Oleh : I Nyoman Cakra Wibawa, S.KM

(Relawan Klinik Remaja KISARA PKBI Daerah Bali)

 

Ketakutan begitu disarankan tes HIV bukanlah hal yang mengherankan. Banyak orang merasa ketakutan ketika mendengar tes HIV, masyarakat akan membayangkan hal yang buruk ketika mendengar tes yang satu ini. Hal buruk itu seperti ketakutan akan hasil yang didapatkan setelah melakukan tes HIV, padahal tes HIV merupakan salah satu jenis tes untuk mengetahui status kesehatan kita lho...

Jangan terlalu menganggap tes HIV adalah tes yang mengerikan bagi kita, jika kita menganggap bahwa tes HIV adalah bagian dari tes kesehatan seperti tes kesehatan lainnya yang berguna untuk mengetahui status kesehatan kita akan suatu penyakit maka tidak akan ada lagi ketakutan akan tes HIV.

Tes HIV atau yang biasa disebut VCT (Voluntary Counseling and Testing) adalah tes yang dilakukan secara sukarela oleh seseorang yang ingin mengetahui status HIVnya. Tes HIV memberitahu kita apakah kita terinfeksi HIV yaitu virus penyebab AIDS.

 

Bagaimana sih Proses Tes HIV itu ?

Singkatnya tes HIV itu terdiri dari 3 tahap yaitu pre test, pemeriksaan darah dan post test.

  1. Pre Test :

Dalam pre test ini setiap orang yang ingin melakukan tes HIV akan diberikan konseling terlebih dahulu oleh seorang konselor yang terlatih. Dalam konseling ini konselor akan memberi informasi dasar tentang HIV dan AIDS, manfaat dan kerugian kita mengetahui apakah kita terinfeksi, dan bagaimana kita akan bereaksi jika nanti hasilnya positif. Setelah itu, kita diminta menyetujui sebelum darah diambil (sering disebut informed consent). Dalam pre test ini bisa saja klien tidak melanjutkan proses selanjutnya dalam tes HIV, tetapi setelah diberikan informasi yang benar biasanya klien akan melanjutkan tes HIV ini karena confidentiality (kerahasiaan) harus diyakinkan ke klien.

  1. Pemeriksaan Darah :

Setelah dikonseling dan klien bersedia untuk melanjutkan tes HIV, proses selanjutnya adalah pemeriksaan darah. Klien akan diambil darahnya dengan  jarum sekali pakai oleh petugas kesehatan yang ada di klinik VCT. Pemeriksaan darah yang digunakan biasanya adalah tes cepat atau rapid test, namun ada juga jenis pemeriksaan lainnya seperti tes Elisa. Rapid test mampu menyediakan hasil dalam 20-30 menit setelah contoh darah diambil.

  1. Post test :

Proses yang terakhir ini adalah pembahasan hasil pemeriksaan darah dengan petugas konselor pada klinik VCT. Dalam post test ini petugas konselor membuka hasil pemeriksaan darah di hadapan klien secara langsung. Hasilnya hanya boleh diberikan pada klien, dan tidak boleh diberikan pada orang lain tanpa persetujuan klien. Dalam post test ini konselor akan membahas tindak lanjut apa yang bisa dilakukan setelah si klien menerima hasil testnya. Apapun hasil testnya, negatif (non reaktif) atau positif (reaktif) konselor akan membahas tindak lanjut ini. Apabila hasil tes negatif maka bisa dilakukan test ulang lagi (3 atau 6 bulan kemudian) untuk memastikan apakah klien ada dalam masa jendela HIV (window periode) atau tidak. Apabila hasil positif maka klien akan mendapatkan pemeriksaan selanjutnya seperti pemeriksaan CD4 dan mendapatkan pengobatan atau terapi ARV (antiretroviral : obat untuk menekan perkembangan virus HIV). Hasil positif ataupun negatif maka klien juga disarankan untuk tidak berperilaku berisiko tertular HIV lagi seperti tidak berganti-ganti pasangan seksual dan menggunakan kondom saat berhubungan seksual yang berisiko ataupun tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dimana hal ini dapat menularkan HIV

 

Siapa yang sebaiknya dites?

Kita perlu melakukan tes HIV jika kita pernah berhubungan seks tanpa kondom, berganti-ganti pasangan seksual, pernah terinfeksi penyakit kelamin atau Infeksi Menular Seksual dan pernah memakai narkoba suntik.

Apakah kalian pernah melakukan salah satu diantara perilaku berisiko tertular HIV diatas??? Kalau iya dan kamu siap untuk dites maka silahkan dikonsultasikan ke klinik VCT yang ada di sekitarmu. Klinik VCT ada di beberapa Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah, beberapa klinik Swasta dan LSM (salah satunya di KISARA PKBI Bali juga ada lho).

Kalau aku masih remaja dan pernah melakukan perilaku berisiko diatas bagaimana? Jangan takut, setiap klinik VCT memiliki konselor yang terlatih untuk menjaga konfidensialitas (kerahasiaan) kliennya, siapapun itu termasuk kamu yang masih remaja.

 

Pentingnya Tes HIV

Sudah jelas kan kenapa tes HIV itu penting? Karena ini untuk kesehatan kita, semakin kita tahu status HIV kita, maka kita akan semakin tahu bagaimana kita mencegahnya agar tidak tertular (jika negatif) dan tidak menularkan ke orang lain ke orang lain (jika positif). Dan apabila kamu memiliki pasangan yang juga pernah melakukan perilaku yang berisiko, sebaiknya ajak juga pasanganmu untuk melakukan tes. Intinya jika sudah berperilaku berisiko sebaiknya lakukan tes HIV...tapi ini tergantung kalian juga sih, karena tes HIV ini tidak ada paksaan harus sukarela, sesuai namanya VCT (Voluntary Counseling and Testing), konseling dan tes HIV sukarela.