KulKulBali.co

[#JBK2016] Kereta Kuda

dalam Budaya

👤1543 read komentar 🕔21 Apr 2016
[#JBK2016] Kereta Kuda  - kulkulbali.co

Tulisan karya Anak Agung Sukma Dewi, finalis Jegeg Klungkung 2016, yang kini masih berstatus mahasiswi STIKES jurusan Keperawatan. Salah satu prestasi finalis Jegeg Klungkung ini adalah best catwalk dalam ajang modelling Sophie Paris 2015.

 

Klungkung merupakan salah satu kabupaten dari delapan kabupaten yang ada di Bali. Klungkung memiliki begitu banyak kebudaayan dan salah satunya memiliki alat transportasi yang saat ini keberadaan semakin punah yaitu “Dokar”. Dokar merupakan salah satu alat transportasi tradisional yang ramah lingkungan tanpa menyebabkan polusi dan hanya mengandalkan kuda sebagai alat penggerak, yang dikendalikan oleh seseorang yang disebut dengan kusir. Tanpa menggunakan bahan bakar Dokar dapat beroperasi mengantarkan kita ke tempat tujuan.

Sebelum mencapai era globalisasi, Dokar merupakan salah satu alat transportasi utama. Alat transportasi yang digunakan unuk bepergian, berbelanja ke pasar, bahkan sebagai alat untuk membawa barang-barang bangunan.

Dokar sempat mencapai masa kejayaannya sebelum memasuki era modern saat ini, jumlah yang begitu banyak bahkan mencapai ratusan melintasi sepanjang jalan, dan saat ini hanya terlihat beberapa Dokar yang tampak berbaris rapi. Namun saat ini Dokar hanya dapat ditemukan di daerah pedesaan dan juga sebagai alat transportasi berjarak tempuh dekat. Kedudukan Dokar saat ini telah tergeser oleh adanya alat transportasi modern seperti mobil dan sepeda motor, terlebih Gojek dan Uber. Hal ini membuat Dokar semakin ditinggalkan dan terlupakan.

“Kereta kuda menjadi kendaraan yang sangat romantis dalam cerita-cerita kerajaan”. Saya mendengar pernyataan tersebut dari teman saya saat kita menonton drama romantis. Dari perkataan tersebut saya langsung teringat ketika saya kecil, di sela-sela kesibukannya, orang tua mengajak saya untuk mengelilingi Kota Semarapura dengan menggunakan Dokar. Hal itulah yang membuat saya berkeinginan untuk mengelilingi Kota Serombotan dengan menggunakan Dokar, namun saat sesampainya di tempat yang biasanya terdapat begitu banyak Dokar, saya hanya melihat beberapa Dokar yang berbaris rapi menunggu penumpang dengan bapak kusir yang sudah begitu tua. Saya pun bertanya pada diri sendiri, mengapa Dokarnya tidak sebanyak dulu? Apakah peminat dokar berkurang? Bukankah wisatawan yang datang berkunjung akan menikmati perjalanan wisatanya dengan Dokar? Dokar merupakan warisan sejarah yang perlu dilestarikan yang dipertahankan.

Kita seolah lupa akan keberadaan warisan kebudayaan yang ada. Apakah kita mau kebudayaan yang kita miliki diadopsi orang lain ? Apakah kita akan menyadarinya disaat kebudayaan kita sudah diadopsi? Klungkung merupakan wilayah pariwisata yang sudah dikenal oleh masyarakat luar pulau bahkan luar negeri. Tidakkah semakin unik jika wisatawan bisa berkeliling menggunakan Dokar ? Menggunakan Dokar sebagai perjalanan pariwisata merupakan hal yang unik dan tentunya disukai oleh wisatawan yang berkunjung ke Klungkung untuk melihat kesenian-kesenian yang ada di Klungkung sendiri. Kita bisa menggunakan Dokar sebagai alat transportasi untuk berkeliling Klungkung.

Jangan tinggalkan apa yang kita miliki, tapi lestarikanlah.

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook