KulKulBali.co

Kehijauan yang Mulai Memudar

dalam Kabar > Klungkung

👤1043 read komentar 🕔18 Apr 2017
Kehijauan yang Mulai Memudar  - kulkulbali.co

Kehijauan yang Mulai Memudar

“SUBAK”

Oleh : I Dewa Gede Rama Dwipayana

Mendengar kata subak pasti terpikir tentang sebuah organisasi kemasyarakatan yang dengan khusus mengatur dan mengelola sistem pengairan sawah. Ya bagaimana tidak, sebagai masyarakat Bali, pasti sangat lekat dengan kata subak. Subak diketuai oleh seorang pekaseh, namun secara umum lebih dikenal dengan kelian subak. Subak dibagi menjadi dua yaitu, subak abian dan subak irigasi. Subak abian adalah organisasi petani yang mengelola kebun sedangkan subak irigasi adalah organisasi subak yang mengelola lahan pertanian. Subak pernah dinobatkan menjadi sebuah situs warisan dunia oleh UNESCO yang merupakan organisasi internasional dibidang edukasi, sains dan kebudayaan pada tahun 2012.undefined

Sumber : Dokumen Pribadi

            Subak sangat bergantung dengan aliran air yang sudah tentu fungsinya adalah untuk mengairi sawah. Sumber air di Bali biasanya bersumber dari pegunungan atau danau yang dialirkan oleh sungai. Air mengalir inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para petani untuk mengairi sawah mereka. Umumnya pada organisasi subak, mereka memohon kesuburan dengan memuja Dewi Sri yang berstana di Pura Ulun Carik.

            Subak mencerminkan konsep Tri Hita Karana yang memiliki arti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan” yaitu bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama makhluk hidup.Sebuah subak terdiri atas kawasan parahyangan, palemahan, dan pawongan. Parahyangan sebagai daerah suci yang ditandai degan keberadaan pura subak. Palemahan sebagai unsur alam berupa persawahan, tempat legiatan produksi petani. Pawongan atau unsur manusia ialah hubungan antar petani. Sistem subak mulai dikenal oleh masyarakat Bali sejak abad ke 11 masehi sesuai prasasti Raja Purana Klungkung (994 saka/1072M). Tentu saja sebagai masyarakat Klungkung harus bangga akan hal ini, karena Klungkung mempunyai sejarah yang sangat luar biasa tentang subak.

            Klungkung sebenarnya memiliki potensi agraris yang tidak kalah besarnya dengan Kabupaten lainnya di Bali. Ini terbukti dengan dinilainya subak Tohpati yang merupakan Duta Kabupaten Klungkung dalam Lomba Subak Provinsi Bali pada tahun 2004. Itu membuktikan bahwa subak di Klungkung ini sangat tertata dengan bagus pada saat itu. Tentunya itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Klungkung.

            Menurut data website resmi Pemerintah Kabupaten Klungkung, pemerintah telah memberikan bantuan kepada 42 subak abian dan 43 subak sawah yang ada di Klungkung. Penyerahan bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Klungkung Nyoman Suwirta di Wantilan Pura Jagatnata, jumat (25/11/16). Ini dilakukan Pemerintah Kabupaten Klungkung agar para petani atau yang tergabung dalam subak termotivasi dan memiliki semangat untuk mempertahankan apa yang menjadi warisan leluhur.

            Namun, saat ini sangat sedikit generasi muda Klungkung yang tertarik dengan subak bahkan hampir tidak ada. Hal Ini dikarenakan beberapa faktor antara lain sebagai berikut :

  1. Pergaulan yang membentuk asumsi generasi muda bahwa kegiatan di sawah itu adalah kegiatan kotor dan tidak punya apa-apa.
  2. Kurangnya penanaman minat dari dini tentang berkecimpung di dunia subak.
  3. Generasi muda lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mencari kesenangan duniawi saja.

Apalagi sekarang sedang maraknya penjualan lahan sawah dan akan ditanami beton. Jika hal ini berlarut-larut maka sangat besar kemungkinan subak di Klungkung ini akan tinggalah sebuah nama.

            Sebenarnya peluang bisnis di dunia pertanian itu tidak kalah saing dengan peluang bisnis yang lainnya. Maka dari itu sebagai generasi muda Klungkung harus tetap menjaga dan melestarikan subak yang ada di Klungkung. Lahan-lahan sawah jangan dijual, sebaiknya cari orang yang mau menggarap sawah itu daripada dijual. kalau sawah tidak ada lagi, maka budaya subak akan menghilang. Pemerintah juga harus memperkuat koperasi tani agar para petani di Klungkung lebih semangat dalam bertani dan memberikan penyuluhan kepada generasi muda Klungkung agar mau berkecimpung di subak agar subak ini bisa tetap lestari dan ajeg. Jika sudah begitu niscaya subak di Klungkung akan bangkit dan kemungkinan Klungkung memiliki destinasi pariwisata subak. I Love SUBAK.

Salam Gema Shanti.

           

           

 

Editor : Maha Dwija Santya

Artikel Lain dari Penulis

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook