KulKulBali.co

Peran Lingkungan (Keluarga, Sekolah, dan Sosial) Sebagai Faktor Pembentuk Generasi Muda Yang Cerdas, Berkualitas Serta Berbudi Pekerti Luhur

dalam Humanoria

👤32 read komentar 🕔07 Aug 2019

 

undefined

    Peran lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan seorang anak untuk tumbuh berkembang menjadi seorang yang dipandang cukup dewasa baik fisik maupun mental. Menumbuhkembangkan pendidikan seorang anak menuju kedewasaannya menjadi tanggung jawab utama orang tua di rumah, dan ketika memasuki usia sekolah, menjadi tanggung jawab guru selama di sekolah, dan lingkungan sosial ketika ia hidup bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat.

   Berkenan dengan tiga faktor lingkungan di atas, tulisan ini berusaha untuk memberikan peran masing-masing tiga komponen utama yang merupakan komponen pendidikan, karena seorang anak tidak dapat melepaskan diri dari ketiga komponen tersebut. Seorang anak tidak akan pernah dewasa bila ia tidak memiliki orang tua atau orang tua asuh yang mendidik dan mengasuh mereka sampai menjadi seseorang yang disebut dewasa. Demikian pula sekolah, para guru memiliki tanggung jawab tidak hanya sebagai pengajar, melainkan lebih penting perannya adalah sebagai pendidik, oleh karena itu, pendidik disebut guru, yang di dalam Bahasa Sanskerta berarti “yang memiliki tekanan atau tanggung jawab yang besar dan berat”. Demikian pula lingkungan sosial, sangat pula menentukan keperibadian seorang anak ketika anak itu tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan. 

   Pada zaman generasi milenial saat inipengaruh teknologi seperti media informasi, aliran uang dari negara kaya ke negara miskin, dan pengaruh ideologi seperti HAM dan demokrasi tidak dapat dihindari oleh masyarakat dan  kebudayaan Bali.

    Sentuhan budaya zaman ini menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan atau kehilangan orientasi (disorientasi) dan dislokasi hampir pada setiap aspek kehidupan .Umat manusia telah mulai memasuki zaman Kaliyuga  dimana Kata Kaliyuga berarti zaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan  memuaskan nafsu indrawi  dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia. Ciri zaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada zaman ini yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka.

  Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur karena dimana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia, yaitu pada: kekuasaan (politik), minuman keras, perjudian, dan harta benda/kekayaan . 

   Maka kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya dengan cara menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang positif menjadikan hidup manusia lebih baik lagi, tetapi lebih dari itu, pengembangan pengetahuan hendaknya pula dapat mengembangkan keperibadian seorang anak. Pendidikan anak dapat ditemukan dalam ajaran suci Veda dan susastra Hindu lainnya. Dalam pendidikan Hindu, anak menjadi pusat semua aktivitas pendidikan itu.

   Kata anak dalam bahasa Sanskerta adalah “putra” Kata “putra”pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga.Disebutkan bahwa seorang anak merupakan pengikat talikasih yang sangat kuat di dalam keluarga, ia merupakan pusat menyatunya cinta kasih orang tua. Apakah yang melebihi cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya, mengejar  mereka, memangkunya, merangkul tubuhnya yang berdebu dan kotor (karena bermain-main). Demikian pula bau yang lembut dari bubuk cendana, atau sentuhan lembut tangan wanita atau sejuknya air, tidaklah demikian menyenangkan seperti halnya sentuhan bayi sendiri, memeluk dia erat-erat.

undefined

    Sungguh tidak ada di dunia ini yang demikian membahagiakan kecuali seorang anak, lahirnya seorang anak maka seseorang akan memperoleh kebahagiaan abadi, bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa maka utamanya pendidikan moral dan budi pekerti sangat penting ditanamkan bagi seorang anak.

“Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam keluarga terdapat putra yang Suputra”

 “Asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumur lima tahun, berikanlah hukuman (pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (16 tahun) didiklah dia sebagai teman”

    Demikianlah idealnya, setiap keluarga mendambakan anak idaman, berbudi pekerti luhur, cerdas, tampan, sehat jasmani dan rohani dan senantiasa memberikan kebahagiaan kepada orang tua dan masyarakat lingkungannya. Sebaliknya tidak semua orang beruntung mempunyai anak yang “suputra”. Di dalam menghadapi penderitaan duniawi, tiga hal yang menyebabkan seseorang memperoleh kedamaian, yaitu: anak, istri dan pergaulan dengan orang-orang suci. Bagaikan bulan menerangi malam dengan cahayanya yang terang dan sejuk, demikianlah seorang anak yang suputra yang memiliki pengetahuan rohani,insyaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra yang demikian itu memberi kebahagiaan kepada keluarga dan masyarakat.

    Demikianlah dapat dinyatakan bahwa ajaran suci Veda memandang anak atau putra sebagai pusat perhatian dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam  hal ini, pada umat Hindu di Bali meyakini, bahwa karakter seorang anak sangat pula ditentukan oleh kedua orang tuanya, lingkungannya dan upacara-upacara yang berkaitan dengan proses kelahiran seorang anak.Lebih jauh tentang betapa pentingnya pendidikan budi pekerti atau pendidikan tentang tingkah laku (diberikan kepada seorang anak sejak dini) .

      Dengan ini dapat disimpulan bahwa perilaku yang baik (berbudi pekerti luhur) adalah tugas yang utama (Dharma) yang mesti dilakukan oleh setiap orang. Seseorang yang berperilaku tidak baik terjerumus ke jurang kehancuran di dunia ini atau nanti di alam sana. Bukan pahala dari pertapaan, bukan pula ajaran suci Vedayang dapat menyelamatkan seseorang yang mengingkari (tidak) berperilaku yang baik. Ajaran suci Veda tidak akan menyucikan orang yang tidak berperilaku  baik, walaupun ia telah mempelajarinya cukup lama, dan pada saat kematian  ajaran suci Veda meninggalkan orang yang durjana, seperti seekor burung yang terbang dari sarangnya, setelah sayapnya tumbuh sempurna.

    Kesenangan apakah yang diperoleh oleh seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan (termasuk Veda) lengkap dengan tambahan penjelasannya (Vedaoga) demikian pula segala kehormatan yang diberikan kepada Brahmaoa durjana, seperti hal istri yang cantik dari seorang suami yang buta?” Orang yang tidak berbudi pekerti yang luhur. Ajaran suci Veda jangan disampaikan kepada seseorang yang curang yang selalu melakukan penipuan, namun (bagi yang berbudi pekerti luhur) walaupun hanya dua suku kata Veda yang dipelajarinya secara baik, akan menyucikan yang bersangkutan, seperti mendung (yang sangat kurang) Orang yang tidak berbudi pekerti luhur dicela di dunia ini, dan terus menerus memperoleh penderitaan, dirundung penyakit dan mati sebelum waktunya. Pengamalan ajaran agama membuahkan pahala melalui perbuatan baik (budi pekerti yang luhur, kekayaan dan kemakmuran diperoleh melalui perbuatan yang baik, budi pekerti yang luhur, seseorang memperoleh keberuntungan  melalui perilaku yang baik, budi pekerti yang luhur.

     Perilaku yang baik dan budi pekerti yang luhur melenyapkan semua hal-hal yang tidak baik. Seseorang yang mengikuti perilaku dengan budi pekerti yang  luhur, yang memiliki keyakinan yang mantap, yang bebas dari kedengkian, hidup dengan panjang umur mencapai 100 tahun, meskipun ia miskin dari semua tanda keberuntungan. Hanyalah untuk melebur perbuatan buruk menjadi baik adalah manfaatnya menjelma sebagai manusia. Bila kita bandingkan dengan air yang kotor di dalam gelas (perbuatan buruk dalam diri manusia), maka tidak ada jalan lain lagi membersihkannya, kecuali di tambahkan air yang jernih pada gelas yang airnya kotor, pada saatnya air dalam gelas akan jernih seluruhnya.

       Hanya dengan berbuat baik yang sebanyak-banyaknya, melenyapkan pahala dari karma-karma buruk sebelumnya. Demikian keutamaan melakukan perbuatan baik, berbudi pekerti yang luhur. Seorang anak tumbuh menjadi generasi muda yang cerdas, berkualitas dan berbudi pekerti yang luhur bila yang bersangkutan mendapatkan pendidikan yang baik, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan sosialnya.

 

 

Editor : Maha Dwija Santya

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook