KulKulBali.co

[#JBK2016] Warisan Budaya Tanpa Penerus Ibarat Kerakap di Atas Batu

dalam Kabar > Klungkung

👤1880 read komentar 🕔22 Apr 2016
[#JBK2016] Warisan Budaya Tanpa Penerus Ibarat Kerakap di Atas Batu - kulkulbali.co

Tulisan karya Dharma Putra, finalis Bagus Klungkung 2016, yang kini masih berstatus pelajar di SMA Negeri 2 Semarapura. Salah satu prestasi finalis Bagus Klungkung ini adalah Runner Up 2 dalam ajang Putra Putri SMADARA 2015. 

 

 “ I want to visit and learn about art at Klungkung regency, specially at Kamasan village that famous has a unique art, such as Wayang Kamasan Painting.”

Begitulah pernyataan yang pernah terucap dari salah seorang wisatawan yang berasal dari luar negeri. Namun saya berpendapat bahwa desa Kamasan juga memiliki kerajinan yang tak kalah saing dengan Lukisan Wayang Kamasan. Tetapi seiring berjalannya waktu, para pengerajin meninggalkan profesi itu dan beralih ke profesi lain. Dan informasi itu mampu membuat motivasi saya untuk menulis ke dalam artikel.

***

Kesenian desa Kamasan yang memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri, mampu mengharumkan nama Klungkung sehingga dikenal wisatawan sampai ke penjuru dunia. Berkat kesenian itulah desa Kamasan dijadikan desa wisata. Salah satu kesenian yang terkenal, yaitu Lukisan Tradisional Wayang Kamasan. Namun, Kamasan juga memiliki kerajinan yang mampu menghipnotis wisatawan untuk mengunjunginya. Salah satu kerajinannya, yaitu Kerajinan Emas dan Perak. Biasanya pengerajin emas dan perak membuat kerajinan seperti bokor, cincin, dan lain-lain.

Kerajinan di pulau Bali pada umumnya bersifat unik dan biasanya digunakan pada acara-acara tertentu. Seperti halnya penggunaan bokor yang digunakan untuk tempat menaruh buah-buahan, canang, dan sarana sesajen lainnya bagi umat Hindu ketika ada upacara agama. Namun dilihat dari nilai jual kerajinan-kerajinan tersebut, memang cukup tinggi. Terlihat dari ukiran-ukiran yang terdapat pada bokor tersebut, yang sangat rumit dan membawa keunikan tersendiri.

Namun, kebanyakan orang kurang peduli tentang cara membuat kerajinan itu sendiri. Bagi penatah (orang yang mengukir) masyarakat kurang peduli karena proses pembuatan kerajinan tersebut memakan waktu yang cukup lama, yaitu 1 bulan dan menghasilkan 1 bokor saja. Dan juga dalam proses pembuatannya, sangat menguras banyak tenaga dan harus teliti dalam mengukir bokor-bokor tersebut karena sedikit pun kesalahan, akan berakibat fatal. Itulah yang membuat masyarakat, khususnya generasi muda enggan untuk terjun ke dunia kerajinan tersebut.

“Kadang-kadang, kita sebagai pengerajin kewalahan dalam membeli bahan baku, seperti perak yang harganya meningkat pesat. Itu juga yang menyebabkan profesi ini kurang digemari oleh masyarakat khususnya generasi muda.” Itulah pernyataan dari salah satu pengerajin yang sangat khawatir jika warisan kerajinan itu tidak dapat diwarisi dengan baik karena faktor-faktor tersebut. Banyaknya faktor penghambat yang menyebabkan pelestarian kerajinan tersebut menjadi tantangan yang sangat berat serta yang tidak kalah penting, kepedulian masyarakat maupun individu masih sangat minim terhadap nilai kerajinan tersebut. Generasi muda hanya bisa membeli dan menikmati karya seni itu tanpa mau tau dan peduli bagaimana cara-cara membuat kerajinan dan menghargai sebuah karya seni tersebut.

Kita sebagai generasi muda, seharusnya mempelajari tentang kerajinan lebih mendalam agar di masa mendatang, warisan dari nenek moyang itu tetap utuh dan tidak dilupakan. Dan juga generasi muda harus mendapatkan pelatihan tentang kerajinan serta praktiknya agar wawasan di bidang kerajinan lebih membudidaya. Tidak hanya masyarakat atau generasi muda yang harus peduli, namun pemerintah pun juga harus peduli terhadap kerajinan tersebut agar para pengerajin hidupnya lebih sejahtera dan meningkatkan kreatifitas pengerajin.

 

Sumber Referensi :

Hasil wawancara dengan Mangku Ketut Sukerta (seorang pengerajin emas&perak di desa Kamasan)

 

Editor : Maha Dwija Santya

Artikel Lain dari Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook