KulKulBali.co

Night Shift...

dalam Humanoria

👤1108 read komentar 🕔29 Mar 2016
Night Shift... - kulkulbali.co

Sebuah ruangan berlantaikan keramik putih dengan beberapa noda darah berceceran. orang-orang berlumuran darah tertidur tak berdaya, keluarganya berdiri disampingnya memasang wajah khawatir dan penuh harap bahwa pasien akan baik-baik saja. Di sisi lain seorang kakek tersengal, wajahnya membiru, keringat dingin bermunculan di dahinya, tangan kanannya mencengkram dadanya seakan jantungnya akan lepas. Terdengar teriakanseorang anak saat jarum infus menembus pembuluh dwrah di tangan kanannya, ayahnya memeluknya dengan erat sambil membisikkan kata2 sayang  untuk menenangkan putri kecilnya.

Itulah yang kutangkap dengan mataku saat aku memasuki ruangan itu untuk memulai shift jaga malamku. Akan menjadi malam yang berat, kataku dalam hati. Aku menyapa rekan sejawatku, yang wajahnya tampak sangat lusuh, kelelahan terpampang jelas.  begitu melihatku, dia tersenyum sambil menghela napas panjang. Dia telah mengalami sebuah shift sore yang sangat melelahkan... "akhirnya datang juga" katanya lega. "pasienku masih 5 orang, satu cedera kepala sedang  sudah konsul, masih tunggu keluarganya untuk persetujuan rujuk ke rumah sakit pusat. Dua curiga pneumonia,  masih tunggu hasil lab dan foto thoraks. Kakek itu UAP, sudah konsul, isdn sudah masuk, tiinggal tunggubobat sm buat rekam medis. Yang lagi satu diare akut dengan dehidrasi berat, sudah loading RL 1 liter, tensi terakhir 70/palpasi, hasil lab belum, konsul belum." dengan cepat dia menuntunku ke samping bed pasien yg dikatakannya barusan, dan menjawab bbrp pertanyaanku yang lebih mendetail sebelum akhirnya dia pamit untuk pulang. Kasur di kamar kosnya tentu sudah sangat siap memberinya istirahat yang pantas didapatkan. 

Lima pasien itu ,hanya awal dari malamku yang panjang. Entah sudah berapa jam aku hilir mudik di ruang ugd itu, entah sudah berapa pasien yang sudah aku tangani, aku tidak menghiraukan hal itu. Saat itu pikiranku telah dipenuhi dengan berbagai kondisi yg dialami pasien2ku saat itu. Apa yg terjadi dengan orang ini? Kenapa dia mengalami hal ini? Apa maksud gambaran rontgen ini? Apa yg belum aku berikan? Pertanyaan2 itu berseliweran dalam kepalaku. Benar2 melelahkan... 

Di tengah kegaduhan itu, seorang ibu berlari  menggendong anaknya  sambil berteriak meminta pertolongan, "pak, tolong anak saya. Dia kejang2, tidak sadar!!!"

Aku segera menghampirinya, menuntun sang ibu untuk membaringkan putranya yg saat itu masih kejang, mulutnya berbuih, matanya mendelik ke atas. Sebuah pemandangan yang sangat menakutkan bila aku ada diposisi sebagai orang tua anak itu. Sambil berusaha menenangkan sang ihu aku memasang selang oksigen, dan saat aku menoleh untuk meminta obat anti kejang, seorang perwat sudah menghampiriku sambil berkata, "ini stesolid dok, saya masukkan ya" . "oke, masukin dlu semuanya" 

Celana si anak dibuka, dan obat anti kejang pun dimasukan melalui pantatnya. Tidak lama efek obat sudah bekerja sehingga kejang berhenti. Sang ibu menghela napas lega, namun kekhawatiran masih tampak jelas diwajahnya. Kuajak mengobrol untuk mendapatkan informasi ttg riwayat pasien,

"dari kapan kejang anaknya bu?"

"barusan pak, sekitar 5 menit yang lalu, rumah saya diseberang jalan, langsung saya bawa ke sini"

"langsung kejang2 seluruh badan?"

"iya, lgsg seluruh badan"

"awalnya gimana? Ada panas badan, ato memang sering kejang dri kecil?

"ga pernah kejang pak, tumben seperti ini. Dari kemaren sempet panas tinggi badannya, ga turun padahal saya sudah belikan obat penurun panas. Drtd siang biasa aja, tp barusan kejang"

Kutanyankan bbrp hal lainnya sebelum akhirnya aku menjelaskan kondisi pasoen dan keperluan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di rmh sakit, atau opname. Setelah orang tua setuju, aku meminta tolong kepada seorang perawat untuk memasang infus dan mengamb sampel darah untuk dibawa ke laboratorium.  Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, obat sudah diberikan, pasienpun diantarkan ke ruangan.

aku kembali ke tempat dudukku, meminum sedikit air untuk membasahi kerongkonganku, dan tersenyum.  Pemandangan yg ada di depanku sudah berubah. Dari keriuhan layaknya pasar, kini yang ada hanya deretan tempat tidur kosong yang masih tampak jejak2 pasien yg sebelumnya tidur di sana. Beberapa dari timku mulai bersenda gurau, ada yg terduduk lelah, dan beberapa sedang menulis, berharap agar malam itu segera berakhir.

sayangnya, harapam hanyalah sebuah harapan... 

belum 10 menit kami bersantai, dari kejauhan sudah terdengar sirine ambulans meraung dengan kerasnya, memecah keheningan jalanan malam itu. Tidak lama suara ban berdecit di lobi. Petugas bergegas mendorong tempat tidur  dan membawa pasien masuk. 

seorang kakek terduduk diatas tempat tidur itu, napasnya tersengal, keringat bercucuran, kakinya bengkak sedemikian besarnya hingga tidak mungkin seorang melewatkan untuk melihatnya. Satu tangannya memegang masker oksigen ,di rekatkan dengan erat ke wajahnya seakan penekanan itu akan memberinya lebih banyak oksigen yg sangat dibutuhkannya. 

Seorang perawat yang mengantarnya menghampiriku dan menjelaskan kondisi pasien..

"pasien lakilaki 78 tahun dok, suspek edema paru dan gagal ginjal kronik. Ada riwayat hemodialisa, tapi tidak rutin dilakukan alasan jauh dan tidak ada yg mengantar, anak anaknya semua di denpasar. Kumat sejak 2 jam yg lalu, sampai di puskesmas saturasi oksigennya masih 80%, di jalan turun jadi 72% dok. Kami cm pasang jalur intravena dan oksigenasi dgn masker aja, langsung rujuk"

"terimakasih bli, makasi penjelasannya. Sekarang ada keluarganya yang ikut?"

"ada keponakannya dok, sedang mendaftar"

"oh, iya. Terimakasih"

Aku segera menghampiri pasien, saat coba kutanya, kakek itu hanya menggeleng, sesak napas membuatnya tidak mampu berbicara. Kuperiksa kakek itu, dan saat perawat menghampiriku, aku memintanya untuk mengambim sampel darah untuk pemeriksaan yg diperlukan.

"cito ya, kondisinya jelek, trus tolong thoraks foto juga." pintaku kepadanya, cito dapat diartikan "segera/secepatnya"

"oke dok"

Dalam waktu kurang lebih 1 jam, pasien itu sudah tertangani, obat2an sudah diberikan, dan pasien akhirnya memerlukan perawatan lebih lanjut di ICU. 

Kupanggil keluarga pasien untuk memberikan penjelasan tentang kondisi pasien

"malam pak, saya mau menjelaskan tentang kondisi keluarganya ya"

"nggih dok"

"pasiennya kondisinya sekarang tidak bagus, paru parunya sudah dipenuhi cairan karena gagal ginjalnya. Makanya sesak. Sekarang obat obatan kan sudah diberikan, tapi pasien perlu perawatan khusus di ICU."

"maaf dok, tapi saya bukan anaknya, saya keponakannya yg kebetulan sedang berkunjung tadi. Saya lihat paman saya sesak sekali, langsung saya ajak ke sini. Untuk masuk ICU biayanya bagaimana? Anaknya belum bisa saya hubungi dok. Saya ga berani mengambil keputusan"

"anaknya sekarang dimana pak?"

"tinggal di denpasar dok, kerja disana sama istrinya. Paman saya ini tinggal sendiri, istrinya sudah meninggal"

"anaknya tahu bapaknya gagal ginjal dan perlu hemodialisa rutin kan?"

"tahu dok, cuma ya gitu, jadwalnya seminggu sekali, paling anaknya dtg untuk mengantar hanya sebulan sekali. Saya juga kerjanya serabutan dok, jarang ada di rumah, jadi ga bisa kasi perhatian lebih."

"usahakan dihubungi pak, kasihan pasiennya."

Setelah bbrp kali mencoba menelpon, sang anak bisa dohubungi, dan langsung setuju pasien mendapat perawatan di icu. 

Aku merasa kasihan kepada pasien, hari tuanya harus dilalui dengan iringan penyakit, dan terkesan terlantar dari kehangatan sebuah keluarga.  Kuselesaikan semua yang harus kukerjakan untuk mengirim pasienku ke ruang inap, sehingga aku bisa segera beristirahat sejenak. Aku sudah sangat lelah... 

Namanya juga ugd 24 jam, tidak ada matinya. Bukyinya Setelah kakek itu, masih ada satu-dua pasien lagi yg datang "berkunjung" untuk menemaniku melewati malam.. Haha...

Setelah malam yang panjang, langit di luar mulai terlihat terang, kendaraan terdengar berlalu lalang, dan yang paling kutunggu akhirnya tiba. Rekan sejawatku yang akan menggantikanku menyambut dan melayani pasien... Yes!!!

aku berpamitan pada senior dan teman2 perawat, dan melangkahkan kaki keluar ugd dengan kelelahan yang sudah menggerogoti seluruh tubuhku, serta rasa kantuk yang luar biasa dan tak tertahankan. Well, it's worth the struggle... Aku mendapatkan segudang pengalaman, baik dari keilmuan, maupun kemanusiaan... Hehehe...

 

P.s. 

Yak, akhirnya selesai, seri pertama dari #nightshiftdoctor .  sebuah serial tulisan yang berisikan kumpulan ceritaku dan teman sejawatku selama mengabdikan diriku sebagai dokter. Semoga dapat dinikmati,  syukur apabila bisa menginspirasi teman pembaca sekalian... Hehehe...

Akhirkata, Salam Kulkulbali... :-)

 

Editor : Maha Dwija Santya

Tentang Penulis

Gusti Ngurah Indrakusuma

Orang biasa yang kebetulan dapet kerjaan buat nolong orang sakit... gstngurahindra.blogspot.com

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook