KulKulBali.co

Meningkatkan Brand Awereness Millenial Menghadapi Globalisasi 4.0 terhadap Eksistensi Pariwisata Budaya Di Kabupaten Badung

dalam Kabar > Badung

👤100 read komentar 🕔15 Apr 2019

MENINGKATKAN BRAND AWERENESS MILLENIAL MENGHADAPI GLOBALISASI 4.0 TERHADAP EKSISTENSI PARIWISATA BUDAYA DI KABUPATEN BADUNG

I Putu Ferdiana Putra Wijaya

Finalis Bagus Badung Nomor Undi 15

 

        Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan serta keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, bahasa daerah, dan masih banyak lainnya (Mulyana,Aina:2016). Salah satunya adalah Bali yang sering disebut dengan Pulau Dewata yang sangat terkenal akan budaya dan adat istiadatnya. Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan tradisinya yang masih terjaga. Keunikan Bali yang lain bisa dilihat dari masyarakatnya yang memiliki sistem dan struktur sosial kemasyarakatan yang unik dan khas. Dasar-dasar pokok sistem dan struktur sosial kemasyarakatan orang Bali bertumpu pada empat landasan utama, yaitu kekerabatan, wilayah, agraris, dan kepentingan khusus (Geria, 2000).

undefined

Sumber : payungcokelat.blogspot.com

Fenomena Permasalahan Yang Terjadi Pada Millenial Sekaa Truna Truni

     Di Kabupaten Badung, Fenomena yang terjadi saat ini adalah kurangnya keterlibatan Sekaa Truna Truni yang masih kurang aktif dengan desanya sendiri. Dunia Globalisasi, teknologi serba canggih dan mata pencaharian juga yang berbeda-beda, hingga pendidikan sekarang juga sudah mengalami perubahan. Adapun sistem aturan lama contohnya aktif untuk datang dalam mengikuti kegiatan rapat Sekaa Truna Truni ini apakah masih bisa dipertahankan ?

         Tentu saja bisa, asalkan ada beberapa hal yang harus dipertahankan , pada dasarnya banyak yang kurang mengetahui budaya masyarakat Bali pada umumnya. Sebenarnya pada budaya kita mengenal tentang konsep budaya “Tat Twam Asi” yang mengajarkan kita untuk selalu saling menghormati dan menghargai sesama. Banyak hal yang terjadi saat ini di Kabupaten Badung masih kurangnya partisipasi Sekaa Truna Truni dalam ikut serta mengikuti acara rapat yang tentunya alasan klasik yang kita bisa dengar adalah buat tugas,kerja, ataupun kuliah.

           Globalisasi, hal ini selalu menjadi sebuah tameng para truna-truni ini untuk mengabaikan kegiatan sekaa truna. Istilah utama yang mereka gunakan begitu sederhana “dulu dan sekarang beda, “dulu ya dulu, sekarang ya sekarang”. Kalimat itu selalu terlontar ketika orang tua berusaha mengingatkan anak nya bahwa sekaa truna adalah organisasi yang telah ada sejak dulu dan wajib diikuti oleh setiap remaja Bali.

           Kalau sudah begini, terang saja semakin lama remaja badung semakin jauh dari kepribadian truna-truni yang sesungguhnya. Prilaku truna-truni ini semakin lama semakin tak ada bedanya dengan remaja-remaja di luar. Anak putri yang dulunya senang ketika di minta mebanten atau membantu ibunya metanding, kini justru sibuk mengurus dirinya dan asyik meniru penampilan-penampilan remaja putri mengikuti trend model jaman sekarang yang kita bisa sebut dengan up to date. Sebenarnya penampilan mereka sesungguhnya sangat jauh dari kebudayaan Bali pada umumnya. Celana yang pendek, baju ketat, atau rambut yang di bentuk mereka. Sama sekali tidak sesuai dengan kebudayaan yag ada di Bali. Sedangkan remaja Putra yang seharusnya mampu membantu sang ayah ngelawar kini lebih senang membeli makanan di restaurant fast food, dan enggan belajar membuat lawar, masakan tradisonal khas Bali.

Peran Millenial Sekaa Truna Truni Menjaga Eksistensi Budaya di Kabupaten Badung

         Filosofi “Mulat sarira hangsara wani”adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat Bali, Sunda dan Jawa yang merupakan konsep menemui jati diri yang sejati. Tantangan yang dihadapi generasi muda Kabupaten Badung khususnya di dunia millennial ini sering kita lupakan terhadap perjuangan nenek moyang yang mempertahankan budaya yang dilestarikan. Untuk itu peran sekaa truna truni harus bisa memahami istilah tersebut dengan cara mawas diri untuk melestarikan kekayaan budaya seta menjaga agar tidak hilang terhadap arus globalisasi saat ini.

           Di era globalisasi ini, minat truna-truni Kabupaten Badung untuk bergabung, dan bergerak aktif di organisasi kepemudaan atau yang di kenal dengan Sekaa Truna di banjar mereka sangat rendah. Sebenarnya melalui sekaa truna ini yowana Kabupaten Badung khususnya secara tidak langsung dibentuk hingga memiliki karakter yang bernafaskan budaya Bali dan Agama Hindu. Setiap kegiatan yang dilakukan di organisasi kepemudaan ini, menjadikan aspek-aspek kebudayaan dan agama sebagai pedoman mereka. Melalui sekaa truna ini juga truna-truni bisa menumbuhkan rasa menyama braya yang lebih kental dikalangan mereka. Sekaa truna juga merupakan organisasi yang telah ada sejak dulu dan merupakan warisan turun temurun dari leluhur masyarakat Badung, dan sudah sepatutnya juga sekaa truna di pertahankan.

Kebudayaan yang ditanamkan memalui sekaa truna yang mampu membuat mereka menjadi yowana yang satwika, tidak bisa dimiliki oleh setiap truna-truni Badung karena tidak semua bahkan sangat sedikit yang bergabung dan aktif di organisasi kepemudaan ini. Sekaa truna memiliki peran penting utuk membentuk karakter dan kepribadian truna-truni Badung itu sendiri. Biarpun di sekolah sudah ada pembelajaran Budi pekerti, tapi itu tidak akan mampu membentuk karakter seorang remaja sepenuhnya menjadi seorang remaja yang memilliki kepribadian yang sesuai dengan kebudayaan dan agama Hindu. Remaja yang satwika, itu lah yang dibutuhkan gumi Badung ini untuk tetap Ajeg dan Berjaya. Bukannya remaja yang sibuk menjadi pengikut budaya asing yang jauh dari kebudayaan Bali umumnya. Tak sesuai dengan Kebudayaan tanah kelahiran truna-truni Badung itu sendiri.

Semakin lama, Bali umumnya semakin tergilas Globalisasi. Kebudayaan Badung semakin menipis. Kepribadian masyarakatnya juga semakin jauh dari kepribadian manusia Badung yang telah dibentuk oleh leluhur masyarakat Badung. Bali tak bisa menunggu lama lagi, membiarkan aset utamanya, para truna-truni Badung terseret arus Globalisasi. Kini saatnya seluruh sekaa truna yang ada di Badung di bangunkan kembali dari tidur panjangnya. Untuk membangungkan organisasi ini, pastinya diperlukan tekat yang kuat dari truna-truni Badung sendiri. Tekat ini seharusnya ada mulai sekarang karena gumi Badung tidak bisa menunggu lagi. Gumi Bali sudah merindukan geliat gelora truna-truni Badung.

Sudah saatnya remaja Badung kembali di berikan wadah,  dikumpulkan dan disatukan melalui organisasi kepemudaan warisan leluhur ini. Karna melalui sekaa trunalah para remaja Badung dapat menyelami kehidupan masyarakat Badung yang sesungguhnya. Kepribadian yang telah ditanamkan oleh leluhur masyarakat Badung selama berabat-abat juga ditanamkan dan dijadikan dasar dalam organisasi pemuda ini. Warisan ini harus tetap diturunkan ke generasi berikutnya. Maka dari itu melalui sekaa truna lah remaja-remaja ini mampu dibentuk menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang sesungguhnya. Melalui Sekaa truna juga mereka berlatih untuk menjadi orang-orang yang siap mengajegkan Gumi Bali pada umumnya, yakni dimuali dengan mengajegkan diri mereka menjadi manusia Bali yang sesungguhnya, manusia yang Satwika.

Implementasi Mempromosikan Re-Branding Desa Tibubeneng Bekerja sama dengan Stake holder, Karang Taruna , dan STP Bali

undefined

Sumber : instagram tibubeneng village ,2019

     Gambar : Observasi potensi wisata bersama Karang Taruna Desa Tibubeneng

           Pada tanggal 08-02-2019 , Sebagai wujud nyata implementasi membentuk rebranding Desa Tibubeneng , kami telah melakukan audiensi pembahasan materi bersama Bpk. I Made Dwijantara selaku pengelola Desa Tibubeneng dan Bpk. Made Kamajaya selaku Kepala Desa Tibubeneng. Materi yang dibahas yaitu :

             Menurut [email protected] , Perkembangan industri 4.0 yang merambah ke industri pariwisata sangat mempermudah pengguna internet untuk melakukan perjalanan wisata ke berbagai negara. Badung sebagai salah satu destinasi wisata favorit dunia membuat beberapa daerah didalamnya berkembang pesat terutama dikawasan Badung Selatan.

Salah satunya adalah Desa Tibubeneng. Letaknya yang diapit oleh kawasan Seminyak dan Canggu membuat Desa Tibubeneng banyak dikunjungi turis domestik maupun mancanegara.

           Hal tersebut menarik perhatian kami dari Mahasiswa Jurusan Manajemen Kepariwisataan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua untuk mengadakan studi lapangan di Desa Tibubeneng, yang terletak di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.

 

undefined

Sumber : dokumentasi pribadi, 2019

     Gambar : Bersama dengan Manager Bumdes Gentha Persada

          Trend pariwisata yang ada di Kabupaten Badung saat ini terjadi perpindahan arus pengembangan yang bisa dianggap gencar menuju daerah Badung bagian utara sampai ke barat, dalam hal ini yaitu Seminyak, Canggu dan Tibubeneng.

           Saya selaku ketua project studi lapangan Desa Tibubeneng , Alasan kami dengan team menjadikan Desa Tibubeneng sebagai lokasi studi karena saat ini Desa Tibubeneng sedang mencoba keluar dari belenggu brand Canggu. Yang dimana desa tibubeneng ini terdapat problema yang terjadi dalam brand Tibubeneng masih berada dibawah belenggu Canggu. Hal ini memacu inisiatif kami untuk turut berkecimpung dalam usaha Re-Branding Desa Tibubeneng.

         Tim yang beranggotakan 27 orang ini telah mengadakan studi lapangan selama 5 sampai 6 minggu dengan fokus pada tiga kegiatan yaitu melakukan sensus usaha-usaha pariwisata yang dimiliki oleh desa Tibubeneng yang akan menghasilkan database untuk mobile apps, membuat peta potensi Desa Tibubeneng, dan membantu melakukan promosi guna memperkuat brand positioning Desa Tibubeneng.

             Kami dari mahasiswa STP Nusa Dua bersinergi besar dengan Pengelola BUMDes Gentha Persada Tibubeneng I Made Dwijantara berkerjasama dengan Karang Taruna yang ikut serta melakukan survei ke beberapa tempat akomodasi wisata di Desa Tibubeneng sebagai wujud nyata kami melakukan pendataan usaha pariwisata yang ada di Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung. Adapun Respon positif yang sangat diapresiasi oleh Karang Taruna Desa Tibubeneng dalam membangun perkembangan pariwisata Desa Tibubeneng secara berkelanjutan sekaligus untuk melakukan Re- Branding Desa Tibubeneng di bawah belenggu Canggu di mata wisatawan.

           Diharapkan dengan hal tersebut dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata di Desa Tibubeneng secara berkelanjutan. Dan diharapkan brand positioning terhadap re-branding Desa Tibubeneng dapat berjalan dengan baik sehingga wisatawan mancanegara atau domestik lebih mengenal Desa Tibubeneng sebagai salah satu tujuan tempat wisata yang ada di Kabupaten Badung. Optimalisasi sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat lokal terutama Karang Taruna di Desa Tibubeneng dapat menjalankan desa tibubeneng kearah pariwisata yang berkelanjutan dan semoga desa ini dapat tercapai menjadi desa wisata yang akan berkembang untuk kesejahteraan ekonomi, sosial, budaya masyarakat lokal di Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung, Bali.

“THE KEY OF SUCCESSFUL TOURISM VILLAGE IS THE MOST SUPPORTING BY YOUNG LOCAL PEOPLES TO DEVELOP SUSTAINABLE TOURISM IN BADUNG REGENCY”

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana,Aina. 2016. https://ainamulyana.blogspot.com/2016/08/keragaman-suku-bangsa-dan-budaya-di_19.html(diakses pada tanggal 24 Maret 2019)

Dewi,Nitya,Anantawikrama Tungga, Trisna Herawati. Peran Sekaa Teruna Dalam Mensosialisasikan Nilai-Nilai Akuntabilitas Berbasis Kearifan Lokal Tri Hita Karana.e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 7 No: 1 Tahun 2017)

http://desatibubeneng.badungkab.go.id

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook