Pengenalan dan Motivasi
Hai, Om Swastiastu! Channel Indotimes dibuat dengan niat tulus untuk mengumpulkan, mengkaji, dan mendokumentasikan sejarah, pengetahuan suci, serta filsafat rohani Weda Hindu. Jika kalian menyukai konten kami, jangan lupa untuk like, subscribe, dan bagikan!
Latar Belakang Pencarian
Selama beberapa tahun terakhir, kami telah menyelidiki keberadaan Kerajaan Balingkang, sebuah entitas semi-mitos yang mendalam di dalam kesenian Bali klasik seperti Barong Landung dan berbagai tarian serta upacara adat. Meskipun jarang disebutkan dalam prasasti, nama Kerajaan Singamandawa muncul sebagai entitas penting dalam sejarah Bali.
Eksplorasi ke Desa Tua di Kaldera Batur
Pagi itu, kami berangkat menuju kaldera Batur, tepatnya ke desa tua di sisi Barat Daya gunung yang dingin, yang dikenal sebagai Pukuh. Desa ini, bagian dari Bayunggede, merupakan rumah bagi Bali Aga yang masih mempertahankan tradisi unik mereka.
Nama desa kami kenal dari artikel penelitian arkeologi tahun 2020, yang menyebutkan penemuan prasasti kuno baru-baru ini di Pukuh. Prasasti ini menjadi rujukan utama kami dalam upaya kami untuk mengungkap misteri Kerajaan Balingkang.
Penemuan Prasasti Pukuh dan Eksplorasi Lebih Lanjut
Prasasti Pukuh, dikeluarkan oleh Raja Kesari Warmadewa pada tahun 835 Saka (913 Masehi), menjadi bagian penting dalam upaya kami menguak sejarah Kerajaan Balingkang. Sejalan dengan Prasasti Blanjong di Sanur dan Prasasti Penempahan Desa Manukaya, prasasti ini mencatat kemenangan Raja Warmadewa atas musuhnya.
Teori dan Legenda seputar Kerajaan Balingkang
Dalam legenda Bali, Kerajaan Balingkang dipercaya terletak di sekitar Danau Batur, dengan Raja Jayapangus sebagai penguasanya. Legenda mencatat bahwa kerajaan ini hanyut dalam banjir besar, memaksa raja dan ratunya, Kang Cing UI (Ratu Subandar), mendirikan istana baru di wilayah yang kini dikenal sebagai Peceng Mayo.
Jayapangus dan Kancingwi, putri saudagar Cina, dikutuk menjadi patung yang kini dikenal sebagai Barong Landung. Setelah hancurnya Balingkang, muncul tokoh baru, Mayadanawa, yang mendirikan Kerajaan di Bedahulu, sekitar 30 km di sebelah barat daya Kaldera Batur.
Perjalanan ke Museum Geopark Batur
Kunjungan kami ke Museum Geopark Batur bertujuan untuk memahami aktivitas vulkanik Gunung Batur sejak zaman kuno. Museum ini tidak hanya memamerkan peninggalan sejarah, tetapi juga memberikan wawasan tentang peradaban kuno yang pernah ada di sekitar Gunung Batur.
Edukasi tentang Risiko Bencana Alam
Kami juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana di wilayah ini, mengingat sejarah letusan gunung yang pernah terjadi. Keterlibatan masyarakat dalam pemahaman akan lingkungannya, terutama terkait aktivitas gunung berapi, menjadi kunci untuk menjaga keamanan dan keberlanjutan wilayah ini.
Pengungkapan Kerajaan Balingkang melalui Jalur Perdagangan Rempah
Kami menjelajahi jalur perdagangan rempah di Bali Utara, mengungkap sejarah pelabuhan-pelabuhan penting seperti Julah, Pacung, Manasa, dan Bungkulan. Pelabuhan-pelabuhan ini menjadi pusat ekspor-impor antar bangsa, mencerminkan kekayaan budaya dan perdagangan yang berkembang di masa lalu.
Penemuan di Pura Gambur Anglayang
Perjalanan kami melintasi desa-desa kuno seperti Sukawana, Sembiran, Julah, dan Jula, sebelum akhirnya mencapai Pura Gambur Anglayang di Kubutambahan. Pura ini menunjukkan keberagaman kepercayaan dan budaya yang berkembang di Bali kuno, mencerminkan interaksi antar etnis dan kepercayaan sejak zaman Warmadewa hingga Majapahit.
Komentar