KulKulBali.co

Memaknai Sebuah Peran

dalam Inspirasi & Renungan

👤1735 read komentar 🕔31 Mar 2014

Malam ini Paman memulai ceritanya kembali.

....

Paman menceritakan bahwa dalam menjalani hidup, jalanlah di jalan Dharma.
Sudah sering kita mendengar hal ini, namun entah kenapa menjadi hal yang menohok saya malam ini.
Inti percakapan malam ini adalah.
"Menjalankan Dharma lebih kepada tanggung jawab dalam proses mengejarnya"

Kenapa saya berkesimpulan seperti ini?

Kita mengerti tentang kapasitas masing-masing manusia di dunia ini.
Ada yang diwajibkan untuk melayani.
Ada yang diwajibkan untuk menjadi Kesatria.
Ada yang diwajibkan untuk berkarya dalam Waisya.
dan Ada yang diwajibkan sebagai seorang Brahmana.

Dalam kita menjalankan proses kehidupan, kita akan ditunjukkan tentang bagaimana kita akan berjalan.
Oh saya akan kerkarir di pemerintahan, jadilah Kesatria yang baik.
Oh saya diwajibkan untuk melayani maka melayanilah dengan baik.
Itulah idealismenya dalam menjalankan hidup.
Setiap manusia mempunyai porsinya sendiri, mempunyai peran uniknya sendiri.

Kenyataannya?

Kewajaran sebagai manusia untuk berambisi.
Saya yakin sayalah yang akan merubah keadaan.
Saya yakin sayalah yang seharusnya menjadi kaya.
Saya yakin sayalah yang seharusnya di posisi itu.
Mau tidak mau, suka tidak suka begitulah kebanyakan manusia bersikap.
Sikap buruk dan kenikmatan dunia sering mengaburkan makna tentang bagaimana harusnya manusia berperan dalam hidup.

Paman saya berkata bahwa,
Manusia sudah sewajarnya menjalani peran-peran yang berbeda dalam hidup, sekarang Anda sebagai seorang pelayan tapi nanti bisa jadi seorang Ksatria.
Anda yang seorang Ksatria, akan menjalani seorang Brahmana saat waktunya tiba.
Ingatlah bahwa kesiapan Anda untuk menjalankan peran berbeda bukan bukan merupakan hasil keyakinan Anda sendiri.

Ilustrasinya seperti ini.
Anda seorang pedagang yang kaya serta pintar, dalam diri Anda muncul keyakinan untuk menjadi seorang pemimpin layaknya ksatria.
Anda berkeyakinan bahwa Andalah yang layak sehingga Anda lah yang meyakinkan orang untuk iklhas dipimpin oleh Anda.
Sehingga Anda berkampaye dengan idelaisme untuk mewujudkan keyakinan Anda tersebut.

Inilah yang bertentangan dengan jalan Dharma itu sendiri.

Saya bertanya kepada Paman, kenapa bertentangan?

Paman berkata, Jalan Dharma menekankan proses bagaimana pencapaian tujuan.
Seperti ilustrasi sebagai pedagang tadi, sudahkah dia benar menjalankan perannya sebagai pedagang?
Sudahkan orang lain menilai dia pedagang yang baik?
Atau keyakinannya bersumber pada ego, kesombongan, dan sifat buruk lainnya.
Disini harus ada proses penilaian kelayakan yang dilaksanakan oleh orang lain.
Saat Anda pedagang, Anda berkeyakinan menjadi seorang ksatria, namun bagaimana dengan orang lain? Apakah mereka berpendapat Anda memang layak?

Situasi yang berkembang saat ini, banyak orang yang memaksakan dirinya untuk berganti peran.
Berganti peran bukan merupakan proses alamiah, melainkan proses instan, pemenuhan ego setiap individunya.
Kenapa mereka bisa sangat yakin? Paman berbalik bertanya kepada saya.

Ini yang menggelitik saya, namun sebelum saya mampu menjawabnya, Paman kembali melanjutkan ceritanya.

Proses penilaian kelayakan oleh orang lainlah yang hilang saat ini.
Orang bisa dibeli dalam memberikan penilaian, dan di lain sisi ada orang-orang yang mampu membelinya. Orang-orang yang mampu membeli kelayakan untuk berganti peran!

Menembanglah Paman saya,

"De ngaden awak bisa"
(Jangan pernah merasa kita sudah mampu)
"Depang anake ngadanin"
(Biarkanlah orang lain yang menilai)
"Geginane buka nyampat"
(Layaknya Anda sedang menyapu)
"Anak sai tumbuh luu"
(Setiap harinya ada sampah)
"Ilang luu buke katah"
(Saat Anda sudah membersihkan sampah itu, datanglah debu sebagai gantinya)
"Yadin ririh liu nu pelajahin"
(Saat sudah pintar, masih banyak pelajaran lain yang mesti dipelajari).

 

Jalankanlah peranmu sebaik mungkin.
Jika memang kamu seorang pelayan, jadilah pelayan baik.
Jika nanti orang menilai kamu layak menjadi ksatria, maka kesempatan itu akan hadir. Namun ingatlah bukan diri kita yang meyakinkan kita layak.
Saat akhirnya kamu menjadi ksatria, maka belajarlah untuk menjadi ksatria yang baik.
Karena pada akhirnya, setiap peran yang dijalankan baik, akan mendapatkan Dharma serta kemasyuran saat waktunya Anda kembali kepada-Nya. Belajarlah mempertanggungjawabkan peran Anda di dunia.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook