KulKulBali.co

[#JBB2015] Difabel Bisu Tuli Desa Bengkala: Korban Tradisi?

dalam Kabar > Nasional

👤1785 read komentar 🕔21 Jul 2015
[#JBB2015] Difabel Bisu Tuli Desa Bengkala: Korban Tradisi? - kulkulbali.co

Pernahkah anda mendengar tentang Desa Bengkala? Ya, Desa Bengkala adalah desa yang terletak di Kecamatan Kubu Tambahan, Buleleng. Desa ini dikenal sebagai desa yang sebagian dari warganya menderita bisu tuli, atau yang kerap disebut kolok. Jumlah warga kolok di desa Bengkala mencapai 50 dari 2276 jiwa. Mungkin sekilas angka tersebut tidak mengejutkan anda, tetapi mengingat angka kejadian bisu tuli bawaan hanya terjadi pada 1 dari 10.000 kelahiran, tentu saja jumlah warga bisu tuli di Desa Bengkalan tergolong sangat tinggi dan tidak wajar.

Apabila ditanyai mengenai penyebab dan asal muasal terjadinya bisu tuli massal di Desa Bengkala, warga setempat memiliki jawaban yang beragam dengan versi ceritanya masing-masing. Beberapa warga percaya bahwa hal ini terjadi karena dahulu Desa Bengkala sempat didatangi makhluk jadi-jadian yang menyebarkan wabah kolok ke warga yang tinggal di desa tersebut. Ada pula yang percaya bahwa bisu tuli adalah sebuah kutukan. Konon, pernah terjadi perselisihan yang memecah warga menjadi dua kubu. Salah satu kubu memutuskan untuk pergi dan membawa banyak harta, mereka pergi tanpa sama sekali menggubris panggilan dari kubu lainnya. Kubu yang ditinggalkan pun geram dan mengutuk keturunan kubu yang pergi agar tidak dapat mendengar maupun berbicara. Bagaimanapun, mitos-mitos tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya.  

Setelah dilakukan penelitian terhadap difabel di Desa Bengkala oleh beberapa tim peneliti, ditemukanlah bahwa entah sejak kapan, sebagian warga Bengkala mengalami mutasi gen sehingga membawa gen ketulian yang tidak dominan atau resesif. Namun faktor yang sebenarnya menyebabkan terjadinya fenomena ini adalah tradisi warga setempat yaitu menikahi saudara sendiri atau pernikahan sedarah Mengapa hal tersebut menyebabkan bisu tuli massal? Karena pernikahan dengan saudara kandung atau saudara yang dekat meningkatkan secara drastis kemungkinan mendapatkan dua salinan gen yang merugikan. Apabila terjadi pernikahan sedarah, baik bapak maupun ibu yang bersaudara sama-sama membawa salinan gen ‘kolok’ dan tidak ada gen normal yang dapat menggantikannya, sehingga menyebabkan anak lahir dengan ketulian dan kebisuan.

Nah, apakah begitu banyaknya warga Desa Bengkala yang terlahir sebagai difabel, terlahir divonis tak mengenal kata dan suara, korban dari tradisi? Saya rasa hal tersebut tergantung sudut pandang masing-masing orang. Ternyata, dilahirkan berbeda tidak membuat mereka hidup dalam keterpurukan. Para kolok yang umumnya berasal dari golongan yang kurang berpendidikan, kini diberikan akses untuk belajar bersama warga lain, bahkan diberikan pelatihan khusus sebelumnya agar tidak minder dan tidak terkejut saat menerima pelajaran. Penduduk desa juga berusaha membantu meringankan hidup para kolok dengan membebaskan keluarga yang bisu tuli dari segala bentuk iuran wajib untuk upacara adat, mereka juga memberikan pekerjaan kepada para bisu tuli misalnya sebagai penggali kuburan, buruh tani, penjaga keamanan. Selain rajin bekerja, mereka dapat berkarya seni dan berkreativitas. Para bisu tuli memiliki grup tari Janger Kolok yang kerap diundang untuk tampil di pesta hotel-hotel internasional.

Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan mereka yang terlahir dengan indera yang lengkap, tentu saja difabel yang lahir tanpa dapat mendengar dan berbicara harus menghadapi kesulitan dan tantangan yang luar biasa dalam menjalani kesehariannya, terutama dalam usaha mereka untuk berkembang, bersaing, dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Dan dalam kasus ini, kita tidak dapat memungkiri bahwa tradisi pernikahan sedarah menghambat adanya kemajuan dan perkembangan bukan hanya bagi mereka yang menerapkannya, tetapi keturunannya yang bahkan tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai difabel karena adanya tradisi tersebut.

Sekarang, pertanyaan yang terpenting adalah, apakah tradisi ini patut untuk dipertahankan? Secara pribadi, saya percaya bahwa ada kalanya suatu tradisi boleh tidak lagi diterapkan, apabila tradisi tersebut mengancam kualitas dan keberlangsungan hidup dari mereka yang menerapkannya. Namun, bukan berarti tradisi tersebut akan musnah dan terlupakan begitu saja. Sama halnya dengan tradisi Sati Practice yang merupakan tradisi di beberapa bagian di India, dimana apabila seorang suami meninggal dunia, sang istri diwajibkan untuk loncat ke dalam api yang membakar jenazah suaminya. Tradisi ini sudah tidak lagi dilakukan, namun pesan dari tradisi ini, mengenai ketulusan, kesetiaan, dan cinta dalam pernikahan, tetap dapat disampaikan dan dilestarikan secara turun temurun. Jadi, menurut saya beberapa tradisi, termasuk pernikahan antar saudara dan pernikahan sedarah di Desa Bengkala hanyalah sebuah media penerapan dari pesan yang berusaha disampaikan oleh para leluhur melalui cara yang tidak lagi sesuai dengan kehidupan masyarakat yang lebih beradab dan berkembang.

Tapi pada akhirnya, "It is up to the followers of a tradition - not outsiders - to decide if it's worth keeping or not, and to fight to keep it if necessary. If a tradition gets lost along the way and people miss it, they'll find a way to revive it", pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh mereka yang menjalani tradisi tersebut. Singkatnya, tanpa maupun dengan adanya tradisi tersebut, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menjadikannya bukan hanya sebagai sebuah tradisi, tetapi sebagai media pembelajaran. Dengan begitu, rasa kekeluargaan dan kekompakan penduduk Bengkala yang merangkul nyama bisu tuli, dan pesan dari tradisi pernikahan sedarah yaitu menjalin hubungan yang erat, hangat, dan solid dalam keluarga dapat senantiasa terjaga dan dilestarikan sebagai peninggalan yang sesungguhnya.

 

Daftar Pustaka

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/3049

http://www.jpnn.com/read/2011/08/26/101677/Desa-Bengkala-di-Buleleng,-Kampung-dengan-Jumlah-Warga-Bisu-Tuli-Terbanyak-di-Bali

http://dokterdewikusumastuti.blogspot.com/2013/08/benarkah-pernikahan-sedarah-garis.html

https://cintailahindonesia.wordpress.com/2010/07/20/desa-bengkala-di-bali-kampung-bisu-tuli-yang-potensial/

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook