KulKulBali.co

[#JBK2016] Tinggi Menjulang Tugu Lingga Yoni

dalam Budaya

👤1855 read komentar 🕔03 May 2016

“Mau tanya sedikit, tau Monumen Puputan Klungkung, gak?”

“Oh, tau dong.”
“Itu monumen apasih? Kok bentuknya kayak gitu?”
“Kurang tau nih. Emang apa ya?”

Pernyataan tersebut tentu sangat memilukan sebagai generasi muda penerus bumi Serombotan. Artikel ini telah merangkum berbagai hal tentang Monumen Puputan Klungkung untuk menambah wawasan pembaca mengenai bangunan yang satu ini.

Monumen Puputan Klungkung adalah sebutan bagi bangunan yang berdiri di pusat Kota Semarapura. Monumen yang terletak di Jl. Untung Surapati lahir untuk memperingati peristiwa sejarah puputan Klungkung. Peristiwa yang terjadi pada 28 April 1908 tersirat pada bangunan yang dirancang oleh Ida Bagus Tugur. Tinggi tugu 28 meter menandakan tanggal terjadinya Perang Puputan Klungkung. Gapura yang berjumlah 4 menandakan bahwa perang terjadi pada bulan keempat, April. Bangunan yang berbentuk kubah segi 8 serta memiliki 19 buah kembang teratai menandakan tahun peperangan tersebut yaitu 1908. Tugu ini dbangun pada masa pemerintahan Dr. Tjokorda Gede Agung.

Selain sarat dengan filosofi sejarah, monumen juga dijadikan sebagai objek wisata yang di dalamnya tersaji diorama yang menggambarkan sejarah puputan Klungkung. Tak jarang pula, di sekitar monumen ini digunakan sebagai acara peringatan kemerdekaan RI, salah satunya karnaval. Tugu yang menjulang mengundang daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Bentuk yang khas, namun sukses mengundang rasa penasaran masyarakat umum. Dibalik keagungannya bangunan ini terselubung makna dan belum banyak diketahui oleh orang awam. Sesungguhnya, apa bentuk dari monumen ini?

Menurut wawancara dengan budayawan Klungkung, monumen berbentuk lingga yoni. Istilah lingga yoni diambil dari filsafat Hindu dengan lingga dilambangkan sebagai purusa dan yoni sebagai pradana. Lingga berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga siwa dalam bentuk tiang batu, patung dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601).

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa yang pada hakikatnya mempunyai arti peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau khusunya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa yang telah ada di hampir semua kitab suci Agama Hindu. Lingga yoni berkaitan dengan tri purusa yaitu Siwa sebagai simbol lingga sedangkan Brahma dan Wisnu bersama-sama disimbolkan dalam pranala sebagai dasar yaitu yoni.

Di atas yoni merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Bharma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi 8 disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti. Ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Tri loka : Bhur, Bvah, Svah.

Lingga yoni adalah lambang alat vital laki-laki dan alat vital wanita. Sejak zaman dahulu, lingga yoni dijadikan pusat pemujaan kepada Tuhan. Lingga yoni merupakan simbol penciptaan manusia dan kemakmuran. Kemakmuran manusia itu disebabkan karena mampu menyakralkan dan mensucikan lingga yoni. Lingga dilambangkan dengan tiang atau tonggak bisa berbentuk persegi atau silinder. Yoni dilambangkan sebuah wadah yang berbentuk persegi atau lingkaran yang memiliki pancuran.

Sejak awal pembangunannya, bentuk monumen ini sempat menuai kritik tajam di kalangan masyarakat. Ketidakpahaman masyarakat mengenai makna dari lingga yoni menjadi salah satu penyebabnya. Apabila ditelaah secara rinci, lingga yoni bukanlah sesuatu hal yang bersifat pornografi. Bersatunya lingga yoni akan membentuk suatu dinamika kehidupan seperti keturunan ataupun generasi penerus yang dapat menciptakan kemakmuran.

Bangunan yang kental akan filosofi sejarah macam monumen ini tak boleh dilupakan. Masyarakat Klungkung wajib mengetahui asal usul bumi serombotan, khususnya generasi muda. Mari jaga dan lestarikan warisan leluhur Klungkung. Jika bukan kita, siapa lagi?

Kenalilah hal kecil di sekitarmu, barulah kau pantas disebut sebagai generasi penerus Klungkung.

 

Referensi :
1. Wawancara dengan Drs. Nyoman Purnama selaku Kabid Objek Sarana Prasarana Pariwisata Kabupaten Klungkung
2. Adrian Subastian, http://semarapura-klungkung.blogspot.co.id/2015/02/monumen-puputan-klungkung.html
3. Anonim, http://sejarahharirayahindu.blogspot.co.id/2011/11/lingga-yoni.html?m=1

 

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook