KulKulBali.co

[#JBB2015] Lunturnya Penggunaan Bahasa Bali di Tengah Arus Modernisasi

dalam Budaya

👤5475 read komentar 🕔21 Jul 2015
[#JBB2015] Lunturnya Penggunaan Bahasa Bali di Tengah Arus Modernisasi - kulkulbali.co

Bali memiliki berbagai warisan budaya leluhur yang masih tertanam dan mendarah daging di kehidupan masyarakat Bali sendiri. Bahkan, masih banyak tradisi unik yang masih dipegang teguh dan dipertahankan di kalangan masyarakat. Budaya merupakan nafas dari kehidupan masyarakat di Bali. Memang sudah disadari bahwa kehidupan masyarakat di Bali takkan pernah terlepas dengan sangkut pautnya dengan peranan budaya. “Mencangkupkan” tangan di depan dada dan mengucapkan “Om Swastiastu” merupakan kebiasaan masyarakat bali yang mengidentifikasi keramah-tamahan masyarakat Bali. Dengan memiliki kekayaan budaya yang beragam tentunya merupakan suatu tugas masyarakat untuk melestarikannya agar tidak tergilas dan tertelan atau bergeser karena pengaruh dunia modern saat ini. Unsur-unsur Budaya yang di miliki Bali adalah; musik seperti berbentuk gamelan, rindik, jegog dan genggong,seni tari seperti tari barong, tari kecak, pendet, gambuh, joged dan banyak lagi yang lainnya, bali juga memiliki bahasa dan pakaian adat daerah sendiri dan dari segi religi mayoritas penduduknya beragama hindu. Budaya dan tradisi yang unik ini , merupakan salah satu penyebab Bali menjadi destinasi wisata utama bagi para wisatawan domestic maupun mancanegara pada umumnya.

Bahasa daerah, seperti bahasa Bali merupakan ciri khas atau identitas dari budaya Bali yang tetap harus dipertahankan keberadaannya dengan jalan menggunakannya secara terus menerus oleh penuturnya sehingga tidak menjadi bahasa mati. Suatu bahasa yang dikatakan ‘bahasa mati’, apabila bahasa tersebut ditinggalkan, atau tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi oleh penuturnya. Hal inilah yang patut untuk diwaspadai.

Seiring kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan kencangnya arus globalisasi, banyak pengaruh yang masuk dan seakan memberikan dampak kepada elemen kehidupan masyarakat. modernisasi dapat kita analogikan sebagai pisau bermata dua yang memiliki dua sisi yaitu sisi positif dan negative. Sudah merupakan tugas masing-masing individu untuk memilih dan memilah dampak dari modernisasi tersebut. Perkembangan IPTEK yang kian merembet hingga ke daerah terpelosok seperti di pedesaan tampaknya menjadi ‘angin segar’ bagi kemajuan desa. Kerap kita semua amati, komunikasi antar warga semakin mudah dan cepat dengan menggunakan handphone. Informasi pun sangat cepat menyebar dan banyak masyarakat merasa terbantu akan kemudahan tersebut. Namun, sangat perlu disadari bahwa ‘angin’ tersebut tak luput akan ‘partikel debu’ yang di hembuskannya. Secara tidak sadar, ada bagian dari masyarakat yang terkikis akibat kemajuan tersebut. Disebabkan oleh tuntutan dari kemajuan teknologi yang berbasis bahasa bukan bahasa daerah, masyarakat pengguna wajib fasih dalam mengerti dan menggunakan bahasa yang di terapkan pada teknologi tersebut.

Kekhawatiran terhadap eksistensi bahasa Bali dalam era globalisasi kerap muncul ke permukaan. Kekhawatiran ini cukup beralasan melihat fakta yang tampak saat ini. Pemakaian Bahasa Bali sudah mulai terdesak oleh pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing. Melihat dampak yang sesungguhnya tidak disadari oleh warga, bahasa Bali yang termasuk dalam warisan budaya leluhur dapat diprediksi akan mengalami kepunahan. Terlebih, dalam lingkungan keluarga, orang Bali sudah mulai menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ditengah gencarnya perkembangan globalisasi mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakat termasuk dalam mempertahankan kearifan lokal seperti penggunaan Bahasa Bali di masyarakat. Belakangan ini dalam kehidupan sehari-hari penggunaan Bahasa Bali khususnya pada generasi muda mengalami pergesaran, bahkan sebagian besar generasi mudah sudah tidak lagi menggunakan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari.

Eksistensi bahasa daerah Bali semakin terancam, terlebih dengan fenomena di masyarakat mengenai bahasa Bali yang sedang marak terjadi. Termasuk isu yang berkembang belakangan ini, yakni mengenai penggabungan pelajaran bahasa daerah ke dalam pelajaran Seni Budaya. Tentunya hal ini harus dikaji ulang terlebih dahulu dengan lebih cermat dan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dapat dikatakan demikian, karena apabila kita cermati bersama, ketika mata pelajaran bahasa Bali tersebut digabungkan, maka waktu yang diberikan mengenai bahasa Bali akan semakin terpangkas. Hal ini menyebabkan peserta didik kurang maksimal dalam mempelajari bahasa Bali. Hal ini berdampak pada kurangnya intensitas waktu dalam menggunakan bahasa bali bagi para generasi muda. Apabila mengikuti perkembangan dan tantangan zaman memang tidak dapat disalahkan jika anak-anak sekarang gencar untuk mempelajari bahasa asing. Hal itu memang perlu dilakukan, sebagai pelangkap agar tetap dapat mengikuti perubahan, sehingga tidak jauh terbelakang dan ketinggalan informasi dalam kancah persaingan global. Menyikapi fenomena sekarang, yaitu generasi muda Bali yang tidak banyak menggunakan bahasa Bali dalam kesehariannya maupun pergaulannya merupakan suatu kenyataan yang tidak terelakkan. Penggunaan bahasa Bali yang semakin jarang, lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan. Di kota besar seperti Denpasar, frekuensi penggunaan bahasa Bali dapat dikatakan berkurang. Hal ini disebabkan oleh berbagai factor lain seperti pengaruh budaya luar, kurangnya pendidikan di sekolah, dan disebabkan oleh banyaknya pendatang dari luar daerah yang tidak menggunakan bahasa Bali.

Mengadaptasi sikap apresiasi dari Negara lain sangat perlu kita lakukan sebagai cerminan untuk menjaga eksistensi bahasa daerah kita. Beberapa Negara tetangga di ASEAN seperti Thailand, Vietnam, Cambodia dan Negara lain, masih tetap menggunakan bahasa khas mereka bahkan menggunakan huruf atau ‘aksara’ tradisionalnya sebagai media untuk berkomunikasi. Selain itu, mereka juga dengan bangga menggunakan aksara traditional tersebut sebagai media publikasi seperti penamaan toko atau jalan raya dengan menggunakan aksara tradisional, bahasa pengantar di sekolah dan sebagai media komunikasi sehari-hari.

undefined

sumber gambar

Namun, perlu adanya kesadaran dalam diri generasi muda, bahwa kitalah yang mengemban tugas untuk tetap menjaga eksistensi bahasa Bali. Dengan tegas kita dapat menyuarakan, kepedulian kita dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap bahasa Bali. Jika saja bahasa Bali menjadi bahasa mati, maka bersiaplah kebudayaan Bali akan hilang ditelan peradaban. Sebagai generasi-generasi muda penyelamat zaman, hendaknya sadar akan hal tersebut dan tidak membiarkan bahasa Bali menjadi ‘bahasa mati’. Senangi bahasa Bali, kemudian pelajari dan pahami, lalu pergunakan, sehingga dengan demikian hal ini adalah salah satu gerakan konkrit guna menyelamatkan kebudayaan Bali.

Mari kita teriakkan dengan lantang, suarakan dengan tegas bahwa kita semua wajib meng’ajeg’kan Bahasa Bali!

Yen tusing jani, pidan buin. Yen tusing iraga, nyen buin. Lan bareng-bareng ngajegang gumi Bali ne!

 

I Made Sukma Adisetiawan Sukadana

Bagus Buleleng 2015

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook