
http://phdi.or.id/images/artikel/1018.jpg
Menyelami adat istiadat masyarakat Bali sangatlah menarik, mengingat Bali dikenal dengan masyarakatnya yang secara konsisten memegang teguh adat istiadatnya. Pada dasarnya, adat istiadat dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama hindu. Adat istiadat di Bali pun sesungguhnya menjungjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan keharmonisan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan manusia (pawongan), manusia dengan lingkungan (palemahan), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan/kesejahteraan). Berbicara mengenai adat istiadat, banyak adat istiadat yang ada di tanah dewata salah satunya adalah Menyama Braya.
Menyama Braya sering dijumpai bahkan diterapkan oleh masyarakat di Bali. Proses Menyama Braya dapat diamati ketika terjadi sebuah upacara keagamaan salah satunya upacara pawiwahan (pernikahan). Upacara semacam ini tidak terlepas dari campur tangan krama (warga) yang ada di masing-masing banjar/tempek. Biasanya krama berperanbeberapa hari menjelang upacara pernikahan. Kegiatan Menyama Braya dalam kehidupan masyarakat Bali disebut dengan ngayah. Ngayah yang berarti membantu, merupakan keharusan bagi warga yang sudah menjadi bagian dari krama Bali.

http://1.bp.blogspot.com/-u5OneQQX7pM/UK2lv8OGHyI/AAAAAAAADus/pzT410SZO44/s1600/Ngayah+in+Bali.jpg
Ngayah sudah menjadi suatu sistem di desa adat yang kegiatannya terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan. Ngayah inilah yang dilakukan beberapa hari sebelum upacara. Ada yang mendapat tugas membuat banten (sarana dan prasarana upacara), ada pula yang mendapat tugas memasak. Di sinilah dapat dirasakan proses menyama braya itu nyata adanya. Dari tidak kenal menjadi kenal, dari tidak saling sapa menjadi saling sapa, bahkan dari tidak akrab menjadi akrab. Ini terbukti ajaran agama Hindu Tri Hita Krana yaitu pawongan yang berarti hubungan harmonis antara manusia dengan manusia telah diterapkan.
Namun suatu krisis maha besar akibat kecanggihan teknologi, ideologi, dan ekonomi yang tiada taranya sedang terjadi. Hal ini muncul tidak terlepas dari karakter masyarakat Bali secara individu memandang ngayah adalah hal yang sepele. Hukum adat yang ada di Bali pun tidak terlalu ditakuti oleh masyarakat. Bahkan ada yang memilih bekerja daripada Ngayah walaupun nantinya dikenakan salahan/denda. Ada pula yang berani bayar salahan dan tidak ikut ngayah karena memandang jumlah denda yang sedikit. Inilah yang menyebabkan terkikisnya adat istiadat di Bali akibat besarnya pengaruh gaya hidup.
Lebih-lebih pada saat ini, ketika upacara Manusa Yadnya (pawiwahan/pernikahan) terselenggara, tuan rumah cenderung menggunakan catering yang nyata-nyata lebih besar pengeluaran daripada mengerahkan krama yang lebih minim pengeluaran dan tetap menjalin Nyama Braya. Kemudian, banten (sarana upacara) dibeli dengan jumlah yang besar, padahal di masing-masing desa ada serati (orang yang ahli dalam pembuatan sarana upacara) yang sudah barang tentu mengerahkan krama. Lain lagi dengan upacara Pitra Yadnya yaitu upacara kematian yang sudah dapat dilakukan dengan cara kremasi, Ngayah mungkin saja tidak harus capek-capek dilakukan. Pada intinya, masyarakat Bali sudah tidak takut lagi dengan hukum adat, sebab catering sudah ada, kremasi sudah ada. Semakin individuallah masyarakat Bali.
https://desategallinggah2014.files.wordpress.com/2014/07/dscn2335.jpg
Melihat nilai-nilai luhur yang kian terpuruk, maka sebagai generasi penerus, hal yang dapat dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai luhur yaitu dengan cara ikut aktif dalam kegiatan sekaa teruna teruni yang ada di daerah masing-masing, semisal turut ngayah di pura ketika ada upacara keagamaan. Apabila dari remaja saja sudah tertanam pemahaman tentang ngayah dan matetulung, maka tiba saatnya nanti ketika sudah berkeluarga dan menjadi krama, ngayah akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Pada intinya, generasi mudalah yang bergerak aktif dan mulai menanamkan nilai-nilai luhur seperti ngayah dan matetulung yang mengarah ke perilaku krama Bali di dalam segala aspek kehidupan.
Saya Ni Made Mita Anggraeyani
Perwakilan Jegeg Jembrana
Salam dari Bumi Makepung
Komentar