KulKulBali.co

[#JBK2016] Ikhtiar Pemanfaatan Sumber Mata Air Lokal untuk Pembangunan Klungkung

dalam Kabar > Klungkung

👤1474 read komentar 🕔27 Apr 2016
[#JBK2016] Ikhtiar Pemanfaatan Sumber Mata Air Lokal untuk Pembangunan Klungkung  - kulkulbali.co

Tulisan karya Novita Larasswati, finalis Jegeg Klungkung 2016, yang kini masih menjadi siswi SMA Negeri 1 Semarapura. Salah satu prestasi yang pernah ia raih adalah Paskibraka Provinsi Bali 2015. 

Pemerintah Kabupaten Klungkung sedang gencarnya melakukan pembangunan yang bertujuan mensejahterakan masyarakatnya. Sejalan dengan pesatnya pembangunan yang sedang dilaksanakan, mari kita coba ungkap sisi lain yang belum banyak diperhatikan namun sering ditemukan di keseharian kita.

Tahukah kamu dan sadarkah kamu? Penasaran?  Mari kita simak bersama dengan seksama.

Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang sangat terkenal dengan budaya tradisi yang sangat kuat, keramahan masyarakat lokal, serta  tidak kalah menariknya yaitu pesona alam  memukau  yang menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pulau Dewata. Tapi, dibalik segala kemegahan yang dimiliki Pulau Bali, tersimpan hal yang cukup menyayat hati. Krisis air yang dialami oleh masyarakat Bali merupakan ancaman yang makin mendekat. Mengapa demikian? Hal ini terjadi akibat penggunaannya yang melebihi ambang batas serta masyarakat yang kurang bijak untuk menggunakan air. Terlebih, air merupakan komponen penting, baik untuk berlangsungnya kehidupan manusia serta lingkungan itu sendiri. Persoalan air yang belakangan ini menjadi polemik serius, menjadikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Klungkung untuk meminimalisasi daerah krisis air.

Sampai saat ini dari sisi potensi debit air yang dimiliki Kabupaten Klungkung masih mampu melayani masyarakat hingga tahun 2019, karena memiliki kapasitas hampir 600 Liter/detik dan baru dimanfaatkan sekitar 386 Liter/detik, sedangkan dari sisa debit air yang dimiliki, PDAM masih berasumsi bisa memenuhi kebutuhan dari data sumber yang sudah ada. Dari cakupan pelayanan, Klungkung khususnya untuk daerah daratan sudah melebihi syarat dunia yaitu sebesar 74%. Tetapi, untuk daerah Nusa Penida baru mencapai 24%. Nusa Penida yang minim sumber mata air menjadikan PDAM memunculkan ide-ide untuk mengatasi krisis air, yaitu  akan dilaksanakan pengembangan, seperti di daerah Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan untuk mengolah air laut menjadi air minum. Walaupun pasokan air di Klungkung daratan telah melebihi target, tidak menutup kemungkinan ada daerah yang masih  mengalami krisis air. Contohnya di Dusun Bukit Tengah, Desa Pesinggahan. Ini di karenakan profesi penduduk setempat yang bercocok tanam, dalam sistem perpipaan belum dapat dipenuhi oleh PDAM. PDAM memenuhi kebutuhan air berdasarkan permintaan dari masyarakat. Tapi disayangkan, di saat musim kemarau tiba kebutuhan air meningkat, air yang didistribusikan oleh PDAM tidaklah gratis. Biaya yang dikeluarkan masyarakat pemakai yakni 6000/tangki, sedangkan biaya untuk  mengangkut air dikenakan sekitar Rp.150.000-Rp.200.000.

Mungkin belum banyak masyarakat yang tahu bahwa PDAM Kabupaten Klungkung selama ini menyuplai air dari kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Bangli dan Karangasem. Kenapa harus menyuplai air dari lintas kabupaten? Sebagai contoh kita ambil Kabupaten Karangasem, pembangunan sistem di Kabupaten Karangasem dibangun oleh pemerintah Provinsi. Sehingga dibangun sumber-sumber mata air yang lintas Provinsi bisa dimana saja. Kebetulan Klungkung minim dengan sumber mata air. Ketua Bagian Teknik PDAM Kabupaten Klungkung , I Ketut Karnata menuturkan “Klungkung hanya memiliki sumber mata air di Bajing, Desa Tegak, itupun hanya 30 Liter/detik serta di Lumbih, Desa Bumbungan Kecamatan Banjarangkan itu juga 30 Liter/detik. Selain di kedua desa yang disebutkan tadi, memang ada sumber mata air yang lain, tetapi debit air yang dihasilkan hanya sekitar setengah sampai dua liter/detik. Di sisi lain pemanfaatan sumber mata air sebagai kawasan yang disucikan karena kerap digunakan untuk prosesi ritual agama tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk masyarakat luas.” Sehingga sebagian besar kebutuhan air diperoleh dari sumber mata air Rendang. Apabila dikelola oleh Kabupaten Karangasem akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi, sedangkan jika dikelola oleh Kabupaten Klungkung jatuhnya lebih efisien.

Terlepas dari polemik tentang penggunaan air, dilansir dari majalah Bali Post, ada inovasi yang timbul dari masyarakat Desa Dawan Kaler dalam menggali dan memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Melalui BUMDes ( Badan Usaha Milik Desa), mereka telah mampu membentuk perusahaan Air Minum Udaka yang mengolah potensi air di daerah tersebut menjadi air minum dalam kemasan gelas dan galon isi ulang. Hingga saat ini, Udaka telah melayani pelanggan yang ada di Denpasar, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Karangasem. Betapapun sudah terbukti upaya inovasi oleh BUMDes Dawan Kaler, di sisi lain usaha ini masih terkendala untuk mengembangkan usahanya secara optimal utamanya dari segi modal, pemasaran, serta perlengkapan yang kurang representatif. Meskipun persaingan antar perusahaan air minum kemasan sangat ketat, Udaka telah diterima oleh masyarakat. Bupati Suwirta berharap agar masyarakat Klungkung memanfaatkan atau memproduksi potensi lokal di daerahnya.

Sumber Referensi :

Majalah Bali Post edisi 135| 25 April – 1 Mei 2016

Hasil wawancara dengan I Ketut Karnata (Kepala Bagian Teknik PDAM Kabupaten Klungkung)

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook