KulKulBali.co

Skizofrenia, Belenggu Kehidupan dari Secercah Jiwa Manusia

dalam Humanoria

👤3061 read komentar 🕔11 Mar 2014
Skizofrenia, Belenggu Kehidupan dari Secercah Jiwa Manusia - kulkulbali.co

"Matanya melihat yang tidak akan terlihat oleh orang lain...
Telinganya mendengar yang hanya bisa didengar olehnya...
Merasakan sentuhan dan sensasi yang tidak dapat dijelaskan oleh orang disekitarnya...
Pikirannya membangun, dan membentuk sebuah alur kehidupan yang tidak pernah dibayangkan olehnya...
Sebuah alur yang akan merubah kehidupannya yang tenang...
Menjadi jalan panjang penuh rintangan...
Seumur hidupnya..."

Skizofrenia...
Suatu kondisi dimana seseorang harus mengalami cobaan yang sangat Berat dalam hidupnya...
Suatu kondisi yang akan merubah kehidupan penderitanya...

* * *

Sebuah cerita berdasarkan pengalamanku saat bertugas di Rumah Sakit Jiwa.
Hari itu minggu. Sore hari, mungkin sekitar pukul 18:00.
Aku baru saja menggunakan pakaian, dan duduk untuk bersantai di teras rumah dinas tempatku bertugas saat telepon genggamku berdering...

Sebuah panggilan dari UGD...

"Pasien lagi," pikirku mengeluh. Hari itu merupakan hari pertama aku bertugas di RSJ, dan sudah kebanjiran pasien sejak siang.
Dengan enggan kuangkat panggilan tersebut, dan benar saja. Seorang pasien baru menungguku di UGD.
Bergegas kupanggil rekanku dan kami segera menuju UGD yang berjarak dua menit dari rumah dinas.

Kulihat seorang wanita paruh baya berpakaian rapi, dengan gaun indah berwarna merah muda cerah berdiri dengan pandangan curiga di samping pintu depan sebuah mobil, menolak untuk diajak masuk. Seorang pria -yang sepertinya anaknya- berusaha keras untuk merayu. Namun sang ibu berkeras, tidak bersedia untuk masuk.

"Ayo masuk, Ma, sebentar aja. Mama gak bakal disakiti kok... Cuma diajak ngobrol." Kalimat itu berulang kali kudengar dilontarkan oleh sang anak dengan wajah memelas dan air mata menggenang.

"Gak mau! Kamu jahat sama mama. Bilang Mau ajak jalan-jalan malah kamu ajak mama kemari. Kamu sekongkol sama dia mau sakiti mama. Kamu jahat! Mama tau semuanya!" Teriaknya penuh amarah sembari menuding seseorang yang ada di dalam UGD.

Kemudian wanita itu mencakupkan tangannya layaknya seorang yang sedang sembahyang dan berkomat kamit dalam bahasa yang tidak dapat kumengerti.

Heh?

Di teras UGD tampak seorang anak kecil menangis tersedu. Kedua tangannya menutupi wajah. Di sebelahnya sang kakak berusaha menenangkan adik bungsunya sambil menahan air mata. Suaranya bergetar... Terlihat jelas dia berusaha tegar...

* * *

Di meja periksa UGD tempatku biasa mengajak pasien ngobrol untuk mengetahui penyakitnya -sekedar info, hampir seluruh penyakit kejiwaan hanya memerlukan wawancara untuk mengetahui diagnosisnya- telah duduk seorang laki-laki paruh baya. Ia duduk dengan wajah tegang, yang diselimuti kesedihan sembari sesekali memandang keluar di mana kakaknya berteriak. Marah pada dirinya.

Kuhampiri laki-laki itu dan menyapanya.

Obrolan dengan adik pasien itu berlangsung sekitar 15 menit, dan dari obrolan itu aku mengetahui riwayat penyakit pasien. Bagaimana dan kapan awal mula munculnya gejala, kehidupan sosial pasien saat sehat, dan banyak hal lain. Akan sangat panjang bila kutulis saat ini.

Intinya, aku mengetahui bahwa sang kakak selalu Merasa curiga pada orang lain. Merasa ketakutan dan terancam akan disakiti bahkan dibunuh. Karena rasa takut itulah sang kakak mulai berperilaku aneh, tidak mau keluar kamar, sering berbicara sendiri, dan kerap mengamuk tanpa alasan yang jelas.

Pihak keluarga sudah berusaha membawa pasien ke dokter praktek swasta, karena malu bila harus membawanya ke RSJ. Mereka takut akan cemooh masyarakat sekitar bila pasien harus dirawat di sana.
Namun karena tidak melihat adanya perkembangan kondisi, pasien itu terpaksa juga diajak ke RSJ.

Kuhampiri sang kakak yang masih berkeras berdiri di samping mobilnya, masih tak mau diajak masuk.

"Ayo ibu, kita masuk sebentar untuk ngobrol, setelah itu ibu boleh pulang," ucapku, merayu dan menjulurkan tanganku untuk meraih tangannya.

Sambil menepis keras tanganku, dia berteriak, "Kamu jangan pegang saya, kamu jahat! Saya orang baik yang disayang Tuhan. Saya tau kalian semua kerja sama, mau sakiti saya. Ya Tuhan, saya tidak sakit, kenapa saya dibawa kesini. Tolong saya, ya Tuhan. Mereka mau sakiti saya..." dilanjutkan dengan bahasa yang sekali lagi tidak dapat kumengerti.

Sekitar 30 menit kami semua -petugas medis dan keluarga- berusaha merayunya. Namun gagal. Akhirnya dokter senior yang sedang bertugas meminta ijin keluarganya agar pasien dibawa masuk ke dalam dengan paksaan.

Setelah diijinkan, dua orang satpam "menangkap" wanita itu. Dia meronta, berteriak, menangis, dan meminta maaf pada keluarganya. Memohon agar dia tidak disakiti, berusaha keras meyakinkan kami bahwa dia tidak jahat, dia tidak sakit.

Namun apadaya, tenaga seorang wanita paruh baya tak bisa melawan dua orang lelaki berbadan tegap yang sudah terbiasa menangani amukan. Wanita itupun dibawa ke ruang perawatan.

Melihat penderitaan sang ibu, ketiga anaknya spontan menangis. Tersedu. Si bungsu meraung keras di dalam pelukan kakaknya yang juga dibanjiri air mata.

Sungguh memilukan... 

Aku tidak bisa, dan tidak mau membayangkan seandainya yang diposisi mereka adalah aku... 

 ***

Terbaring lemas dengan tangan dan kaki terikat di ranjang, pandangannya kosong.

Seorang wanita paruh baya dengan dandanan rapi dan riasan wajah yang mencolok. Anak-anaknya menciumi pipi dan kening ibu yang telah melahirkan mereka. Mereka berpamitan, dan berjanji akan mengunjunginya sesering mungkin.

Sembari membisikkan, "lekas sembuh Mah, kami sayang mama..."

Wanita itu kini akan menjalani kehidupan barunya, sebagai seorang pasien rumah sakit jiwa. Untuk berapa lama?

Entahlah, tak ada yang bisa memastikan. Ia akan meminum obat hampir sepanjang sisa hidupnya. Dan saat sudah dinyatakan sembuh dan boleh berobat jalan, wanita itu masih harus menghadapi berbagai tanggapan masyarakat tentang dirinya, seorang wanita dengan predikat eks Rumah Sakit Jiwa

* * *

Kawan, itu tadi sepenggal kisah tentang pasien skizofrenia paranoid.
Sebuah kisah seorang pasien yang cukup beruntung, karena keluarganya memilih untuk mengobatinya alih-alih memasungnya.

Memasung? Yahh... mengurungnya di pondok kecil tanpa penerangan dan tempat buang air.

 

Layaknya seekor binatang buas yang harus dikandangkan karena berbahaya.
Berusaha dijauhkan dari masyarakat karena skizofrenia adalah aib bagi mereka.

Editor : Gusti Ngurah Indrakusuma

Tentang Penulis

Gusti Ngurah Indrakusuma

Orang biasa yang kebetulan dapet kerjaan buat nolong orang sakit... gstngurahindra.blogspot.com

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook