KulKulBali.co

[#JBB2016] Mengimplementasikan Nasihat Sri Krisna Terhadap Arjuna dalam Mengantisipasi Perpecahan dalam Masyarakat.

dalam Budaya

👤1394 read komentar 🕔08 Jul 2016
[#JBB2016] Mengimplementasikan Nasihat Sri Krisna Terhadap Arjuna dalam Mengantisipasi Perpecahan dalam Masyarakat. - kulkulbali.co

Mengimplementasikan Nasihat Sri Krisna Terhadap Arjuna dalam Mengantisipasi Perpecahan dalam Masyarakat.

 

            Masyarakat Bali dikenal dengan karakter terbuka, ramah, dan luwes sehingga masyarakat Bali menjadi sangat baik terhadap sesamanya, hal inilah yang sering disebut “menyama braya”. Konsep ini merupakan salah satu cara dilakukan untuk mencapai kebahagiaan dan kerharmonisan dalam hidup (dharma santhi) dan juga dijadikan sebuah kearifan lokal. Di dalam konsep “menyama braya”semua manusia tanpa kecuali, sesungguhnya adalah bersaudara. Konsep “menyama braya” tentunya tidak terlepas dari filosofi yang mendasari kehidupan sosial masyarakat Bali, yaitu “Tri Hita Karana” dengan implementasi dari prahyangan yang meliputi seluruh kegiatan keagamaan (religius) yang bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pawongan yang meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia dalam ikatan sosial yang harmonis. Palemahan yang menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya. Implementasi konsep “menyama braya” yaitu dengan Tat Twam Asi(aku adalah kamu: semua manusia pada hakekatnya adalah  satu). Hanya dengan pengakuan tersebut dapat menciptakan kerukuan di antara masyarakatBali yang plural agama, etnis dan budaya dapat saling menghormati, menghargai, memahami, saling menolong, dan saling mengasihi karena pada hakekatnya masyarakat Bali yang plural adalah satu (keluarga/saudara) sehingga perbedaan apapun tidak dapat menjadi penyebab suatu disharmonis dalam masyarakat.

            Namun, tidak sejalan dengan hal di atas, banyak masyarakat Bali saat ini tidak lagi memliki rasa “menyama braya” hal ini dibuktikan dengan beberapa kasus yang masih sering terjadi di Bali, yaitu seperti kasus beberapa bulan lalu, terjadi bentrok antar oraganisasi masyarkat (ormas) yang berujung kepada perpecahan. Kedua ormas tersebut sudah saling pukul di depan Robinson, Jalan Sudirman, Denpasar dan ada beberapa yang membawa senjata sejenis tombak dan parang (Bali Post). Fakta tersebut membuktikan bahwa masyarakat Bali sudah tidak lagi memiliki rasa “menyama braya”.

            Sebagai generasi muda, kita harus dapat mengimplementasikan nasihat-nasihat dari Sri Krisna terhadap Arjuna untuk dapat mengantisipasi perpecahan-perpecahan yang terjadi di masyarakat, yaitu seperti yang terdapat dalam  nasihat Sri Krishna “Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). Dengan nasihat di atas kita dapat memahami bahwa dharma tidak hanya dilakukan dengan menghaturkan persembahan, tetapi dengan menciptakan keharmonisan di masyarakat kita dapat melakukan dharma. melaksanakan dharma dengan saling mengasihi, saling memaafkan, tenggang rasa, serta memiliki rasa toleransi yang tinggi dalam masyarakat maka “menyama braya” akan terwujud kembali. Masyarakat Bali yang harmonis dan damai akan dapat memberikan manfaat yang sangat banyak, baik dari bidang sosial maupun ekonomi. Jadi dengan memahami dan melaksanakan nasihat tersebut kita dapat meningkatkan keharmonisan antarmanusia dan "menyama braya” tetap terjaga dan lestari.

 

 

Dapus

http://balipost.com/read/headline/2016/05/26/51784/dua-ormas-bentrok-lagi-tentara-dan-polisi-pun-ngamuk.html

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook