Keluhan – keluhan warga seperti “Kenapa selalu banjir di kota ini” , “ Bau busuk ini sangat menyengat dan tidak nyaman” atau “Lingkungan ini tidak bersih dan tidak sehat” adalah sepersekian keluhan dari masalah yang ditimbulkan oleh sebuah benda yang paling dihindari masyarakat , yaitu sampah. Membahas mengenai sampah, masalah klasik yang dialami setiap kota di Indonesia atau bahkan di dunia, apakah sudah ada solusi untuk masalah klasik ini?

            Dampak sampah bagi manusia dan lingkungan sangatlah besar. Dampak bagi kesehatan yaitu menimbulkan berbagai macam penyakit antara lain : kolera, tifus, diare, penyakit jamur, dan penyakit yang berhubungan dengan cacing. Dampak bagi lingkungan yang tidak kalah serius seperti: polusi udara, polusi air, polusi tanah, dan global warming. Semua itu mengganggu sosial maupun ekonomi masyarakat terutama di Bali mengingat pulau ini adalah pulau yang mengandalkan pariwisata dan sampah dapat mengurangi nilai estetika.

            Kita tidak bisa hanya duduk diam dan mengkritik pemerintah. Mengeluh tentang banjir, bau tidak sedap, penyakit menular, dan menyalahkan program – program pemerintah yang dianggap tidak tepat. Salah satu contohnya pemerintah sudah menyiapkan tempat sampah untuk sampah non organik dan organik namun masih banyak masyarakat yang tidak peduli dan membuang sampah tidak sesuai dengan pemisahaannya. Masalah sampah membutuhkan kerjasama masyarakat dan pemerintah bukan hanya berada di tangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP).   Kumpul, pilah, olah, angkut, dan buang adalah paradigma pengelolaan sampah. Peran kita sebagai masyarakat sangatlah besar pada proses kumpul hingga olah.

            Komposter aerob adalah salah satu cara sederhana yang dapat kita pakai untuk menangani masalah sampah rumah tangga. Komposter adalah sebuah metode pengolahan sampah organik menjadi kompos yang kemudian bisa digunakan sebagai pupuk. Sebenarnya, konsep komposter ini sederhana saja, yaitu memanfaatkan kerja bakteri untuk menguraikan sampah, terutama sampah rumahtangga. Ketika kita terapkan volume sampah dari rumah berkurang mencapai 50% karena pemakaian komposter ini. Ini adalah angka yang cukup siginifikan, dan apabila tiap-tiap rumah tangga bersedia dan berkehendak melakukannya, maka volume sampah di tingkat lingkungan otomatis juga akan berkurang. Ini menjadi kabar baik untuk masalah persampahan, yang selama ini menjadi isu rumit terutama di lingkungan perkotaan yang padat hunian dan keterbatasan kapasitas dan metode pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

            Komposter aerob adalah sebuah tempat sampah buatan dari ember atau bahan lainnya yang berbentuk serupa yang kita lubangi kecil – kecil dan kita tutup rapat. Sampah organik dihancurkan atau dirobek halus kemudian dimasukan kedalam ember tersebut dan kita beri cairan EM4 (sebagai makanan bakteri untuk mempercepat proses penguraian sampah) yang kemudian ditutup rapat hingga beberapa minggu.

            Sebenarnya proses dan bahan yang digunakan untuk membuat komposter sangatlah sederhana dan mudah didapat di sekitar rumah tangga kita. Hanya dibutuhkan keinginan kuat dan komitmen untuk tetap berkelanjutan mengolahnya. Selain volume sampah dari rumah berkurang, kita juga mendapatkan manfaat dari kompos yang dihasilkan, sehingga kita tidak perlu membeli kompos lagi untuk kebun kecil di rumah kita atau bahkan kita bisa jual pupuk tersebut. Slogan From Trash to Cash pun bisa kita rasakan sendiri. Sudah saatnya bagi kita untuk melakukan tindakan nyata meski sederhana, untuk pengolahan sampah dan penghijauan, di pulau kita tercinta.

 

undefined