KulKulBali.co

Pantaskah Bunga Gemitir Digunakan Sembahyang?

dalam Kabar > Jembrana

👤90 read komentar 🕔18 Jul 2019

 

undefined

sumber : https://hindualukta.blogspot.com/2016/02/cara-membuat-canang-sari.html

Benarkah bunga gemitir pantang sebagai sarana persembahyangan oleh umat Hindu?

Banyak orang yang bertanya – tanya, apakah semua itu benar? Ada yang mengatakan semua itu benar dan tidak, tapi sering kali kita melihat orang-orang bersembahyang memakai bunga gemitir dan saya sempat bertanya kepada seorang guru agama dan memberi penjelasan akan hal itu.

Bunga dikatakan sebagai sarana persembahyangan yang sangat penting selain dupa dan air (tirta). Bunga sebagai lambang Tuhan diletakkan di ujung cakupan tangan pada saat menyembah dan sesudahnya bunga tersebut diletakan di atas kepala atau disupingkan di telinga dan terkadang digunakan sebagai sarana persembahan atau sesajen. Bunga perlambang ketulus iklashan dan kesucian hati untuk menghadap kepada sang pencipta. Fungsi bunga berbeda beda tidak setiap bunga bisa dipakai sebagai sarana persembahyangan karena itulah ada bunga yang pantang untuk di gunakan sebagai saran persembahyangan.

Pantangan penggunaan bunga tersebut lebih mengacu pada konsep kesucian yaitu harus bersih,mekar dan harum. Dan lebih lanjut dijelaskan hal tersebut dikarenakan mitos yang berkembang bahwa bunga gemitir berasal dari darah Dewi Durga, hal ini dikarenakan bunga ini tidak mau menerima penglukatan dari Dewa Siwa , karena itulah Dewa Siwa mengutuk bunga gumitir agar tidak digunakan sebai sarana persembahyangan. Namun secara akademis, bunga yang pantang digunakan ini memiliki bentuk bunga besar. Dan bentuk yang besar ini jarang digunakan oleh orang orang.

Secara prinsip, bunga yang tidak disarankan untuk digunakan sebagai sarana persembahyangan yakni bunga yang:

  • Bunga yang sudah layu
  • Bunga yang jatuh dengan sendirinya/ yang sudah gugur
  • Bunga yang dimakan semut, ulat atau dimakan serangga
  • Bunga yang tumbuh di kuburanBunga yang belum kembang

 Itulah bunga yang tidak patut digunakan sembahyang. Khusus untuk bunga yang dimakan semut atau ulat. Secara logis bunga yang dimakan ulat atau semut tentu tidak bersih lagi. Mungkin bunga itu ada kotoran dari serangga tersebut. Dan juga, bila disumpangkan ke sela telinga, nantinya telinga bisa kemasukan ulat atau semut. Dan karena itu bunga tersebut pantang digunakan sembahyang.

Pantangan menggunakan bunga bunga tersebut sebetulnya lebih didasari pada konsep bunga sebagai persembahan ke hadapan Tuhan sehingga mestilah bunga tersebut harus:

  • Suci
  • Mekar sempurna
  • Bersih
  • Harum

Dan itulah bunga yang patut digunakan sebagai sarana sembahyang, dan juga buga mekar dan wangi sebagai lambang aksara suci. Sering kali kita melihat di gunakan pada sebuah canang. Dan ada orang yang mengatakan jika membuat banten atau canang untuk dihaturkan di Pura Dalem maka tidak diperbolehkan menggunakan bunga gemitir, namun jika digunakan untuk persembahyangan di merajan atau selain pura Dalem hal itu diperbolehkan.

Dan juga diharapkan sebisa mungkin tidak menggunakan bunga gemitir  sebagai bunga untuk tirta atau memercikan tirta karena bunga ini cepat membusuk jika kena air dan menyebabkan bibit penyakit.

Dan uraian ditatas dapat disimpulkan bahwa bunga merupakan saran bagi umat Hindu yang sangat penting,namun perlu diperhatikan bunga yang bagaimana dan jenis apa saja yang boleh dipergunakan, jadi mengenai tidak diperbolehkannya sebagai sarana persembahyangan dan upacara di Bali dapat kita ketahui jawabannya secara pasti. Bunga gemitir sudah jelas dijelaskan di atas boleh digunakan sebagai sarana upacara namun harus kembangnya utuh dan warnanya kekuning-kuningan.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjawab pertanyaan pertanyaan dari semua orang. Jika ada kesalahan kata atau kata yang kurang dimengerti mohon dimaklumi dan terima kasih.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook