah di vaksin tentunya bisa jadi memberikan penyakit Rabies kepada kita. Tentu saja harus dilakukan observasi dahulu terhadap hewan tersebut selama satu minggu. Bila satu minggu hewan yang menggigit pasien tidak mati, maka tentunya bukan Rabies. Bilamana hewan tersebut mati maka hewan akan dibedah otaknya untuk mendapatkan jawaban apakah hewan ini rabies atau bukan. Dan pasien harus mendapatkan sesegera mungkin VAR atau SAR ini untuk pencegahan.

Saya mohon bantuan jawaban untuk beberapa hal yang muncul di pikiran saya:

Ke mana lagi saya harus mencari dan mendapatkan vaksin ini, untuk segera saya bisa dapatkan, yang di mana saya harus berlomba-lomba dengan pasien lain di Bali untuk mendapatkan VAR ini? Apakah saya harus menunggu anjing ini mati dan di observasi, setelahnya baru akan mendapatkan VAR (bagaimana bila VAR ini tidak ada di saat itu, dan habis sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan?)

Masyarakat di Bali adalah penyayang binatang; anjing dan kucing adalah yang paling dominan di pelihara, tentunya sudah di vaksin seperti apa yang telah saya lakukan terhadap hewan peliharaan saya. Dan rabies bisa juga diakibatkan oleh hewan lain seperti kera, sapi, kelelawar, luwak, dan hewan lainnya. Baik yang hidup di alam bebas ataupun yang anda pelihara (yang belinya mahal, ngasi makan mahal, tidur di kasur pula). Dan mereka itu ada banyak di sekitar kita. Kejadian digigit hewan seperti yang saya dapatkan, tentu saja bisa terjadi pada Anda dan keluarga tercinta anda juga.

Haruskah kita membunuh semua hewan tersebut ataukah kita (yang seharusnya menyediakan VAR ini) akan membunuh sesama manusia juga bila ternyata vaksin ini habis disetiap tempat? Terbesit juga dalam benak saya bagaimana bila vaksin ini habis terus, seperti film Zombie yang menular lewat gigitannya, apakah akan SEPERTI ITU???? Mengerikan……………

Besok saya berencana untuk pergi ke Dinas Kesehatan untuk mendapatkan VAR, doakan agar saya bisa segera mendapatkannya. Semoga pemerintah di Bali dan daerah lainnya atau yang berkompeten dalam hal ini, bisa menyediakan layanan VAR ini bagi manusia, agar tidak sampai kehabisan stok di setiap rumah sakit ataupun Puskesmas (secara cuma-cuma ataupun berbayar). Dan hal yang mengerikan tidak akan terjadi pada kita dan keluarga yang kita cintai, hanya karena hewan peliharaan yang sangat kita manjakan. Di balik kelucuan hewan peliharaan, bukan tidak mungkin bisa menjadi ganas dan menyerang kita…. Siapa yang akan bertanggung jawab akan terjadinya sesuatu bila VAR atau SAR habis di setiap daerah. Mohon di share agar teman teman lebih waspada terhadap hewan-hewan yang ada di sekeliling kita.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Artikel Lain dari Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook