KulKulBali.co

[JBK2014] Pohon Dengan Saput Poleng Bukan Sekedar Tempat Sakral Di Bali (Suatu Kajian Alih Fungsi Lahan yang Memprihatinkan)

dalam Kabar > Klungkung

👤2117 read komentar 🕔03 May 2014
[JBK2014] Pohon Dengan Saput Poleng Bukan Sekedar Tempat Sakral Di Bali (Suatu Kajian Alih Fungsi Lahan yang Memprihatinkan) - kulkulbali.co

Tulisan ini adalah karya Devi Susanti, Finalist Jegeg Bagus Klungkung 2014. Karena sifatnya kompetisi, editor tidak merubah struktur, sekadar membenahi beberapa typo. Yay! Selamat menikmati.

(kulkulbali)

 

Bali yang dulu dikenal sebagai pulau dewata dengan seribu pura yang asri, nyaman, sejuk dan sakral karena di sekitar alamnya masih sangat rindang. Pura tersebut dapat dilihat mulai dari tingkat perumahan, sawah-sawah, perbukitan, tepi laut, bahkan sampai di pegunungan. Sungguh menakjubkan jika dilihat dari udara. Sekarang sudah tidak seperti itu lagi.

Hamparan hijau yang dulu memenuhi pulau Bali, yang dimulai dari tepi pantai yang dipenuhi dengan tanaman bakaunya sekarang sudah berkurang dalam jumlah yang memprihatinkan, banyak pantai Bali yang mengalami abrasi. Hamparan sawah yang hijau, banyak yang sudah dijadikan lahan putih/ beton, seperti perumahan, areal pabrik, BTN, dan villa-villa yang berdiri berdesakan. Lahan tegalan dan perbukitan kasusnya hampir sama dengan lahan pertanian. Intinya, lahan produktif dan pelindung serta daerah resapan banyak beralih fungsi menjadi bangunan. Rata-rata alih fungsi lahan pertanian di Bali mencapai 300 hektar per tahunnya (Antara, Bisnis.com). Jika hal ini terus terjadi tanpa pengontrolan yang jelas, maka pulau Bali hanya akan tinggal cerita bagi generasi mendatang.

Dari zaman dulu, generasi masyarakat Bali yang ada telah melakukan konservasi wilayah dengan sistem adat dan subak yang ada. Sekarang sistem tersebut masih tergaung hanya dibeberapa daerah saja yang masih produktif dan masih berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan lokal maupun nasional. Di pantai banyak didirikan bebaturan danbahkanpura yang banyak terdapat pepohonan yang rindang. Pepohonan tersebut bahkan diberikan saput poleng oleh masyarakat yang berarti daerah yang sakral (tenget). Hal ini dilakukan bukan semata-mata masyarakat dulu tersebut memuja berhala atau ­kedewan-dewan, tetapi lebih cenderung pada upaya konservasi yang secara tidak langsung masuk dalam sistem tradisi masyarakat. Dengan disakralkannya tempat tersebut, maka tangan-tangan manusia akan berpikir untuk tidak menyentuhnya.

Hal serupa juga banyak dilakukan di daerah pertanian dan pegunungan. Di daerah pertanian sistem irigasi diatur dalam subak. Dengan adanya subak ini pengaturan pengairan untuk semua lahan menjadi merata, sehingga kesuburan tanah juga merata dengan resapan air yang stabil. Biasanya pada lokasi tertentu, utamanya di bagian hulu, petani akan mendirikan tempat pemujaan Dewi Sri selaku dewi kesuburan yang melindungi dan memberkati areal pertanian yang dikenal dengan Pura Ulun Suwi. Di pura ini juga biasanya petani memelihara pohon-pohon yang besar dalam areal yang cukup luas dan beberapa pohonya diberi saput poleng. Pohon ini bukan berarti tenget, tetapi lebih berfungsi untuk menyerap dan menahan air selama hujan, dan mengalirkanya secara perlahan kepada sawah-sawah di hilirnya dengan dibantu oleh sistem subaknya.

Sementara di Bali tempat yang paling banyak didirikan tempat pura adalah daerah perbukitan dan pegunungan. Dengan adanya tempat suci tersebut, otomatis dalam radius 5 Km sesuai dengan perda provinsi Bali No. 16 tahun 2009 adalah daerah sakral, terlindungi, dan tidak diizinkan untuk dibangunkan beton. Pohon-pohon yang berada di dekat pura tersebut pun  banyak dan harus juga diisi saput poleng. Jika hal ini dapat dipenuhi oleh semua pihak, maka secara otomatis pula akan menjadi lahan hijau alami dan lahan yang dihijaukan dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan adanya lahan hijau ini keasrian alam Bali dalam menunjang sistem religi dan tradisi masyarakat akan lebih optimal.

Namun sekarang kenyataanya adalah lain, banyak pohon yang ditebang, saluran irigasi terganggu oleh beton, dan menyempitnya lahan yang disakralkan. Hal ini tentunya dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai alasan disamping lemahnya pengawasan pihak yang berwenang. Bahkan Wakil gubernur Bali, Ketut Sudikerta mengatakan “sejauh ini, peraturan daerah yang mengatur hal itu seperti Perda No 16 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali kurang tegas mengatur sanksi” (Antara, Bisnis.com).

Berbagai alasan yang diberikan masyarakat dalam hal ini. Alasan utamanya adalah karena kebutuhan ekonomi, lahan sawahnya dijual dibeli oleh investor atau pengembang untuk dibanguni beton-beton. Namun ironisnya, pihak berwenang seolah-olah masih tutup mata dalam menegakan aturan. Banyak lahan yang harusnya menjadi lahan hijau yang produktif mendapatkan izin didirikan bangunan. Demikian pula dengan lahan-lahan yang banyak pepohonan dengan saput polengnya telah banyak berkurang.

Jika hal ini terus dibiarkan, permasalahan yang akan muncul ke depan adalah terjadinya diequilibrium dan degradasi lingkungan alam Bali dan bahkan sampai juga pada lingkungan masyarakat dengan sistem adat, subak, dan tradisinya akan menjadi kacau, bahkan hilang. Hal ini terjadi karena kebutuhan sarana yang harusnya mudah didapatkan dari alam tidak lagi tersedia. Sarana yang diperlukan punah karena lingkungan alam yang buruk. Lingkungan alam yang buruk tentunya tidak akan mendukung kehidupan manusia, seperti udara yang panas seperti yang kita rasakan saat ini di siang hari yang semakin panas, panen petani berkurang, munculnya berbagai penyakit ganas, sampai iklim dan cuaca yang tidak menentu dan tidak sesuai dengan musimnya.

Maukah kita hal tersebut terjadi? Apa yang harus kita lakukan sebagai generasi saat ini untuk generasi mendatang? Sesuai dengan hukum karmaphala yang begitu kental diyakini di Bali, siapa yang berbuat, dia pula yang akan menerima hasil baik atau buruknya. Juga sesuai dengan hukum reinkarnasi, kita sebegai generasi sekarang berbuat, kita juga sebagai generasi mendatang sebagai inkarnasi yang menerimanya. Saat ini kita hancurkan, saat berikutnya kita menerima kehancuran itu.

Berdasarkan hal itu, alam Bali telah menunggu kita untuk melalukan tindakan preventif dan kuratif dengan menjaga-mengkonservasi yang sudah ada, dan memperbaiki yang rusak yang masih toleran terhadap perkembangan zaman. Coba dipikir, kalau bukan kita sebagai generasi muda yang masih aktif dan produktif, siapa lagi yang dapat melakukan itu. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga harus mendukung program-program penghijauan dengan mengalokasikan anggaran dana secukupnya. Masyarakat juga harus sadar untuk melestarikan lingkungan yang dapat dimulai dari tempat tinggalnya, dan jangan melihat kenikmatan sesaat dengan mengeksploitasi alam.

Mari buat sengkedan hidup di tepi pantai, terasering hidup di daerah pegunungan utamanya yang rawan longsor, buat saluran irigasi sawah yang baik dengan mempertahankan pepohonan di hulunya, rindangkan taman-taman yang dapat dimulai dari rumah kita masing-masing, reboisasi hutan yang gundul dan tandus, dan utamanya adalah pertahankan dan ganti secara berkala pohon-pohon dengan saput poleng-nya, untuk keberlangsungan hidup generasi Bali sekarang dan mendatang.

Editor : Dewa Made Cakrabuana Aristokra
Topik : ##jbk2014

Komentar

kulkulbali.co

Twitter

Facebook