KulKulBali.co

[#JBB2015] Jaen Idup di Bali?

dalam Inspirasi & Renungan

👤2998 read komentar 🕔23 Jul 2015
[#JBB2015] Jaen Idup di Bali? - kulkulbali.co

Era sekarang tak dapat dipungkiri keberadaan sosial media sedang sangat digandrungi oleh berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, bapak ibu, hingga pekak ninik yang sudah lingsir pun tak mau ketinggalan. Semua asyik berfacebook ria, saling melempar tweet, check in di Path tak ketinggalan upload foto selfie terbaik di instagram. Ya, selain sebagai media untuk mensosialisasikan diri via dunia maya, media sosial juga belakangan digunakan sebagai media pengaktualisasian diri.

Coba saja kita tengok salah satu media sosial yang belakangan ini sedang ngehits, instagram! Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial. Sebuah foto sejuta ekspresi. Generasi muda sekarang mampu menuangkan dan menunjukkan kreatifitasnya dalam setiap foto yang diunggahnya. Angle terbaik dipastikan mampu tertangkap oleh kamera agar mampu menyampaikan pesan yang ingin diungkapkan. Sebelum upload foto tak lupa edit dengan aplikasi terbaik supaya menghasilkan foto terbaik dengan pencahayaan sempurna sehingga menghasilkan jepretan bak photographer handal dan yang terakhir yang tidak boleh terlupakan adalah mencantumkan hashtag-hashtag ngetren tentang foto tersebut. Salah satu hashtag foto yang kini sedang ngtren salah satunya tak lain tak bukan yaitu #jaenidupdibali

Hashtag jaen idup di bali yang dalam bahasa indonesia berarti enak hidup di Bali ini biasanya turut menyertai foto pemuda-pemudi yang berlatang belakang panorama alam Bali yan menakjubkan misalnya saja pantai yang indah dengan pasir putih yang halus maupun pasir hitam yang berkilauan, atau juga pemandangan pegunungan dan perbukitan yang begitu asrinya, bisa juga berfoto di depan air terjun yang begitu jernihnya atau di hamparan sawah hijau yang berundag-undag disertai dengan ekspresi bahagia memuaskan tak sedikit juga disertai dengan ekspresi candid yang tak kalah manis. Tapi apapun style pengambilan fotonya, hashtagnya tetap jaen idup di Bali. Perilaku ini sejatinya perlu diacungi jempol, karena dibalik maraknya kerusakan-kerusakan lingkungan yang diakibatkan pencemaran serta semakin kerasnya persaingan kehidupan di Bali, mereka tetap mampu melihat dan mengabadikan angle terbaik dari sudut tertentu dan membuatnya terlihat jaen idup di Bali.

undefined

Sumber Gambar

Tapi, se-jaen itu kah idup di Bali? Apakah jaen idup di Bali hanya berupa berfoto dengan latar belakang panorama yang begitu indahnya di Bali? kenapa tidak (belum) ada yang berfoto di tengah kesemrawutan lalu lintas lalu menggunakan hashtag jaen idup di Bali? Atau kenapa tidak (belum) ada yang mengambil foto dengan sungai-sungai besar yang kini menjadi aliran sampah dengan hashtag serupa? Tentu saja hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena beberapa orang mungkin saja beranggapan bahwa hal tersebut tidaklah hal yang jaen atau enak. Tapi bukankah jaen atau enak yang dimaksud adalah perpaduan dari suka dan duka yang dialami bukanlah hal yang menyenangkan atau yang indah saja? Hmm, let’s think twice..

Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah akankah selamanya alam Bali ini tetap indah dan sebegitu menakjubkannya sehingga kita bisa tetap mengabadikannya dalam foto dan tetap menggunakan hashtag jaen idup di Bali di foto yang diunggah? Fakta di lapangan sepertinya menunjukkan bahwa hanya segelintir oknum saja yang mampu merasakan makna jaen idup di Bali yang sejati. Sedangkan sebagian lainnya? Ya, menikmati jaen yang semu. Para investor dan pengusaha besar yang dengan pintarnya mampu melihat potensi besar yang terdapat di Bali sehingga mampu menjadikan dirinya merasakan kejaenan hidup di Bali. Tapi bagaimana dengan kebanyakan masyarakat lokal? Media lokal dewasa ini diramaikan dengan pemberitaan mengenai rakyat lokal yang hanya menjadi tamu di daerahnya sendiri, yang tertindas oleh kehadiran pendatang, yang tidak turut mencicipi manisnya berkah Bali, yang semakin tersisihkan di tanah sendiri. Perbandingan dua hal ini menimbulkan pertanyaan publik, siapa sebenarnya yang jaen idup di Bali? Jika ditarik kesimpulan kasar, maka ada 2 tipe sosok yang bisa dibilang jaen idup di Bali. Ada yang jaen idup di Bali sebagai subjek (investor), ada juga yang hanya sebagai objek, ya menikmati jaen yang semu. Sekarang semua tergantung kita, mau ambil peran yang mana.

Orang bijak mengatakan tidak ada di dunia ini yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Begitu juga keberadaan keindahan alam Bali yang sangat kita andalkan. Kondisi alam ini tidak akan mungkin pernah kekal, keindahan yang ditawarkan sekarang tidak sama dengan yang ditawarkan beberapa puluh tahun lalu. Namun ada hal yang dapat meminimalisir dari perubahan yang menuju arah negatif (kerusakan) itu, tak lain tak bukan adalah perilaku kita sendiri. Bagaimana kita mengelola dan menjaga keindahan alam yang sudah dianugrahkan kepada Bali sehingga keberadaannya minimal tetap seperti sedia kala. Karena lingkungan yang bersih adalah pangkal kemakmuran. Apabila diumpamakan Lingkungan mungkin tidak jauh berbeda dengan waktu, apabila kita sudah melampauinya dalam artian lingkungan sudah terlanjur rusak, kita tidak akan mampu untuk mendapatkan kembali lingkungan yang persis sama seperti sebelumnya, maka dari itu, hargai dan cintailah lingkungan seperti bagaimana kita mencintai sang waktu. Maka ketika orang mengatakan time is money it means environment is money too!

Janganlah keindahan pemandangan Bali dalam foto dengan hashtag jaen idup di bali hanya abadi dalam foto saja, semoga keindahan tersebut abadi sepanjang masa begitu juga dengan Jaen idup di bali mampu teraktualisasikan di berbagai segi kehidupan.

 

Tulisan ini berangkat dari opini pribadi semata yang bersumber pada pengalaman-pengalaman yang dialami penulis serta realita di lapangan yang dewasa ini marak (sangat mudah) ditemukan.

 
Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook