KulKulBali.co

Orang Bali Mengenal Kasta, Benarkah Orang Bali Diskriminatif?

dalam Inspirasi & Renungan

👤9858 read komentar 🕔25 Mar 2014
Orang Bali Mengenal Kasta, Benarkah  Orang Bali Diskriminatif? - kulkulbali.co

 

Salah satu pertanyaan yang “top” bagi mahasiswa Bali yang merantau adalah pertanyaan masalah kasta.

Seringkali pertanyaan seputar kasta itu muncul memang karena rasa ingin tahu. Akan tetapi tidak jarang pula dibalut dengan nada sinis. Biasanya selalu saya tanggapi dengan santai, tetapi tetap berusaha saya jawab dengan serius dan sesuai dengan apa yang saya ketahui. Pandangan saya masalah kasta adalah hasil pengamatan saya sendiri sejak lahir dan tumbuh besar di Bali selama lebih kurang 18 tahun serta ditambah logika atau penalaran yang umum.

Kurang lebih beginilah percakapan tentang kasta itu biasanya dimulai,

 

Teman bukan orang Bali : Wah, di Bali katanya mengenal sistem kasta ya. Kasihan ya orang yang terlahir sebagai orang biasa.

Saya : Ehm, maaf yang kamu maksud kasta itu apa ya? Saya juga masih kurang jelas dengan apa yang didefinisikan sebagai kasta.

Teman bukan orang Bali : Itu lo, status orang yang ditentukan berdasarkan keturunan.

Saya : Ehm, kalo pembagian pekerjaan berdasarkan kemampuan dan minat memang ada di Agama Hindu yang disebut dengan Catur Warna. Secara garis besar masyarakat digolongkan sebagai kaum cendikiawan yang disebut Brahmana, Ksatria adalah sebutan bagi orang-orang yang menjalankan pemerintahan atau menjadi pelindung di masyarakat, Waisya adalah orang-orang yang menjalankan roda perekonomian, dan yang terakhir adalah orang-orang yang pekerjaannya melayani orang lain disebut sebagai Sudra.

Namun saya tidak memungkiri jika ada beberapa orang yang mendapat nama khusus dari garis keturunan. Misalnya orang dengan nama depan ida bagus atau ida ayu itu berasal dari keturunan Dang Hyang Nirartha yang dulu merupakan seorang Brahmana. Ada juga misalnya nama depan anak agung yang mungkin dulunya leluhur mereka adalah keturunan raja-raja Bali yang merupakan kaum Ksatria.

Saya : Apakah nama depan atau gelar yang berasal dari garis keturunan itu yang kamu maksud dengan kasta? Jika memang demikian adanya, lalu bagaimana dengan Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta? atau Raja Arab Saudi, Raja Brunei Darusalam, Raja Inggris, Kaisar Jepang? Apakah itu bukan bentuk kasta juga?

Teman bukan orang Bali : Ehm, gak dong itu kan cuma kasus raja saja yang muncul dari sistem kerajaan zaman dulu kalau kamu kan mengenal kelas bawah atau pelayan yang kamu sebut dengan Sudra itu. Selain di Yogyakarta gelar raja itu hanya simbolis saja dimana tampuk pemerintahan dipimpin oleh orang lain.

Saya : Sama, di Bali juga penentuan pekerjaan seseorang dari garis keturunan itu sudah tidak aktif lagi. Kini semua pekerjaan bisa diraih secara demokratis oleh siapapun. Namun saya akui ada kasus spesial misalnya orang-orang ida bagus yang masih dipercayai menjadi pemuka agama dan diberi mandat untuk memimpin upacara-upacara keagamaan oleh masyarakat sekitar.

Itu tidak lebih karena leluhur dari orang-orang ida bagus itu adalah Dang Hyang Nirartha yang membawa konsep padmasana ke Bali (konsep pemujaan Tuhan yang Esa) dan membangun beberapa pura-pura penting di Bali. Pura Uluwatu dan Pura Tanah Lot yang sering dijadikan pelancong-pelancong sebagai foto facebook mereka sebagai tanda mereka pernah ke Bali, konon adalah karya beliau. Oleh karena jasa-jasa Dang Hyang Nirartha itu dirasa sangat besar bagi masyarakat Bali sehingga keturunan nya pun masih dipercaya sebagai pemimpin upacara keagamaan hingga sekarang.

Sama halnya jika ada seorang yang berkedudukan sebagai pemuka agama, pasti kamu secara awam berpikir bahwa anaknya juga pasti orang yang sholeh dan ahli dalam masalah agama bukan? Meskipun dalam kenyataan nya tidak selalu demikian. Saya tidak tahu apakah nama-nama dari garis keturunan itu ditentukan secara sepihak atau kesepakatan masyarakat Bali zaman dulu. Meskipun itu ditentukan secara sepihak maka hal itu sah-sah saja. Misalnya Dian Sastrowardoyo ingin keturunan nya dikenal sebagi keluarga Sastrowardoyo maka nama setiap keturunan nya ditambah dengan nama Sastrowardoyo, hal tersebut sah-sah saja bukan?

Terkait dengan pertanyaan masyarakat kelas bawah, kami tidak mengenal adanya masyarakat kelas bawah. Sudra itu bisa diartikan sebagai orang biasa bukan orang kelas bawah. Mengapa orang biasa? Karena pekerjaan nya melayani orang lain. Pekerjaan melayani orang lain itu ada banyak sekali bukan? Ada petani, nelayan, ada pelayan rumah tangga, ada pelayan toko, ada pelayan kesehatan, ada pelayan administrasi , dan masih banyak lagi. Oleh karena itu kaum Sudra ini adalah kaum mayoritas. Dimana-mana orang yang menjadi rakyat biasa selalu mayoritas bukan? Masak lebih banyak pemerintah dari rakyat? Masak lebih banyak tentara dari rakyat biasa?

Teman bukan orang Bali : Tapi kata teman Bali yang lain bahwa kasta Brahmana itu paling tinggi, kemudian Ksatria, dan Sudra itu yang derajat nya paling rendah. Bukankah itu sangat diskriminatif menentukan kedudukan seseorang berdasarkan keturunan nya dan bukan dari kemampuan orang tersebut.

Saya : Saya tidak setuju dengan pandangan tersebut. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Semua pekerjaan saling melengkapi untuk membentuk kehidupan yang harmonis. Secara sempit memang tampak kaum cendikiawan atau ksatria itu lebih tinggi derajat nya dari petani, tetapi jika tidak ada petani memangnya kaum cendikiawan dan ksatria itu mau makan apa? Sama halnya jika kita lihat secara sempit maka kepala tampak lebih tinggi dari kaki, kepala tampak lebih mulia dari kaki dimana kepala adalah tempat mahkota digelungkan dan kaki adalah tempat bersentuhan dengan debu-debu yang kotor. Akan tetapi jika kita lihat secara lebih luas apakah bagus jika badan tidak ada kakinya? Semua elemen tubuh harus ada untuk membentuk kesatuan sehingga dapat berfungsi secara maksimal.

Saya coba berpikir positif bahwa tidak semua orang Bali ingin mendalami sejarah dengan detail dan memikirkan itu dengan seksama. Sama halnya mahasiswa luar Bali selalu beranggapan bahwa mahasiswa asal Bali pastilah bisa menari Bali, menari Kecak (cak-cak-cak), atau pasti bisa bermain surfing! Padahal tidak semua demikian bukan? Tidak semua tertarik untuk menari Bali apalagi bermain surfing.

Teman bukan orang Bali : Tapi jika berbicara dengan orang Bramana maka orang Sudra harus berbicara halus bukan? Dan orang Brahmana tidak perlu berbicara halus dengan orang Sudra.

Saya : Kamu kalo bimbingan dengan dosen kok ngomong nya selalu dengan bahasa halus dan sopan? Dan ketika pak dosen tidak membalas dengan bahasa halus kenapa kamu tidak protes? Protes dong! Sekali lagi saya tekankan munculnya nama-nama atau gelar-gelar dari garis keturunan di Bali tidak lebih sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa leluhurnya. Jika orang biasa berbicara dengan ida bagus atau anak agung dengan bahasa halus ada kemungkinan sebagai bentuk penghormatan atas jasa leluhurnya atau yang diajak berbicara memang orang baik!

Sesorang yang memaksa orang lain menghormati dirinya karena dia memiliki gelar keturunan tentu bukan sikap yang baik, ibarat bersembunyi di balik jasa-jasa besar leluhur. Orang biasa yang protes dirinya tidak dihormati seperti hal nya orang ida bagus atau anak agung juga bukan sikap yang tepat, ibarat menyalahkan leluhurnya dahulu mengapa tidak menjadi orang yang hebat dan berjasa besar. Jika anda ingin dihormati maka caranya sangatlah sederhana. Hormatilah orang lain! Itulah yang dikenal dengan konsep Tat Twam Asi yaitu “aku adalah kamu dan kamu adalah aku”.

* * *

 

Akhir kata sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa adanya nama-nama atau pemberian gelar-gelar dari garis keturunan itu bukan hanya ada di Bali saja melainkan juga ada di tempat lain terutama di tempat-tempat yang dulunya menganut sistem kerajaan atau feodalisme. Konon konsep kasta ini menjadi populer sejak dimunculkan oleh penjajah Inggris zaman dahulu untuk memecah belah masyarakat India.

Konsep kasta ini juga sering dikait-kaitkan dengan Agama Hindu yang mengenal Catur Warna sehingga ada celah bagi misionaris-misionaris agama lain yang sangat kompetitif untuk memojokkan penganut Agama Hindu. Pemahaman yang kurang atau keliru atau bentuk ketidaktahuan mahasiswa Bali di perantauan tentang kasta ini bisa menyebabkan adanya rasa minder. Hal ini seringkali dipakai oleh rekan-rekan kita yang agamanya sangat kompetitif dalam mencari pengikut untuk memojokkan mahasiswa Bali yang beragama Hindu. Kemudian tidak jarang munculah fenomena paid bangkung atau paid kaung.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Tentang Penulis

Ida Bagus Hendra

Seorang mahasiswa, suka mendaki gunung, bersepeda di jalanan kota, menonton film, mengobrol apapun tentang kehidupan, dan membaca buku (akhir-akhir ini dengan topik permaculture).

Lihat Semua Artikel 🌎Lihat Profil Facebook

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook